Jurus Pemkot Surabaya Tangani Ratusan Titik Banjir di Surabaya

Jurus Pemkot Surabaya Tangani Ratusan Titik Banjir di Surabaya

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 16 Jan 2026 11:15 WIB
Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya.
Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Banjir masih menjadi pekerjaan rumah tahunan di Kota Surabaya. Setiap musim hujan, ratusan titik genangan kembali muncul dan memicu keluhan warga. Meski jumlah titik banjir perlahan berkurang, Pemkot Surabaya mengakui penanganannya membutuhkan waktu, kerja bertahap, dan dukungan lintas pihak.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya Hidayat Syah menyebut, saat ini terdapat 140 titik banjir yang masih dalam proses penanganan. Angka itu turun signifikan dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 350 titik banjir.

"Sudah iya, yang dari 200 itu sudah selesai, tinggal sekarang 140, kita akan menyelesaikannya," kata Hidayat saat ditemui detikJatim di Rumah Pompa Simo, Kamis (8/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hidayat menargetkan 140 titik banjir tersebut tuntas hingga 2027. Saat ini, fokus utama DSDABM adalah pembenahan saluran besar sebagai induk pembuangan air. Menurutnya, saluran kecil tetap dibersihkan, namun seluruh aliran bermuara ke saluran utama.

ADVERTISEMENT
Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya.Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

"Ya, sampai tahun depan (selesaikan 140 titik banjir). Tapi kan kita yang penting mainnya (saluran) dulu. Namanya orang itu ambil dulu saluran besarnya. Kita tetap bersihkan yang saluran kecil-kecil karena pembuangannya tetap di sini," ujarnya.

Ia menjelaskan, penanganan banjir dilakukan dengan pendekatan jangka pendek, menengah, dan panjang. Untuk jangka pendek, langkah yang dilakukan adalah pembersihan saluran dari tumpukan sampah, termasuk sampah berukuran besar.

"Jangka pendeknya, kita bersihkan saluran. Sampahnya sebegitu (banyaknya sampai belasan dump truck), terus ada kasur juga. Kita sudah turunkan tim ini hari ini ada tiga (di Rumah Pompa Simo) mulai hari Senin kemarin. Hari ini sudah pembersihan semua dibikin alur, supaya (air) bisa ngalir ke sini (rumah pompa)," jelasnya.

Untuk jangka menengah, DSDABM mengganti rumah pompa manual menjadi elektrik seperti di kawasan Simo. Dengan sistem elektrik, pintu air bisa dibuka lebih cepat saat hujan deras.

"Jangka menengahnya, DSDABM akan mengganti rumah pompa manual dengan elektrik seperti di Simo," kata Hidayat.

Sedangkan jangka panjang, aliran air diarahkan menuju Kali Greges yang kapasitasnya terus diperkuat.

"Jangka panjangnya, (air) larinya ke Greges, kan sudah kita bikin saluran, terus nanti kita tinggikan parapetnya supaya nanti daya tampungnya lebih tinggi, sampai Greges. Nanti di Greges kita kasih pintu air, pompa kita tambah," urainya.

Pemkot juga menambah sejumlah bozem di Surabaya Selatan, Utara, hingga Krembangan. Selain itu, proyek diversi Gunungsari-Babat Jerawat dikebut dan ditargetkan rampung tahun ini sebagai salah satu solusi banjir, termasuk untuk kawasan Simo.

"Iya (diversi Gunungsari-Babat Jerawat), mulai dari Mayjend Sungkono, Arjuno, Diponegoro. Dikerjakan awal tahun, selesai tahun ini. Pak Wali kan enggak mau lama-lama untuk penanganan banjir," tegasnya.

Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya.Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut banjir masih menjadi PR besar pemerintah kota. Saat ini, masih ada sekitar 250 titik banjir dari total 350 titik pada 2021. Namun, ia memastikan tidak ada penambahan titik banjir baru.

"Kita kan punya 350 titik banjir. Yang sudah bisa kita selesaikan 100 titik banjir, masih ada 250 titik banjir," kata Eri kepada wartawan di Balai Kota Surabaya, Selasa (6/1/2026).

Menurut Eri, penanganan banjir tidak bisa dilakukan Pemkot Surabaya sendirian. Pemkot menggandeng Pemprov Jatim dan pemerintah pusat untuk menangani sejumlah saluran besar.

"Salah satunya adalah kemarin yang jalan Jemursari, kita juga minta bantuan kepada provinsi untuk membuat saluran. Saluran Jemursari itu yang panjang itu. Itu kan sudah saluran alam itu. Kita akan buatkan pelengsengan," jelasnya.

Selain itu, bantuan juga diminta ke Kementerian Pekerjaan Umum untuk kawasan Jalan Kalianak yang berbatasan dengan Gresik.

"Kementerian untuk yang di Jalan Kalianak keluar dari Gresik, Jalan Gresik itu. Karena tidak ada saluran di kanan kiri juga itu. Itu yang kita lakukan hari ini," ujarnya.

Tahun 2026, kawasan Simo menjadi salah satu fokus utama penanganan banjir. Wilayah Simo Kalangan, Simo Hilir, dan Simo Rejo tercatat menjadi langganan banjir sejak 2014.

"Insyaallah ke depan yang kita kerjakan adalah Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, 1A, 1B, dan Tanjungsari. Itu yang fokus kita di tahun 2026," pungkas Eri.

Di sisi lain, Hidayat mengakui salah satu kendala utama penanganan banjir adalah sampah, khususnya sampah berukuran besar yang dibuang ke saluran air.

Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya.Penanganan sampah di sungai untuk mencegah banjir di Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

"Ya terutama alasan klise, ya sampah. Sampah besar khususnya (jadi kendala atasi banjir)," ujarnya.

Pemkot Surabaya telah menyiapkan fasilitas pembuangan sampah besar atau bulky waste di TPS yang tersebar di 31 kecamatan. Sampah seperti kasur, sofa, kursi, hingga lemari dilarang dibuang ke saluran karena bisa menyumbat aliran dan merusak rumah pompa. Pelanggaran dapat dikenai sanksi tipiring sesuai Perda Nomor 5 Tahun 2014 dengan denda hingga Rp50 juta atau kurungan maksimal 6 bulan.

Hidayat pun kembali mengimbau warga agar ikut berperan dalam penanganan banjir dengan tidak membuang sampah sembarangan.

"Kita harus kerja sama dengan masyarakat. Ya, kembali lagi. Kan selalu dari zaman dulu sampai sekarang itu kita selalu tahu, faktanya sudah kelihatan. Banyak bisa lihat sendiri. Jadi, ojo lah buang sampah sembarangan. Karena apa? Teman-teman itu ya berat kerjanya. Karena sampah itu selalu mengambat sedimentasi, belum ada kasur yang barusan kita selesaikan," pungkasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads