Amalan Bulan Rajab untuk Menyambut Isra Mikraj dan Meraih Ampunan

Amalan Bulan Rajab untuk Menyambut Isra Mikraj dan Meraih Ampunan

Chilyah Auliya - detikJatim
Senin, 12 Jan 2026 12:00 WIB
Ilustrasi Berdoa.
Ilustrasi ibadah dan amalan bulan Rajab untuk menyambut Isra Mikraj. Foto: Mohamed Hassan/Pixabay
Surabaya -

Setiap tahun, muslim mengenang perjalanan malam yang luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, hingga menembus langit ketujuh, dan Sidratul Muntaha. Namun, di balik itu, Isra Mikraj adalah sebuah revolusi spiritual Rasulullah SAW yang kembali dengan membawa perintah salat.

Untuk menghayati peristiwa agung ini, detikers diajak untuk menghidupkan berbagai amalan yang senantiasa dapat meningkatkan kualitas hidup. Apa saja amalan tersebut. Simak selengkapnya ya detikers.

Amalan Simpel Menyambut Isra Mikraj

Isra Mikraj biasanya hadir di bulan Rajab, bulan yang kerap disebut sebagai waktu menanam amal sebelum memasuki bulan panen di Ramadan. Berikut hal yang bisa diamalkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Beristighfar untuk Membersihkan Hati

Bulan Rajab dikenal sebagai bulan istighfar, di mana Allah SWT lebih banyak mengampuni dosa hamba-Nya. Amalan ini juga senantiasa melindungi muslim dari musibah, sebagaimana disebutkan dalam tafsir ulama bahwa beristighfar dapat menghapus dosa penyebab azab.

Memperbanyak istighfar dianjurkan pada malam Isra Mikraj (27 Rajab) untuk memohon ampunan atas kekurangan ibadah, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah seperti perjalanan Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi pintu rezeki dan kelapangan hidup, sebagaimana janji Allah dalam QS. Nuh: 10-12.

Biasakan membaca sayyidul istighfar pada pagi dan sore hari dengan lafaz "Allahumma anta Rabbi laa ilaaha illaa anta...", kemudian diikuti selawat sebanyak 100 kali. Perbanyak juga zikir "Subhanallah walhamdulillah" untuk menambah keberkahan dan pahala.

ADVERTISEMENT

2. Berpuasa Sunah

Puasa sunah seperti Senin-Kamis dan ayyamul bidh (13-15 Rajab) mendapat lipatan pahala di bulan mulia ini, dan juga melatih jiwa menghadapi Isra Mikraj sebagai peristiwa wahyu shalat.

Hadist riwayat An-Nasa'i dari Muslim bin Shabab juga menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sering berpuasa di bulan Rajab hingga sahabat kira beliau tak berbuka, atau berbuka hingga kira tak puasa lagi. Hadis serupa diriwayatkan Musnad Ahmad (no 20758, hasan), juga mengagungkan Rajab seperti Ramadan dengan ibadah puasa.

3. Perbanyak Berzikir

Di malam istimewa ini, zikir diyakini dapat membuka pintu ampunan dan berkah, melindungi dari godaan dunia sebagaimana Isra Mikraj membebaskan Rasulullah dari tipu daya musuh.

Saat Isra Mikraj, Nabi Ibrahim AS menitipkan pesan zikir kepada Nabi Muhammad SAW untuk umatnya: "La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil azhim". Zikir ini adalah pengakuan bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak memiliki daya untuk menjauhi maksiat maupun kekuatan untuk berbuat ketaatan.

Memperbanyak zikir seperti "Subhanallah" atau tasbih ayat Al-Isra:1 menenangkan jiwa, memperkuat iman terhadap mukjizat Nabi, dan mempersiapkan umat untuk shalat yang diwajibkan saat Mi'raj. Amalan ini juga mengingatkan kebesaran Allah, mendorong taubat dan istiqamah menjelang Ramadhan.

4. Bersedekah dan Membaca Al-Qur'an

Sedekah di bulan Rajab menjauhkan diri dari panasnya api neraka dan membangun istana surga, sebagaimana sabda Nabi tentang pahala berlipat di bulan haram. Membaca Al-Qur'an dapat menenangkan hati, mengingatkan kebesaran Allah seperti yang disaksikan Nabi di Sidratul Muntaha, serta menjadi pengingat wahyu salat dari Isra Mikraj.

Memperbaiki Salat untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

Jika Nabi Muhammad SAW mengalami Mikraj untuk bertemu Allah SWT, maka bagi orang-orang beriman, salat itulah mikrajnya. Ketika dijaga dan dihayati dengan baik, salat mampu meningkatkan kualitas hidup.

Rasulullah SAW bersabda, "Salat itu mikraj orang mukmin" (HR Hakim), menunjukkan bahwa salat mampu membawa ruh ke tingkat tinggi seperti Mikraj Nabi. Dalam Isra Mikraj, salat diwajibkan dari 50 menjadi 5 waktu setelah nasihat Nabi Musa, "Umatmu tak kuat" (HR. Bukhari-Muslim dari Anas), menekankan keringanan Allah bagi yang beristiqamah.

Salat yang dikerjakan dengan khusyuk mendatangkan sakinah, ketenangan hati yang bersumber dari zikir kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam QS Ar-Ra'd:28. Ketenangan ini membantu seorang mukmin lebih tenang dan kuat dalam menghadapi tekanan hidup.

Selain itu, doa-doa dalam salat, terutama setelah tahiyat akhir menjadi wasilah dibukanya rezeki lahir dan batin. Istiqamah dalam salat mengundang pertolongan Allah, sebagaimana janji-Nya untuk memberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS Ath-Thalaq:2-3)

Salat lima waktu juga membentuk karakter produktif melalui latihan disiplin, kesabaran, dan keikhlasan. Nilai-nilai ini menata prioritas hidup, mencegah perbuatan tercela, dan menjadikan aktivitas dunia lebih berkah.

Itulah beberapa amalan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari dalam menyambut kemuliaan Isra Mikraj. Semoga detikers senantiasa dapat memperbaiki kualitas shalat dan memperbanyak zikir, terlebih bukan hanya di momentum Isra Mikraj, tapi hakikatnya sepanjang hayat.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads