Penyebab 411 pelajar, santri dan orang dewasa di Mojokerto keracunan makan bergizi gratis (MBG) soto ayam, diduga kuat karena telur ayam rebus yang sudah basi. SPPG yang menyediakan soto ayam tersebut ditutup sementara sampai Badan Gizi Nasional (BGN) menuntaskan investigasinya.
"Rekomendasi kepada SPPG pastinya itu akan ditutup sementara. Kemarin kami sempat diskusi juga dengan Ketua Tim Investigasi, itu ditutup sementara, akan dievaluasi," terang Dandim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo setelah rapat gabungan membahas penyebab keracunan ini di Kantor Bupati Mojokerto, Kamis (15/1/2026) malam.
Ratusan korban dipastikan mengalami keracunan karena menyantap MBG soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Pondok Pesantren Al Hidayah di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo, Mojokerto pada Jumat (9/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap harinya, SPPG yang beroperasi sejak 22 September 2025 ini menyediakan 2.679 porsi MBG. Dapur MBG ini menyuplai makan bergizi gratis untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.
"Kami akan bersama-sama karena MBG program yang sangat bagus, akan menentukan masa depan anak-anak, masa depan bangsa. Kami sepakat bersama stakeholder yang lain di Mojokerto akan lebih meningkatkan pengawasan lagi supaya ke depan tidak terjadi lagi yang seperti ini," jelas Abi.
Kepala Regional BGN Jatim Mahda Pradewa menuturkan, tidak ada batas waktu penutupan SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah. Sebab tergantung pada hasil investigasi dari BGN.
"Nanti BGN pusat yang bisa menentukan kapan dioperasikan kembali atau ditutup (secara permanen)," tandasnya.
Sebelumnya, ratusan pelajar, santri dan keluarga siswa keracunan setelah menyantap MBG soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah. MBG menu soto ayam tersebut dibagikan ke para pelajar dan santri pada Jumat (9/1) pagi dan sebelum Salat Jumat.
Gejala klinis keracunan mulai dirasakan para pelajar dan santri pada Jumat malam dan Sabtu (10/1) pagi. Mereka tiba-tiba pusing, mual, muntah, demam dan diare. Pemkab Mojokerto mengunci data jumlah korban di angka 411 orang. Dari jumlah itu, tinggal 2 korban yang rawat inap per kemarin malam.
Investigasi gabungan pun digelar. Salah satunya, sampel soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 dan muntahan beberapa korban, dikirim ke Labkesda Kabupaten Mojokerto. Hasil pemeriksaan laboratorium dibahas dalam rapat tertutup di Smart Room Satya Bina Karya (SBK) Kantor Bupati Mojokerto pada Kamis (15/1) malam.
Rapat membahas penyebab keracunan MBG massal ini menghadirkan perwakilan sejumlah instansi dan ahli. Antara lain Kodim 0815, BPOM, Polres Mojokerto, Sekretaris Daerah (Sekda) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Labkesda Kabupaten Mojokerto, serta gabungan ahli gizi.
Hasilnya, keracunan massal ini diduga kuat karena telur ayam rebus yang basi. Telur ayam direbus oleh pemasok atau pihak ketiga pada Rabu (7/1) malam. Kemudian pihak ketiga mengirim telur rebus ke SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah pada Kamis (8/1) sore.
Dapur MBG di Dusun Rejeni ini menjadikan telur matang itu salah satu komponen soto ayam. Selanjutnya, soto ayam didistribusikan ke 22 sekolah dan pondok pesantren pada Jumat (9/1) pagi sampai sebelum Salat Jumat. Diduga kuat telur ayam rebus tersebut sudah basi. Sehingga menyebabkan keracunan massal pelajar, santri dan orang dewasa yang memakannya.
Tentu saja 2.679 pelajar dan santri penerima MBG tidak serentak menyantap soto ayam tersebut. Tim Investigasi juga menemukan titik dan waktu makan yang menelan jumlah korban terbanyak. Yaitu di Ponpes Mahad An Nur dan Ponpes Al Hidayah pada pukul 12.30 WIB atau setelah Salat Jumat.
(auh/irb)
