Sukirno atau Kirno (60), orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo mengalami pemasungan selama sekitar 20 tahun oleh keluarganya. Kasus ini mencuat ke publik setelah videonya viral di media sosial dan mendapat perhatian.
Berikut deretan fakta-fakta pemasungan Kirno:
1. Dipasung karena membahayakan keluarga
Lamanya Kirno dipasung membuat kondisinya sangat memprihatinkan. Ia tampak meringkuk di dalam kurungan berjeruji besi ukurannya tak lebih dari 1 meter. Keluarga mengaku pemasungan itu dilakukan karena Kirno kerap membahayakan keselamatan anggota keluarga lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya itu mau membunuh bapak saya, adik iparnya Pak Kirno sendiri. Dibuatkan kurungan karena membahayakan keluarga, terutama bapak saya dan semua anggota keluarga," kata Ketua RT setempat sekaligus keluarga Kirno, Kamis (29/1/2026).
2. Kirno dipercaya punya ilmu tenaga dalam
Menurut Dian, Kirno mulai dikurung sejak tahun 2006 hingga sekarang, atau sekitar 20 tahun. Keputusan tersebut diambil karena perilaku Kirno yang semakin sulit dikendalikan.
Ia menyebut, Kirno memiliki tenaga yang kuat dan kerap mengamuk jika dilepas dari kurungan. Bahkan jeruji besi yang dipasang pun sempat dirusak. "Soalnya besi saja jadi patah. Kalau di ruangan biasa, bisa keluar, mengamuk, dan mengancam anggota keluarga," ungkap Dian.
3. Tetap dirawat keluarga selama dipasung
Meski dipasung, kebutuhan makan dan minum Kirno dipenuhi oleh keluarga secara rutin selama dalam kurungan. "Kesehariannya makan diantar, bisa 3 sampai 4 kali sehari. Ya ngopi juga. Full di dalam kurungan," tuturnya.
Dian menambahkan, keluarganya bukan tanpa upaya untuk mengobati Kirno, baik secara medis maupun alternatif. Namun, selama itu tidak pernah membuahkan hasil.
"Obat secara medis dari puskesmas dikasih obat, tapi nggak mau minum. Alternatif juga banyak, tapi tidak pernah ada hasilnya," katanya.
4. Keluarga ungkap penyebab Kirno jadi ODGJ karena ilmu
Sementara itu, Sarti, adik kandung Kirno mengungkapkan awalnya kakaknya hidup normal. Namun semuanya berubah setelah Kirno mencoba mendalami ilmu kanuragan atau ilmu Jawa.
"Sakit jiwa kan dulu cari ilmu jawa. Dia itu umurnya masih belum cukup, jadi ilmu Jawa yang masuk termasuk tingkat tinggi yang diminta. Akhirnya belum kuat kondisi kebatinannya. Jadinya seperti itu," beber Sarti.
Sarti menambahkan, sejak menjadi ODGJ, Kirno lantas kerap agresif dan membahayakan keluarganya. Dari situ lah, keluarganya kemudian memasungnya dalam kurungan besi.
"Kirno dipasung karena keluarga dianiaya, takut. Juga mengancam mau membunuh suami saya, nenek saya juga dianiaya," jelasnya.
Tak hanya itu, Kirno juga kerap menunjukkan perilaku ekstrem yang dianggap membahayakan. Bahkan, ia disebut memiliki kemampuan di luar nalar manusia.
"Karena makan besi, makan bambu itu pakai gigi. Minum oli satu liter, makan api juga nggak apa-apa. Saya tahu sendiri," ungkap Sarti.
5. Evakuasi pemasungan Kirno sempat ditolak keluarga
Kini, Kirno telah dibawa oleh pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut. Keluarga berharap Kirno bisa sembuh dan kembali normal. Namun evakuasi Kirno ternyata tak mudah karena sempat mendapat penolakan dari keluarga.
"Awalnya keluarga tidak memperbolehkan saya menjemput Pak Kirno karena takut nanti mengamuk. Tapi setelah kami negosiasi, akhirnya diperbolehkan," ujar Kanitbinpolmas Polres Lamongan Ipda Purnomo.
Proses evakuasi berlangsung sekitar satu jam. Petugas harus membuka kandang besi menggunakan gerinda dan linggis karena kunci gembok kandang tersebut sudah hilang.
6. Polisi sebut pemasungan karena keluarga kurang paham
Menurut Purnomo, pemasungan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman keluarga yang menganggap Kirno memiliki kekebalan tertentu, sehingga diperlakukan secara tidak wajar.
"Mungkin karena pengetahuan atau SDM, Pak Kirno dianggap kebal, tidak boleh menyentuh tanah. Sehingga dalam proses pemasungan, beliau tidak menginjak tanah," jelasnya.
Ia berharap Kirno bisa mendapatkan perawatan yang layak dan pulih kembali secara kesehatan. "Saya mohon doanya, mudah-mudahan Pak Kirno bisa kami bawa, kami rawat, insya Allah pulih sehat kembali," ucap Purnomo.
Purnomo menegaskan Kirno mengalami gangguan kejiwaan bukan karena faktor ilmu supranatural yang selama ini dipercaya keluarganya. "Kalau kami berbicara secara medis, Pak Kirno mengalami gangguan kejiwaan. Kalau melihat tadi permasalahan keluarga, rasa dendam itu ada," tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa perilaku mengamuk yang kerap terjadi merupakan reaksi psikologis, bukan karena faktor mistis. "Kenapa Pak Kirno dibawa berobat ngamuk, mungkin karena sadar dan ingat masalahnya, jadi ngamuk itu wajar. Kalau menurut saya tidak ada ilmu (Jawa) seperti itu," ujarnya.
Menurutnya, amukan tersebut justru bisa muncul ketika proses pemulihan mulai berjalan dan ingatan masa lalu kembali muncul. "Kenapa Pak Kirno ngamuk, ya mungkin dia diobati, pulang sehat, ingat masa lalunya. Mungkin seperti itu," pungkas Purnomo.
(auh/abq)
