Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat. Ibadah tersebut menjadi rukun Islam ketiga, yang tertuang dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 183.
Ayat ini menegaskan puasa diwajibkan agar umat Islam dapat meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Namun, dalam pelaksanaannya, tidak semua orang dapat menjalankan puasa secara penuh selama bulan Ramadan.
Ada kondisi tertentu yang membuat seseorang diperbolehkan untuk meninggalkan puasa dengan syarat harus mengganti atau mengqada di kemudian hari. Lantas, bagaimana cara ganti atau qada puasa apabila lupa jumlahnya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara Ganti Puasa Ramadan yang Lupa Jumlahnya
Mengutip laman NU Online, puasa Ramadan menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam, sehingga apabila belum ditunaikan, maka kewajiban tersebut masih menjadi tanggungannya.
Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menyarankan supaya seseorang yang lupa jumlah utang puasanya untuk memperbanyak puasa sunah dengan niat mengqada utang puasa Ramadan. Hal ini sebagaimana disampaikan Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam fatwanya sebagai berikut.
وَيُؤْخَذُ مِنْ مَسْأَلَةِ الْوُضُوْءِ هَذِهِ أَنَّهُ لَوْ شَكَّ أَنَّ عَلَيْهِ قَضَاءً مَثَلاً فَنَوَاهُ إِنْ كَانَ وَإِلاَّ فَتَطَوَّعَ صَحَّتْ نِيَّتُهُ أَيْضًا وَحَصَلَ لَهُ الْقَضَاءُ بِتَقْدِيْرِ وُجُوْدِهِ بَلْ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ عَلَيْهِ وَإِلاَّ حَصَلَ لَهُ التَّطَوُّعُ كَمَا يَحْصُلُ فِيْ مَسْأَلَةِ الْوُضُوْءِ إِلَى أَنْ قَالَ: وَبِهَذَا يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التَّطَوُّعِ بِالصَّوْمِ أَنْ يَنْوِيَ الْوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلاَّ فَالتَّطَوُّعَ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ إِنْ كَانَ.
Artinya: Dari masalah wudhu ini (kasus orang yang yakin sudah hadas dan ragu sudah bersuci atau belum, lalu ia wudhu dengan niat menghilangkan hadas bila memang hadas, dan bila tidak maka niat memperbarui wudhu, maka sah wudunya) bisa dipahami bahwa jika seseorang ragu punya kewajiban mengqada puasa misalnya, lalu ia niat mengqadanya bila memang punya kewajiban qada puasa, dan bila tidak maka niat puasa sunah, maka niatnya itu juga sah, dan qada puasanya berhasil dengan mengira-ngirakan memang wajib mengqada. Bahkan bila memang jelas wajib mengqada. Bila tidak (ada kewajiban qada), maka ia mendapat pahala puasa sunah seperti halnya dalam masalah wudhu... Dengan demikian diketahui, bahwa orang yang ingin berpuasa sunah sebaiknya berniat mengqada puasa wajib bila memang ada kewajiban mengqada. Bila tidak (ada kewajiban), maka puasanya bernilai puasa sunah. Hal ini dilakukan agar menghasilkan qada bila memang punya kewajiban qada. (Lihat Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyatul Kubra, (Beirut, Darul Fikr: 1984 M/1493 H), jilid II, halaman 90).
Kesimpulannya, seseorang yang mempunyai utang puasa, kemudian ingin memperbaiki diri di hadapan Allah, sebaiknya memperbanyak puasa dengan niat mengganti atau mengqada puasa Ramadan. Apabila puasa wajibnya lunas dan terus mengqada puasa, maka selebihnya dinilai sebagai pahala puasa sunah.
Sementara dalam Hawasyi As-Syarqowi dijelaskan, seseorang yang lupa mengenai jumlah utang puasanya, maka ia mengganti puasa berdasarkan jumlah dari yang diyakini, sementara kekurangannya dilengkapi pada hari lain.
Penjelasan tersebut sama seperti seseorang yang lupa mengenai jumlah salat yang ditinggalkan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Is'adur Rofiq halaman 143 sebagai berikut.
فان لم يعرف مقدار ما عليه من الصلوات مثلا فقال الغزالي تحري وقضى ما تحقق انه تركه من حين بلوغه
Artinya: Apabila seseorang tidak mengetahui jumlah sholat yang ditinggalkan, maka menurut Imam Al-Ghazali ia meneliti betul dan mengqadai jumlah salat yang diyakini ditinggalkannya sejak memasuki umur baligh. (Iin Sholihin)
Niat Puasa Pengganti Ramadan
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ.
Artinya: Aku berniat untuk mengqada puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.
(hil/irb)