Di perlintasan kereta api tanpa palang kawasan Jalan Manunggal Kebonsari, Surabaya, seorang lansia setia berjaga. Tangannya sigap menarik palang manual, sementara matanya awas menembus kejauhan, mengantisipasi laju kereta yang datang.
Ia adalah Kasi, warga asal Jember yang sudah lama tinggal di Surabaya. Usianya kini memasuki 72 tahun dan sudah 35 tahun hidupnya berpaut dengan rel kereta. Ia adalah sukarelawan penjaga perlintasan kereta api tanpa palang di Surabaya.
Dari pantauan detikJatim, Kasi selalu berdiri tepat di sisi rel. Meski rambutnya hingga jenggotnya memutih, sorot matanya tetap tajam. Bahkan sebelum bel peringatan berbunyi, palang sudah ia turunkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengenakan caping dan rompi hijau untuk melindungi diri dari panas terik. Tak ada informasi resmi jadwal kereta api yang akan melintas.
"Harus teliti, dari arah Wonokromo kalau saya lihat ada kereta, palang sudah saya tutup," kata Kasi saat dijumpai detikJatim, Selasa (20/1/2026).
Kasi mulai menjaga perlintasan itu sejak 1991. Ia berjaga di sana menghentikan arus kendaraan agar tak terjadi kecelakaan dengan kereta. Palangnya masih manual. Tak ada pos resmi, tak ada sistem otomatis.
Dahulu katanya, justru tak ada palang sama sekali, palang manual itu disebut baru ada beberapa tahun ke belakang.
"Baru ada palang manual sekitar 3 tahun ini, yang masang dari Dishub," kata dia.
Lalu ada sebuah pos sederhana untuk tempatnya dan beberapa rekan penjaga palang untuk istirahat sejenak.
Setiap hari, kereta melintas tiap 15 hingga 30 menit sekali. Kasi tak pernah benar-benar lengah. Jika harus meninggalkan rel, ia akan memastikan ada rekannya yang menggantikan.
Ia tak hanya menutup palang, tapi juga terkadang mengingatkan pengendara yang nekat menerobos.
"Kalau yang lewat manut, saya senang. Kalau mbobol, saya yang susah," tuturnya.
Penghasilannya pun tak menentu. Kasi sendiri setiap hari berjaga dari pukul 12.00 hingga 16.00 WIB.
"Sehari bisa Rp 70-80 ribu. Kadang Rp 100 ribu, tapi jarang," ungkapnya.
Uang itu ia gunakan untuk membantu menghidupi keluarga. Kasi memiliki dua anak. Meski puluhan tahun berjaga, dirinya juga tidak menerima gaji resmi dari KAI.
"Kalau KAI enggak pernah ngasih. Yang ngasih ya orang-orang lewat," bebernya.
Menjaga perlintasan bukan sekadar rutinitas bagi Kasi. Baginya, ini soal tanggung jawab pada banyak nyawa.
"Kadang kereta api sudah dekat ada yang bobol. Itu yang berbahaya. Padahal sejak masih jauh sudah saya tutup," tuturnya.
Bahkan saat hari raya atau hari libur, perlintasan itu tak pernah kosong. Penjagaan dilakukan bergantian selama 24 jam. Tengah malam saat jalanan lengang sekalipun, selalu ada orang lain yang berjaga.
Sistemnya semacam shift, ada yang berjaga dari pagi sampai siang, siang ke sore, sore ke malam, bahkan sampai malam hingga pagi lagi.
"Harus dijaga karena yang lewat di sini bukan satu dua, tapi banyak sekali," tuturnya.
Di tengah panas terik dan usia yang kian menua, Kasi tetap berdiri di rel yang sama. Tanpa seragam, tanpa gaji tetap, ia menjaga agar orang-orang bisa pulang dengan selamat.
"Apalagi misal yang lewat adalah tulang punggung keluarga, anaknya banyak," pungkasnya.
(auh/hil)
