Bunker Tegalsari Surabaya menyimpan nilai penting dalam warisan sejarah kota. Bangunan peninggalan kolonial ini dulunya difungsikan sebagai tempat perlindungan dan pertahanan. Meski memiliki struktur kuat dengan karakter pertahanan yang khas, keberadaan bunker ini kerap luput dari perhatian masyarakat sekitar karena lokasinya yang berada di area permukiman padat.
Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri dan dilestarikan sebagai salah satu situs bersejarah. Namun, imbas kerusakan akibat aksi massa pada demonstrasi September 2025 lalu membuat kondisinya kembali memprihatinkan. Meski begitu, secara keseluruhan bunker masih tampak megah di tengah pusat Kota Surabaya. Berikut ulasan lengkap mengenai sejarah, struktur bangunan, dan kondisi terbaru Bunker Tegalsari.
Mengenal Bunker Tegalsari
Mengutip e-book Tempat-tempat Bersejarah di Kota Surabaya karya Purnawan Basundoro dan Dio Yulian Sofansyah, bunker merupakan benteng pertahanan militer yang dirancang untuk melindungi manusia maupun barang berharga dari serangan bom, artileri, hingga ancaman militer lainnya. Umumnya bunker dibangun di bawah tanah agar lebih aman dari serangan langsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan bunker meningkat tajam saat Perang Dunia I, Perang Dunia II, hingga masa Perang Dingin. Pada masa itu, bunker mengalami pergeseran fungsi: dari tempat perlindungan diri menjadi lokasi penyimpanan amunisi, pusat komando, hingga area perlindungan masyarakat di negara-negara yang rawan bencana, seperti Amerika Serikat.
Seiring perkembangan zaman, bunker kemudian mulai dimanfaatkan untuk kepentingan non-militer. Di sejumlah negara, fasilitas ini bahkan dikembangkan menjadi ruang komersial, tempat penyimpanan pribadi, atau area perlindungan bagi warga sipil, khususnya kalangan menengah ke atas.
Di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, terdapat beberapa bangunan bunker peninggalan kolonial. Salah satunya adalah Bunker Tegalsari yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai bagian dari Oud Ned-Indie Verdedigingssysteem atau sistem pertahanan Hindia-Belanda lama. Bunker ini dibangun sekitar tahun 1900-an bersamaan dengan pendirian kantor kepolisian Hindia Belanda-yang kini menjadi Markas Polsek Tegalsari.
Foto Lama Polsek Tegalsari Foto: Arsip Pribadi Achmad Zaki Yamani |
Konon, bunker ini tak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan, tetapi juga gudang logistik dan amunisi untuk keperluan kepolisian. Menurut pengamat sejarah Nur Setiawan, bunker pada masa itu diwajibkan ada pada setiap bangunan baru milik pemerintah maupun swasta sebagai standar pertahanan. Bunker Tegalsari sendiri dibangun oleh arsitek Belanda dengan tenaga kerja pribumi.
Meski demikian, bunker ini tidak pernah difungsikan sebagai markas pada masa genting. Saat Jepang masuk dan menguasai Nusantara pada 1942, pihak Belanda justru sudah terusir dari Surabaya sehingga bunker tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Bangunan Bunker Tegalsari
Bunker Tegalsari berdiri di area seluas sekitar 120 meter persegi. Di bagian depan, pengunjung dapat melihat bangunan utama dengan dinding bundar serta ventilasi yang mengelilingi bangunan. Plafonnya rendah, sementara bagian luar dinding dicat dengan warna putih krem khas bangunan kolonial.
Dua pilar memanjang mengarah ke pintu utama, membentuk lorong kecil sebagai jalur masuk. Pintu utamanya berwarna hijau dan terbuat dari besi tebal-menunjukkan karakter pertahanan kuat yang menjadi ciri bangunan bunker.
Bunker Tegalsari salah satu cagar budaya di Kota Surabaya Foto: Surabaya.go.id |
Bagian atapnya terbuat dari beton berbentuk segi delapan. Tak jauh dari bangunan utama, terdapat bunker lain yang menyerupai lorong menuju ruang bawah tanah, berjarak sekitar lima meter dari bunker utama. Pada bagian langit-langit bunker terdapat lubang khusus yang diperkirakan dulunya difungsikan untuk pengintaian atau sirkulasi udara tambahan.
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya
Bunker Tegalsari telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Wali Kota Surabaya pada 23 September 2015. Sebelum direvitalisasi, area bunker sempat mengalami mati suri akibat kurangnya perawatan. Tanaman liar tumbuh di sekitarnya, dan kondisi bangunan memburuk dari waktu ke waktu.
Pada masa Wali Kota Tri Rismaharini, revitalisasi dilakukan pada 2020 dengan anggaran sekitar Rp200 juta. Meski sempat terkendala pandemi COVID-19, proyek ini akhirnya selesai pada 2021. Revitalisasi dilakukan tanpa mengubah struktur asli karena bangunan cagar budaya dilarang dibongkar besar-besaran. Perbaikan hanya difokuskan pada bagian lantai, dinding, perbaikan kebocoran, serta pengaturan landscape. Pemkot juga menambah fasilitas toilet untuk pengunjung.
Sebelumnya, bunker ini digunakan sebagai kantor Satgas PU Bina Marga lalu berganti menjadi gudang peralatan siaga bencana BPB Linmas. Setelah direnovasi, bunker dimanfaatkan sebagai co-working space dan area penjualan produk UMKM.
Kondisi Terkini Bunker Tegalsari
Suasana Terkini Bunker Tegalsari Foto: Eka Fitria Lusiana/ detikjatim |
Saat detikJatim meninjau lokasi pada Rabu (3/12), kondisi bunker tampak memprihatinkan. Dinding bunker terlihat banyak terkelupas. Sampah berserakan di depan pintu utama hingga area belakang bangunan. Tanaman liar pun tumbuh subur di sekelilingnya.
Beberapa jendelanya tidak lagi berkaca, hanya ditutupi kayu-kerusakan yang terjadi akibat aksi massa pada demonstrasi September 2025 lalu. Untuk memberi penjelasan kepada masyarakat, kini terpasang sebuah banner di dinding bunker bertuliskan:
"Bangunan ini adalah Bunker Tegalsari yang merupakan peninggalan sejarah yang tak ternilai (Bangunan cagar budaya). Selama ini digunakan untuk aktivitas bersama warga. Mari kita jaga bersama dan kita lestarikan."
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian cagar budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat pun perlu ikut berperan menjaga agar peninggalan bersejarah seperti Bunker Tegalsari tetap terawat dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.
(ihc/abq)



