Jejak Rumah Sakit Simpang Surabaya, Tempat Lahirnya Dokter Hebat

Jejak Rumah Sakit Simpang Surabaya, Tempat Lahirnya Dokter Hebat

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 10:00 WIB
Rumah Sakit Simpang Surabaya
Rumah Sakit Simpang Surabaya. Foto: Begandring Soerabaia dari KITLV
Surabaya -

Bagi warga Surabaya, nama Rumah Sakit Simpang tentu bukan hal asing. Rumah sakit pertama di Surabaya ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan layanan kesehatan di Jawa Timur.

Meski bangunannya telah hilang dan berganti menjadi pusat perbelanjaan, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan melalui berbagai arsip dan foto yang tersimpan di Museum Sepuluh November.

Sejarah Rumah Sakit Simpang Surabaya

Mengutip dari beberapa sumber, Rumah Sakit Simpang mulai dibangun pada tahun 1808-an dan resmi ditutup pada 1923. Pada awal berdirinya, rumah sakit ini dikenal dengan nama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting atau Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat kemudian menjulukinya dengan nama Simpang Hospital atau Rumah Sakit Simpang. Pembangunan rumah sakit ini merupakan perintah Gubernur Jenderal Daendels, yang ingin menggantikan fasilitas kesehatan lama yang dinilai rendah dan pengap.

Rumah Sakit Simpang SurabayaRumah Sakit Simpang Surabaya Foto: Begandring Soerabaia dari KITLV

Selama masa operasionalnya, Rumah Sakit Simpang beberapa kali mengalami renovasi untuk meningkatkan pelayanan. Awalnya rumah sakit ini hanya diperuntukkan bagi pasien militer sebagai bagian dari Layanan Medis Militer (MGD).

ADVERTISEMENT

Namun seiring waktu, rumah sakit juga mulai menerima pasien sipil dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kondisi ini membuat jumlah pasien meningkat pesat, terutama saat wabah kolera melanda pada tahun 1868, di mana jumlah pasien melonjak hingga tiga kali lipat.

Selain itu, kedatangan pasukan militer yang terluka setelah ekspedisi Bali semakin menambah beban rumah sakit. Tidak heran jika fasilitas dan tenaga medis saat itu sering kewalahan menangani jumlah pasien.

Pada tahun 1913, pemerintah kolonial mendirikan sekolah kedokteran bernama Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di kompleks yang berdekatan dengan rumah sakit. Gedung NIAS masih berdiri hingga kini dan menjadi bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Melahirkan Dokter-dokter Hebat dari Bumi Putra

Rumah Sakit Simpang memiliki peran penting dalam sejarah dunia kedokteran Indonesia. Salah satu tokoh yang pernah bertugas di rumah sakit ini adalah dr Soetomo.

Rumah Sakit Simpang SurabayaRumah Sakit Simpang Surabaya Foto: Begandring Soerabaia dari KITLV

Mengutip jurnal Peran Dokter-dokter Bumi Putera Alumni STOVIA di Bidang Politik (1900-1930) karya Dita Wulan Sari, dr Soetomo dikenal sebagai sosok dokter yang mampu menggabungkan keterampilan medis dengan kiprahnya dalam pergerakan politik.

Ia menjadi salah satu tokoh penting yang menjembatani dunia kesehatan dengan semangat kebangsaan pada masa pergerakan nasional. dr Soetomo pernah bertugas di Rumah Sakit Simpang Surabaya, sekaligus membuka praktik khusus untuk menangani penyakit kulit dan kelamin.

Melalui berbagai aktivitas tersebut, ia tak hanya berperan sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dan kemajuan bangsa.

Rumah Sakit Simpang dalam Pertempuran Surabaya

Ketika Pertempuran 10 November 1945 terjadi, Rumah Sakit Simpang difungsikan sebagai tempat menampung para korban. Namun, karena minimnya tenaga medis dan kondisi keamanan yang memburuk, dr Soetopo memutuskan untuk memindahkan pasien ke luar kota.

Pemindahan tersebut dipimpin dr Soewandhi dan berlangsung selama satu minggu. Sebelum dievakuasi, para pasien diungsikan bersama perlengkapan medis menuju Malang dan Jombang.

Sekitar 1.000 pasien dipencar ke berbagai wilayah seperti Malang, Mojowarno, Sidoarjo, dan Jombang. Namun, tingginya jumlah korban membuat tenaga medis tidak mampu menangani semuanya. Dalam sehari, setidaknya 100 jenazah harus dikuburkan di halaman rumah sakit.

Mengutip arsip Surabaya Tempo Dulu, Rumah Sakit Simpang juga menjadi tempat rapat strategi pejuang Arek Suroboyo dan lokasi berkumpulnya para relawan dari luar kota yang tiba melalui Stasiun Gubeng.

Sayangnya, karena keterbatasan persenjataan dan pengalaman perang, para pejuang akhirnya harus mundur. Rumah Sakit Simpang kemudian berhasil dikuasai oleh tentara Belanda. Kini, lokasi bersejarah tersebut telah berubah menjadi Plaza Surabaya (Delta Plaza).

Tidak ada lagi bangunan asli Rumah Sakit Simpang yang tersisa. Namun, sejarahnya masih dapat ditelusuri melalui dokumentasi dan foto-foto lama yang ditampilkan di Museum Sepuluh November, sehingga kisah penting rumah sakit ini tidak hilang oleh zaman.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads