Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo telah melayani 13,5 juta penumpang sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut ditopang 92 ribu pergerakan pesawat, dengan mayoritas berasal dari penerbangan domestik.
General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir mengatakan penerbangan domestik masih mendominasi trafik penumpang di Bandara Juanda sepanjang tahun lalu.
"Pada 2025, Bandara Juanda melayani 11,1 juta penumpang domestik dengan sekitar 78 ribu penerbangan. Sementara penerbangan internasional mencapai 2,4 juta penumpang dengan 14 ribu penerbangan. Secara total, angkanya relatif sama dibandingkan tahun 2024," ujar Tohir, Jumat (16/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tohir, selama 2025, Bandara Juanda melayani 43 rute penerbangan, terdiri dari 32 rute domestik dan 11 rute internasional. Jumlah tersebut meningkat seiring dibukanya rute baru, dan kembali beroperasinya sejumlah rute lama.
"Sepanjang tahun lalu terdapat lima rute baru, yaitu Bangkok (DMK), Guangzhou (CAN), Fuzhou (FOC), Tambolaka (TMC), dan Solo (SOC). Selain itu, ada lima rute yang kembali beroperasi, yakni Banyuwangi, Yogyakarta, Semarang, Samarinda, dan Sumenep," jelasnya.
Tohir menambahkan, pembukaan rute internasional baru menunjukkan respons pasar yang cukup positif. Dari tiga rute internasional baru, tingkat keterisian penumpang atau load factor terbilang tinggi.
"Rute Bangkok melayani sekitar 14 ribu penumpang dengan load factor 71 persen, Guangzhou 67 ribu penumpang dengan load factor 77 persen, dan Fuzhou sekitar 5 ribu penumpang dengan load factor 65 persen. Ini menunjukkan penambahan rute mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memperluas konektivitas Jawa Timur," ungkapnya.
Memasuki tahun 2026, Bandara Juanda menargetkan penguatan konektivitas penerbangan, khususnya dari dan menuju Pulau Jawa.
"Kami terus membangun kolaborasi dengan maskapai, otoritas, serta pemangku kepentingan lainnya agar konektivitas penerbangan semakin bertambah dan efisien bagi masyarakat," kata Tohir.
Selain pengembangan rute, Bandara Juanda juga mewaspadai potensi cuaca ekstrem pada awal 2026. Menurut Tohir, koordinasi intensif dilakukan bersama BMKG Juanda, AirNav Surabaya, Lanudal Juanda, Otoritas Bandara Wilayah III, maskapai, dan ground handling.
"Kami memperkuat mitigasi dengan koordinasi real-time terkait informasi cuaca ekstrem, pengetatan pemeriksaan fasilitas terminal dan sisi udara, serta memastikan seluruh SOP penanganan cuaca ekstrem berjalan dengan baik," pungkasnya.
Tohir menegaskan, seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan aspek keamanan, keselamatan, dan pelayanan tetap menjadi prioritas utama operasional Bandara Internasional Juanda.
(irb/abq)
