Modus Culas Gus di Malang Lecehkan Model Saat Ngonten Sumpah Pocong

Modus Culas Gus di Malang Lecehkan Model Saat Ngonten Sumpah Pocong

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 05 Feb 2026 19:10 WIB
Despair. The concept of stopping violence against women and human trafficking,  International Womens Day
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tinnakorn Jorruang)
Malang -

Pria diduga seorang gus atau anak kiai di Malang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah perempuan yang menjadi model atau muse konten YouTube tentang sumpah pocong. Sejumlah korban memaparkan bagaimana sang gus menjalankan aksinya dengan modus yang culas dan manipulatif.

Salah satu korban juga pemilik akun @rizkanhy mengaku pertama kali menerima tawaran kerja tersebut pada akhir Januari 2025. Tawaran itu datang melalui media sosial dan agensi dengan penjelasan singkat bahwa ia dibutuhkan sebagai talent shooting dengan unsur akting ringan.

"Dibilangnya cuma butuh muse untuk shooting, nggak ada penjelasan detail konsepnya. Aku kira kayak photo shoot biasa," ujarnya kepada detikJatim, Kamis (5/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku yang diduga seorang gus itu kerap mencari model perempuan melalui platform seperti Threads, Instagram, hingga Facebook. Dia kerap menawarkan pekerjaan tanpa menyertakan konsep konten yang jelas. Lokasi syuting juga disebut berada di wilayah Pakis, Malang.

"Dia sering hire (mempekerjakan) muse perempuan, tapi briefing-nya nggak jelas. Baru (kalau sudah) di lokasi semuanya berubah," katanya.

ADVERTISEMENT

Seperti Rizka, korban lain yakni pemilik akun @sovinovitav mengungkapkan bahwa keanehan mulai dia rasakan pada hari produksi. Hampir seluruh kru di lokasi dia sebut berjenis kelamin laki-laki dan tidak ada penjelasan ulang terkait alur kerjanya.

Sesi shooting disebut berlangsung sangat lama (molor), berpindah-pindah lokasi, bahkan dilakukan di tempat yang tidak lazim untuk produksi konten seperti di area penjualan atau penyembelihan hewan.

Di tengah proses itu, korban mengaku tiba-tiba diminta melakukan adegan sumpah pocong tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia pun mengaku terkejut dan dia menyebutkan bahwa beberapa orang muse menolaknya.

"Tag-nya molor banget. Di tengah-tengah baru dikasih tahu kalau diminta sumpah pocong," ungkap Rizka.

Korban yang menolak berada dalam posisi tertekan karena situasi dan lokasi yang terpencil, serta kru yang didominasi laki-laki.

Selain di lokasi shooting, korban lain mengungkap adanya pendekatan personal yang dilakukan asisten pelaku sebelum akhirnya diarahkan bertemu langsung dengan sosok yang disebut sebagai gus.

Percakapan dengan Sang Gus mulai keluar dari konteks pekerjaan, membahas uang, relasi pribadi, hingga kriteria pasangan hidup. Korban kemudian diarahkan pada aktivitas yang diklaim sebagai pembuktian spiritual.

Dalam aktivitas tersebut korban mengaku diminta untuk menuliskan nama, tanggal lahir, hingga diberikan narasi bernada ramalan tentang kesialan, kematian, dan masa depan hidupnya.

"Aku takut, nangis, bingung harus ngapain. Posisi mental aku benar-benar tertekan," kata pemilik akun @sovinovitav saat dihubungi detikJatim.

Dalam kondisi tertekan itu Sovi mengaku diarahkan untuk melakukan tindakan fisik yang tidak relevan dengan pekerjaan, termasuk diminta memijat pelaku dengan dalih penangkal atau ritual tertentu.

Ia menyebut berusaha bertahan dengan berpura-pura kelelahan dan tertidur agar terhindar dari tindakan lebih jauh hingga akhirnya bisa meninggalkan lokasi pada dini hari.

Pengakuan ini diperkuat oleh cerita beberapa korban lain yang menyebut pola serupa: job talent fiktif, briefing tidak transparan, manipulasi spiritual, hingga tindakan asusila.

Para korban menyadari bahwa kasus dugaan pelecehan seksual kerap sulit diproses secara hukum karena minimnya bukti visual atau visum.

Oleh karena itu, mereka memilih menyampaikan pengalaman melalui media sosial sebagai bentuk peringatan.

"Tujuannya bukan hate speech. Cukup saling mengingatkan, report, dan block," tegasnya. Para korban sendiri enggan menyebut gamblang identitas pelaku, karena adanya beberapa pertimbangan, selain aspek hukum.

Namun adanya kasus ini diharapkan bisa menjadi pengingat penting bagi pekerja kreatif, khususnya perempuan, untuk selalu meminta kontrak tertulis, briefing jelas, detil konsep konten, serta memastikan keamanan lokasi dan kru sebelum menerima tawaran kerja.

"Dia jual agama, manipulatif, udah jelas konten-kontennya penistaan. Sumpah pocong, pemaksaan untuk percaya ilmu sihir," pungkasnya.




(dnp/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads