Dunia akademik kembali menjadi saksi bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari sebuah impian. Rasa semangat, pantang menyerah tetap membara hingga puncak tertinggi gelar Guru Besar berhasil direngkuh dengan penuh martabat.
Dia adalah Prof Dr Prima Retno Wikandari MSi. Dosen Kimia ini menjadi Guru Besar disabilitas pertama di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Prof Prima menjadi disabilitas sejak usianya 3 tahun. Penyakit polio menyerang tubuhnya saat balita membuatnya duduk di kursi roda. Namun keterbatasan fisiknya tak menyurutkan semangatnya menempuh pendidikan sampai doktor S3 dan meraih gelar profesor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari ini, Selasa (10/2/2026), Prof Prima dikukuhkan sebagai profesor dengan judul disertasi 'Dari Mikroba Indigenous Ke Pangan Fungsional Fermentasi: Potensi Lactobacilus Plantarum B1765 Dalam Penguatan Kesehatan dan Kemandirian Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal'.
"Keterbatasan fisik menurut saya ya sudah, tapi kita tidak boleh berhenti di situ. Apa yang bisa kita lakukan ya bagaimana caranya bisa, bukan berarti surut," kata Prof Prima dalam orasinya di Graha Sawunggaling, Unesa, Selasa (10/2/2026).
Menjadi dosen di Unesa, Prof Prima tak merasakan adanya diskriminasi. Justru dia diberikan penghargaan Anugerah Widya Wiyata Dharma Samya untuk dedikasi dan Pengabdian dalam Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi oleh tempat dia mengajar.
"Saya tidak pernah merasakan diskriminasi sama sekali. Semua itu terbuka seluas-luasnya untuk bersaing secara akademik. Bagaimana kita melangkah menyelesaikan masalah-masalah," ceritanya.
Prof Prima berfokus pada pangan fungsional fermentasi dan eksplorasi potensi bahan pangan local schacal pangan fungsional. Berbagai produk inovatif probiotik maupun symbiotic telah dihasilkan melalui penelitian bersama para mahasiswanya.
Pada penelitian disertasinya, Prof Prima mengangkat potensi komoditas lokal seperti umbi-umbian yang diolah dengan fermentasi untuk mencegah penyakit diabetes. Karena ia menilai saat ini banyak bermunculan penyakit degeneratif, seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi, kanker, dan sebagainya.
"Obat-obatan itu kan juga menimbulkan efek samping, sehingga kita mulai harus berpikir bagaimana bisa mencoba melihat potensi pangan lokal yang ada di Indonesia ini bisa sebagai terapi atau bisa untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit-penyakit yang degeneratif ini," jelasnya.
Menurutnya, banyak pangan lokal yang cukup berpotensi. Maka setidaknya dengan lactobacillus plantarum yang dia temukan, isolasi, dan dimasukkan ke dalam suatu produk makanan atau minuman, hasilnya mempunyai sifat probiotik yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.
"Saya sudah mencoba untuk bisa membuat satu produk-produk probiotik ini dengan sekitar ada 27 produk mungkin ya, hasil penelitian bersama mahasiswa dan juga sudah saya hasilkan 4 paten itu terutama untuk kopi probiotik," ujarnya.
Ia juga tidak hanya membuat produk-produk untuk pangan probiotik dan simbiotik (gabungan probiotik dan prebiotik). Karena prebiotik banyak ditemukan pada umbi-umbian lokal Indonesia.
"Selama ini orang kan ada umbi, gembili, ada tales gitu kan hanya sekedar digoreng atau dikukus gitu ya. Nah, padahal potensinya ini luar biasa sebetulnya dari hasil atau atau dari komponen prebiotik yang ada di situ, tapi memang harus ada probiotiknya, lactobacillus tadi. Nah, dari situ dia akan menciptakan suatu senyawa yang namanya short chain fatty acid. Dua gabungan ini antioksidan dan short chain fatty acid inilah yang menjadi kunci utama untuk perbaikan atau pencegahan terhadap diabetes," urainya.
Semangat Prof Prima pun diapresiasi Rektor Unesa Prof Nurhasan. Bahkan untuk mempersiapkan gelar profesor, perempuan kelahiran Jember itu sempat meminta izin untuk resign dari tugas sebelumnya sejak tiga tahun lalu.
"Dan memang luar biasa pintarnya. Bahkan penelitiannya sekarang membantu warga mengurangi diabetes melalui makanan yang di lokal, bukan impor," pungkasnya.
(auh/abq)
