Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian melanjutkan perjalanan spiritual hingga ke lapisan langit ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha.
Jarak yang ditempuh dalam perjalanan tersebut digambarkan sangat jauh, melampaui kemampuan manusia maupun teknologi modern. Karenanya, perjalanan agung itu tidak dilakukan dengan kendaraan biasa.
Nabi Muhammad SAW disebut menggunakan sebuah tunggangan istimewa bernama Buraq, yang secara khusus disiapkan untuk mengantarnya dalam perjalanan Isra dan Mikraj.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tampilan dan Karakteristik Buraq
Mengutip Kitab Dardir Bainama, Buraq merupakan sejenis hewan berbulu putih dan memiliki tinggi yang melebihi Himar (keledai), namun lebih pendek dari Bighol atau Bagal. Gambaran ini sejalan dengan sejumlah sumber yang menyebut Buraq sebagai tunggangan dengan bentuk fisik menyerupai hewan.
Keistimewaannya terletak pada kemampuannya melangkah sejauh batas pandangan mata. Kecepatan inilah yang kemudian dikaitkan dengan asal-usul nama Buraq yang berasal dari kata Arab 'barq' (kilat).
Merujuk sumber yang sama, disebutkan bahwa Buraq memiliki kemampuan lain yaitu menyesuaikan gerak tubuhnya saat melintasi medan yang dilalui. Ketika menanjak, kedua kaki bagian belakangnya digambarkan memanjang.
Sementara saat menuruni jalan, kedua kaki bagian depannya yang memanjang. Buraq juga digambarkan memiliki sepasang sayap di bagian pahanya yang berfungsi membantu kecepatan larinya.
Perjalanan yang Ditempuh Saat Mengendarai Buraq
Dalam keyakinan Islam, Buraq menjadi sarana utama Nabi Muhammad SAW dalam menempuh perjalanan Isra dari Makkah ke Yerusalem. Kecepatan Buraq yang digambarkan secepat kilat menegaskan bahwa perjalanan ini merupakan mukjizat dan bukan perjalanan biasa. Bahkan, jika dianalogikan dengan kecepatan cahaya, Buraq melesat sejauh 186.000 mil atau 300 kilometer per detik.
Dikutip dari Hadis Riwayat Bazzar, Buraq telah disiapkan lengkap dengan pelana ketika hendak ditunggangi Nabi Muhammad SAW. Namun, pada awalnya, Buraq sulit dikendalikan.
Melihat hal tersebut, Malaikat Jibril menegurnya dengan mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang lebih mulia di sisi Allah SWT dibandingkan Nabi Muhammad SAW. Setelah ditegur, Buraq disebut berubah sikap, menjadi tenang dan patuh, lalu siap mengantarkan Rasulullah SAW dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.
Setibanya di kawasan Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW disebut menambatkan Buraq di salah satu sisi area masjid. Lokasi ini kemudian dikenal sebagai tempat bersejarah yang berkaitan dengan Isra Mikraj. Dalam perkembangannya, area tersebut juga dikenal komunitas Yahudi sebagai bagian dari situs ibadah yang penting.
Beberapa riwayat lain menyebutkan bahwa Buraq dapat ditunggangi lebih dari satu makhluk. Bahkan, terdapat kisah yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq bersama Malaikat Jibril selama perjalanan berlangsung.
(auh/irb)
