Para petani padi di sejumlah wilayah Kabupaten Malang mulai menerapkan cara ramah lingkungan untuk mengatasi serangan hama tikus yang kerap merusak tanaman padi. Mereka menggunakan burung hantu sebagai predator alami tikus di area persawahan.
Tikus selama ini menjadi momok bagi petani karena dapat menyebabkan penurunan hasil panen padi milik petani di wilayah Kabupaten Malang.
Hewan pengerat itu menyerang batang padi, memakan bulir padi, serta merusak tanaman sejak masa tanam hingga menjelang panen. Kondisi tersebut mendorong petani mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang Makhrus Sholeh mengatakan, terobosan pemberantasan hama tikus dengan burung hantu telah berjalan di wilayah Kabupaten Malang bagian barat, yakni Pujon serta Kasembon.
Petani padi di wilayah tersebut, lanjut Makhrus, membuat rumah burung hantu (Rubuha) untuk dihuni sepasang burung hantu.
"Sudah jalan di wilayah Pujon dan Kasembon, petani di sana menyediakan Rubuha untuk sepasang burung hantu. Sepasang burung hantu bisa men-cover 2 hektare lahan padi," ujar Makhrus kepada detikJatim, Senin (12/1/2026).
Menurut Makhrus, penggunaan burung hantu terbukti mampu menekan populasi tikus tanpa harus menggunakan racun kimia.
Selain lebih aman bagi lingkungan, kata Makhrus, metode ini juga tidak merusak keseimbangan ekosistem sawah. Selama ini, petani juga disebut membuat jaring untuk melindungi tanaman padi dengan jaring yang dinilai kurang efektif.
"Cara ini cukup efektif membasmi hama tikus. Tanaman padi bisa tumbuh lebih baik dan hasil panen meningkat," ujarnya.
Makhrus menambahkan, metode pemberantasan hama tikus menggunakan burung hantu mendapatkan dukungan penuh dari Pemkab Malang.
Rencananya tahun ini, Rubuha akan diperbanyak di sejumlah wilayah Kabupaten Malang yang selama ini menjadi lumbung padi.
"Nanti akan diperbanyak di sentra tanam padi, di antaranya Turen, Gondanglegi, Sumberpucung," bebernya.
Selain membantu petani, lanjut Makhrus, pemanfaatan burung hantu juga menjadi upaya pelestarian satwa liar. Jika hama berkurang, diharapkan dapat meningkatkan produksi padi yang rata-rata saat ini masih sekitar 7-8 ton per hektare dengan bibit biasa.
"Diharapkan jika hama tikus bisa dibasmi. Maka akan meningkatkan produktifitas panen padi di wilayah Kabupaten Malang," pungkasnya.
Ngalam Mbois adalah rubrik spesial detikJatim yang mengupas seputar seluk-beluk, capaian, prestasi, dan kelokalan khas yang ada di Malang Raya. Ngalam Mbois tayang setiap hari Senin.
(auh/hil)
