Jelang Imlek, Omzet Pengepul Rajungan di Probolinggo Meroket 100 Persen

Jelang Imlek, Omzet Pengepul Rajungan di Probolinggo Meroket 100 Persen

M Rofiq - detikJatim
Selasa, 10 Feb 2026 23:30 WIB
Para pengepul daging rajungan di Probolinggo
Para pengepul daging rajungan di Probolinggo (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, para pengepul daging rajungan di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, ketiban rezeki.

Permintaan daging rajungan melonjak tajam, tidak hanya dari pasar domestik, tetapi juga dari mancanegara. Bahkan, dalam sebulan terakhir, permintaan pasar ekspor disebut meningkat hingga 100 persen.

Rajungan yang menjadi salah satu makanan khas masyarakat Tionghoa ini memang banyak diburu menjelang Imlek. Tak heran jika puluhan pengepul rajungan di wilayah Tongas kebanjiran pesanan, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar Cina dan Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pengepul daging rajungan, milik Misri, warga Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, mengaku lonjakan pesanan mulai dirasakan sejak sebulan terakhir. Pesanan dari dalam negeri maupun luar negeri naik drastis hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.

ADVERTISEMENT

Banyaknya permintaan tersebut berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Puluhan ibu rumah tangga di sekitar lokasi diberdayakan untuk mengupas dan memilah daging rajungan demi mengejar target pengiriman.

Sebelum dikupas, rajungan direbus terlebih dahulu hingga matang sempurna. Daging rajungan kemudian dipisahkan dari cangkangnya dan disortir berdasarkan kualitas. Daging dengan kualitas terbaik akan diekspor ke luar negeri, sementara sisanya dipasarkan di dalam negeri.

Bagi para pekerja, momen jelang Imlek ini menjadi kesempatan menambah penghasilan. Dalam sebulan, mereka bisa mengantongi pendapatan antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, tergantung jumlah pesanan.

"Untuk penghasilan cukup, Alhamdulillah. Jelang Imlek banyak pekerjaan sampai harus lembur," ujar Zumrotul Aprilia, salah satu pengupas rajungan, Selasa (10/2/2026).

Setiap harinya, produksi daging rajungan bisa mencapai 4 hingga 5 kuintal. Khusus untuk kualitas ekspor, harga per kilogramnya mencapai Rp 400 ribu.

Mohamad Ridwan, salah satu karyawan pengepul, mengatakan selain permintaan yang meningkat, harga rajungan juga mengalami kenaikan sekitar 20 persen menjelang Imlek. Namun, faktor cuaca masih menjadi kendala.

"Permintaan naik seratus persen jelang Imlek. Kirim ke Cina dan sebagian ke Amerika. Tapi sekarang rajungannya agak jarang karena musim angin," jelasnya.

Menurut Ridwan, rajungan diperoleh tidak hanya dari wilayah Tongas, tetapi juga dari Lekok Pasuruan, Pulau Gili, hingga Banyuwangi.

Meski pasokan terbatas akibat cuaca, permintaan tetap tinggi karena rajungan dan udang menjadi menu khas saat perayaan Imlek.

Dengan tingginya permintaan dan harga jual yang meningkat, omzet para pengepul pun meroket. Dalam sehari, omzet yang diraih bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 500 juta.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads