Takdir hidup Harun (55), sopir truk asal Tulungagung, berubah setelah sebuah perjalanan kerja pada 2019. Dari balik kemudi truk yang semula ia anggap sekadar alat mencari nafkah, Harun justru menemukan panggilan hidup baru sebagai aktivis lingkungan yang kini mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan alam dari ancaman sampah plastik.
Awalnya, Harun mengaku hanya disewa untuk mengantarkan konser ke berbagai kota selama beberapa bulan. Namun, ia justru mendapati box truk yang dikemudikannya diisi sampah, setiap singgah dari satu kota ke kota lain.
"Saya awalnya ditawari untuk mengantarkan konser dari kota ke kota, selama beberapa bulan. Tapi nyatanya bukan, kok malah ngangkut sampah. Ya, saya sebagai sopir harus amanah, sesuai profesi, ya, kulo jalani saja (ya, saya jalani saja)," kata Harun kepada detikJatim, Kamis (22/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harun sempat merasa kebingungan, mengapa kegiatan konser itu tidak ada dan malah mengangkut sampah? Dalam perjalanan itu, ia mulai penasaran dan mengikuti kegiatan penelitian lingkungan. Salah satunya riset aspal yang dicampur plastik.
"Pada saat itu saya masih awam dan belum memahami isu yang sedang diperjuangkan. Saya benar plonga-plongo (tidak tahu apa-apa) dan tidak tahu apa yang dibahas. Namun, di perjalanan itu saya mulai ikut dalam kegiatan penelitian, salah satunya tentang aspal dari campuran plastik, dan terbukti selama 15 tahun, aspal itu masih dalam kondisi baik," ujarnya.
Meski belum sepenuhnya memahami. Rasa penasaran membuat Harun terus belajar. Ia mulai mencari informasi bahaya plastik di internet. Dari proses itu, kesadaran perlahan tumbuh. Hingga ia menyadari bahwa menjaga alam adalah kewajiban.
Sopir truk yang banting setir jadi aktivis lingkungan di Tulungagung Foto: Eka Fitria Lusiana/detikJatim |
Selepas pulang dari perjalanan itu, Harun berkomitmen memulai langkah merawat lingkungan. Niat itu, ia sampaikan kepada keluarganya, dan mendapat dukungan penuh.
"Terjadi lah perubahan di pola pikir saya dan aku sadar, ternyata dosaku begitu besar dengan alam. Berapa polusi yang sudah saya hasilkan selama ini? Dari situlah saya benar-benar komitmen jaga alam," jelasnya.
Langkah awal Harun mulai dari kegiatan sederhana, seperti bersih-bersih sungai. Aksi itu digelar pada September 2019 di LPI Al-Khoiriyah, Wates Tanjung, Tulungagung, dan mendapat antusias tinggi dari masyarakat.
"September tahun 2019 itu aku mulai kegiatan pertama, bersih-bersih sungai di LPI Al-Khoiriyah, di Wates Tanjung Tulungagung, di Jumat itu saya bersama teman-teman santri, masyarakat, teman-teman komunitas waktu itu masih yang saya kenal," sebut Harun.
Seiring berjalannya waktu, gerakan Harun semakin beragam. Ia aktif memungut sampah, menyemai bibit tanaman, hingga melakukan reboisasi. Bahkan, demi keberlanjutan kegiatan lingkungan, Harun rela menjual truk beserta dua mobil miliknya. Hasil penjualan itu, ia belikan tanah seluas 2.800 meter persegi yang khusus difungsikan sebagai lokasi penyemaian dan cafe edukasi.
"Jadi setelah saya jual truk untuk kegiatan lingkungan. Saya jual lagi mobil. Nah itu saya jual untuk tambahan tanaman (penyemaian). Kemarin yang terakhir tahun 2024 itu saya jual. Saya ambil sebagian besar untuk lingkungan," terangnya.
Harun telah menanam hampir 10.000 lebih pohon. Ia terus mengkampanyekan pentingnya merawat lingkungan. Ia berpesan agar tidak malu melakukan kebaikan sekecil apapun, misalnya seperti memungut sampah di jalan.
"Jangan pernah malu untuk melakukan kebaikan sekecil apapun, seperti memungut sampah di jalanan. Memulung itu bukan sesuatu yang hina. Seorang profesor rela memulung sampai hari ini karena memulung adalah kenikmatan abadi, pesan om Sus. Saya pernah ngobrol empat mata, jadi beliaulah motivasi saya menjadi seorang pemulung, menjadi seorang aktivis," pungkasnya.
(irb/hil)
