Fenomena langit selalu mengundang antusiasme karena jarang terjadi dan tidak bisa disaksikan setiap hari. Nah, pada tahun 2026 ini, dunia dijadwalkan kembali menyambut Gerhana Matahari Total. Ini adalah sebuah momen ketika siang hari mendadak gelap gulita dalam hitungan menit.
Pastinya detikers penasaran kapan dan dimana tepatnya lintasan fenomena ini kan? Tapi, tahukah detikers kalau fenomena ini punya segudang fakta menarik di baliknya. Yuk simak selengkapnya ya!
Mengenal Gerhana Matahari Total
Secara ilmiah, gerhana matahari adalah peristiwa tertutupnya sinar matahari oleh bulan, baik sebagian maupun seluruhnya. Fenomena ini terjadi ketika posisi bulan berada tepat di antara matahari dan bumi dalam satu garis lurus, atau yang dikenal dengan istilah konjungsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat Gerhana Matahari Total (GMT), piringan bulan akan menutupi seluruh piringan matahari. Hal ini menyebabkan wilayah di permukaan bumi yang terkena bayangan inti (umbra) bulan akan mengalami kegelapan total. Berbeda dengan gerhana sebagian di mana matahari masih terlihat seperti sabit, pada fase total, langit akan gelap seperti malam hari dalam durasi singkat.
Kapan dan Di mana Gerhana Matahari Total Terjadi?
Bagi para pemburu fenomena langit, tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa. Berdasarkan data astronomi, Gerhana Matahari Total ini dijadwalkan terjadi pada tanggal 12 Agustus 2026 pukul 22:34 WIB, titik awalnya di Siberia utara, Rusia.
Gerhana ini disebut-sebut sebagai pembuka era keemasan gerhana matahari total yang akan terjadi berturut-turut pada 2026, 2027, dan 2028.
Fenomena ini nantinya akan melintasi wilayah Arktik, Greenland, Islandia, hingga bagian utara Spanyol. Ini menjadi gerhana total pertama yang terlihat dari daratan Eropa sejak tahun 1999. Sayangnya, Indonesia tidak dilalui oleh jalur gerhana ini, baik fase total maupun sebagian, karena posisinya berada jauh di belahan bumi utara.
Meski gerhana 2026 sangat dinanti, durasinya hanya sekitar 2 menit. Namun, peristiwa ini menjadi pengantar menuju Gerhana Matahari Total 2027 yang diprediksi menjadi yang terpanjang di abad ini dengan durasi mencapai 6 menit 22 detik.
Fakta Menarik Seputar Gerhana Matahari Total
Fenomena ini menyimpan banyak fakta menarik yang membuatnya menjadi salah satu fenomena alam paling memukau di Bumi. Misalnya seperti:
1. Efek Manik Baily yang Unik
Saat totalitas, korona Matahari tampak sebagai cincin cahaya putih yang indah, sementara cincin berliannya muncul tepat sebelum dan sesudah fase total akibat cahaya Matahari menembus lembah Bulan. Ini menciptakan bintik-bintik cahaya seperti manik-manik di tepi Bulan.
Efek ini dinamai dari astronom Inggris Francis Baily yang pertama kali mendeskripsikannya pada 1836, saat ia mengamati cahaya Matahari yang seakan bocor melalui topografi Bulan.
Manik-manik ini terlihat hanya 10-15 detik sebelum Bulan sepenuhnya menutupi Matahari (kontak kedua) dan setelah totalitas berakhir (kontak ketiga). Cahaya terakhir ini sering berubah menjadi efek cincin berlian ketika hanya satu atau dua manik yang tersisa, menciptakan ilusi berlian berkilau di korona Matahari.
2. Suhu Udara Menurun
Suhu udara bisa turun hingga 10°C. Sinar Matahari yang biasanya memanaskan permukaan Bumi terhalang umbra Bulan, mengurangi radiasi inframerah hingga 100% di jalur totalitas. Atmosfer jadi kehilangan energi cepat, dan konveksi udara terhenti sementara yang mempercepat pendinginan.
Efek terasa 10-20 menit sebelum dan sesudah puncak, dengan suhu pulih bertahap setelah totalitas saat sinar Matahari kembali. Perubahan ini juga memengaruhi angin, kelembaban (naik), dan potensi hujan lokal berkurang.
3. Hanya Terjadi dalam Hitungan Menit
Durasi totalitas biasanya hanya 2-4 menit, dengan rekor 4 menit 28 detik di Meksiko pada 2024. Kejadian ini jarang karena Bulan dan Matahari tampak berukuran sama dari Bumi.
Gerhana Matahari Total terjadi rata‑rata sekitar setiap 18 bulan sekali di suatu tempat di Bumi, tetapi titik lokasinya selalu berpindah sehingga sangat jarang berulang di tempat yang sama.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.
(irb/hil)