Lorong pedagang buku di Pasar Blauran, Surabaya tak lagi seramai dulu. Lapak-lapak yang pernah menjadi tujuan pelajar dan mahasiswa, kini sebagian sudah tertutup debu. Pembeli datang sesekali, bahkan tak jarang satu hari berlalu tanpa transaksi.
Deretan pedagang buku itu berada di lantai satu pasar, tepat di bawah tangga. Letaknya tak langsung terlihat dari pintu utama, tersembunyi di balik lalu lalang pengunjung pasar yang berburu kuliner dan kebutuhan harian.
Namun di masa lalu, lokasi tersebut bukan penghalang. Pembeli tetap datang demi mencari buku pelajaran, bacaan, hingga koleksi langka dengan harga terjangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Blauran sempat menjadi surganya buku. Dulu lorong-lorongnya ramai oleh pencari bacaan hingga malam hari. Tetapi sekarang suasana itu hilang. Banyak kios tutup, yang bertahan pun jarang didatangi pembeli.
Pantauan detikJatim di lokasi, Kamis (5/2/2026), hanya dua pedagang buku yang tampak membuka lapak. Keduanya berjualan di tengah deretan kios yang sebagian besar sudah tak beroperasi.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa lalu, ketika jumlah pedagang buku di kawasan tersebut mencapai sekitar 40 orang. Sekarang, yang tersisa hanya tujuh hingga delapan pedagang dan tidak semuanya buka setiap hari.
Toko buku di Pasar Blauran Surabaya yang kian sepi pembeli Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Salah satu pedagang, Tutik (51) mengaku telah berjualan buku di Pasar Blauran sejak 1998. Ia masih mengingat masa ketika pembeli memadati lapaknya, terutama menjelang tahun ajaran baru. Bahkan sebelum lapak dibuka, pembeli sudah mengular.
"Dulu belum buka saja sudah ada yang nunggu. Jam sembilan dibuka, orang sudah antre panjang," ujar Tutik kepada detikJatim, Kamis (5/2/2026).
Saat itu, mahasiswa dan pelajar menjadi pembeli utama. Buku pelajaran dan buku kuliah paling banyak dicari. Omzet harian pun terbilang besar.
"Dulu bisa dapat lebih dari Rp 500 ribu per hari," katanya.
Kondisi tersebut tinggal kenangan. Tutik mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir pembeli datang tak menentu. Terkadang satu hari berlalu tanpa ada buku yang terjual. Pandemi COVID-19 menjadi awal penurunan pembeli yang kemudian diperparah oleh perubahan kurikulum pendidikan.
"Sekarang berapa bulan, ganti sampul (buku). Dulu lak nggak. Dipakai terus. Satu tahun, dua tahun masih (bisa) dipakai aja. Sekarang itu sampulnya (bukunya) ganti, orangnya nggak mau kalau nggak persis," curhat Tutik tentang pengaruh kurikulum yang selalu berganti terhadap penjualannya.
Hal serupa dirasakan Kusdi (68), pedagang buku yang telah berjualan di kawasan Blauran selama lebih dari dua dekade. Ia menyebut aktivitas jual beli kini nyaris berhenti.
Toko buku di Pasar Blauran Surabaya yang kian sepi pembeli Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
"Sekarang ini bisa satu hari tidak laku sama sekali. Kadang laku satu dua buku saja," kata Kusdi.
Ia menilai, kebiasaan pembeli yang beralih ke toko online membuat lapak buku semakin sepi. Banyak orang memilih memesan dari rumah tanpa harus datang langsung ke pasar.
"Orang sekarang tinggal pesan online, buku datang sendiri," ucapnya.
Sepinya pembeli membuat banyak pedagang memilih menutup lapak dan beralih profesi. Ada yang mencari pekerjaan lain, ada pula yang meninggal dunia dan usahanya tidak dilanjutkan oleh keluarga. Buku-buku yang tersisa kerap dibiarkan menumpuk atau dijual kiloan.
(auh/hil)


