Tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) memberikan bantuan pemeriksaan kesehatan korban pascabencana di Kabupaten Bireuen, Aceh. Tim ini juga fokus memulihkan kesehatan mental anak.
Tim medis yang diberangkatkan dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan, di antaranya dua dokter muda, dua perawat, dan satu bidan. Kehadiran tenaga medis ini untuk membantu pelayanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi. Di sana, Tim UNUSA juga menggandeng IDI Cabang Bireuen.
Pemimpin kegiatan Achmad Syafiuddin dari Program Studi Kesehatan Masyarakat UNUSA mengatakan, masyarakat Pante Lhong, Peusangan, Bireuen mendapatkan berbagai layanan kesehatan. Yakni pemeriksaan dari dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis kedokteran jiwa, serta dokter spesialis bedah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pemeriksaan, masyarakat terdampak bencana juga memperoleh pengobatan sesuai indikasi medis. Tim UNUSA juga memberikan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya mendeteksi dini dan pencegahan penyakit.
"Tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tim ini juga memberikan perhatian serius pada kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak. Kegiatan trauma healing dilaksanakan secara langsung oleh dokter spesialis kedokteran jiwa. Aktivitas ini bertujuan untuk membantu pemulihan psikologis anak-anak, meningkatkan rasa aman, serta mendukung proses adaptasi emosional mereka melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan," kata Syafiuddin kepada detikJatim, Selasa (30/12/2025).
Pemeriksaan kesehatan umum, skrining kondisi ibu hamil, pemantauan kesehatan lansia, serta pemeriksaan dan pengobatan pada anak-anak dilakukan di Pante Pisang, Peusangan, Bireuen. Selain layanan medis, juga memberi bantuan kemanusiaan berupa kit ibu hamil dan menyusui, kit bayi dan anak, hingga sembako untuk kebutuhan dapur umum warga terdampak.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tim medis menemukan sejumlah masalah kesehatan. Yakni penyakit kulit, seperti kutu air dan infeksi jamur banyak dijumpai terutama pada anak-anak dan dewasa muda.
"Penyakit tersebut diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan lembap dan sanitasi pascabanjir. Selain itu, mulai terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan debu pascabanjir, yang paling banyak menyerang anak-anak," ujarnya.
Tm UNUSA juga mengedukasi masyarakat akan pentingnya menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan. Edukasi disertai pembagian masker kepada warga untuk mencegah penularan dan memperburuk kondisi ISPA.
Lalu, ada penangan gizi berfokus pada pembukaan dapur gizi pemberian makan bayi dan anak (PMBA) di Pante Lhong, Peusangan, Bireuen sejak Sabtu (20/12). Kegiatan ini untuk memastikan masyarakat, khusunya bayi dan anak memperoleh gizi yang cukup selama atau pasca bencana.
Selain itu, Syafiuddin dan Dwi Handayani dari Prodi Kesehatan Masyarakat fokus pada instalasi UNUSA-Water untuk menyediakan air bersih pada warga. UNUSA-Water merupakan teknologi tepat guna untuk mengolah air kotor menjadi layak untuk keperluan sanitasi dan air minum.
"UNUSA-Water dirancang dan dibangun oleh saya di Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) UNUSA dan teknologi ini telah terbukti mampu menyediakan air bersih bagi pesantren di seluruh Indonesia sejak 2021. Instalasi UNUSA-Water dilakukan di RSUD Peusangan Raya," jelasnya.
Sementara Kepala Seksi Pelayanan RSUD Peusangan Raya, dr Dara Farasina mengatakan, bantuan ini sangat tepat sasaran, khususnya bagi RSUDnya. Sebab, sejak bencana banjir melanda wilayah tersebut, RSUD Peusangan Raya mengalami keterbatasan ketersediaan air bersih.
"Ini sangat dibutuhkan untuk menunjang layanan kesehatan. Kondisi tersebut semakin diperberat dengan masih adanya warga yang bertahan mengungsi di area rumah sakit, serta kebutuhan air yang juga digunakan untuk proses pembangunan dan perbaikan fasilitas rumah sakit," pungkasnya.
(esw/hil)
