Jembatan di Ponorogo Putus, Warga Keluhkan Tak Kunjung Diperbaiki

Jembatan di Ponorogo Putus, Warga Keluhkan Tak Kunjung Diperbaiki

Charolin Pebrianti - detikJatim
Kamis, 12 Feb 2026 23:45 WIB
Warga di Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Ponorogo melintasi sungai karena jembatan rusak setelah diterjang banjir
Warga di Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Ponorogo melintasi sungai karena jembatan rusak setelah diterjang banjir (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Warga Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, kembali mengeluhkan akses penyeberangan sungai yang kerap terputus saat banjir. Akibatnya, anak-anak tak bisa berangkat sekolah dan aktivitas warga lumpuh total.

Salah satu warga, Katijem mengatakan sungai tersebut merupakan satu-satunya akses keluar masuk dusun. Saat debit air meningkat, warga tak bisa menyeberang karena arus deras dan ketinggian air membahayakan.

"Tiap hari lewat sini, tidak ada jalan lain. Kalau banjir ya nggak masuk sekolah, nggak bisa nyeberang. Jalan satu-satunya di sini," ujar Katijem, Kamis (12/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menuturkan, meski terkadang ada warga yang membantu menyeberangkan, saat banjir besar tetap tak bisa dilalui. Pernah ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa sehingga warga memilih tidak mengambil risiko. "Pernah banjir sepinggang ya nggak berani. Biasanya tiga hari nggak nyeberang," katanya.

ADVERTISEMENT

Menurut Katijem, dulu sempat ada jembatan bambu. Namun jembatan tersebut sudah dua kali rusak diterjang banjir dan tak lagi bisa digunakan. Dampaknya, saat banjir datang warga benar-benar terisolasi.

"Kalau banjir, anak-anak tidak masuk sekolah, mau makan pun juga nggak bisa. Sampai satu minggu pernah. Kemarin itu ada empat hari nggak makan, cuma makan nasi saja digoreng," ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan Soiman. Ia menyebut jembatan permanen pernah dibangun pada 2006, namun hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya putus akibat diterjang banjir.

"Dulu ada jembatan, putus lama sejak 2006. Nggak bertahan lama, cuma beberapa bulan. Jembatan dulu diterjang banjir," kata Soiman.

Ia menjelaskan, di dusun tersebut terdapat lima siswa, terdiri dari dua anak TK serta siswa SD dan SMA. Saat banjir melanda, mereka terpaksa libur karena tak bisa menyeberang. "Anak tidak bisa sekolah kalau banjir. Selama musim hujan ini sudah dua kali libur, paling lama bisa sampai 10 kali," ujarnya.

Alternatif jalan sebenarnya ada, namun harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer dan melewati area pemakaman. "Ada jalan tapi jauh banget, lewat tengah kuburan. Pasti takut anak kecil," tambahnya.

Saat ini, Dusun Karangsengon hanya dihuni enam kepala keluarga. Sebagian warga memilih pindah ke seberang sungai karena sulitnya akses. Jika banjir datang dan bahan pokok habis, warga hanya bisa menunggu air surut. "Kalau nggak ada bahan pokok ya nunggu surut dulu, baru bisa seberang beli kebutuhan," katanya.

Soiman mengaku warga sudah pernah mengusulkan pembangunan jembatan, namun belum mendapat respons. "Katanya buntu, penduduk kurang banyak. Harapannya pengen dikasih jembatan sama pemerintah," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidoharjo, Sarmin, membenarkan adanya dua titik akses sungai di wilayahnya, yakni di Karangsengon dan Sidowayah. "Kalau di Desa Sidoharjo ada dua titik, satu di Karangsengon, satu di Sidowayah," kata Sarmin.

Ia menjelaskan, jumlah warga di Karangsengon memang sedikit, hanya sekitar empat rumah, sehingga pembangunan jembatan terkendala anggaran. "Kalau mau membuatkan jembatan ya anggaran belum cukup," ujarnya.

Meski demikian, Sarmin menyebut ada wacana bantuan dari Dandim untuk salah satu titik di desanya tahun ini. Ia berharap Karangsengon juga bisa mendapat perhatian. "Jembatan ya jembatan bambu, warga memang lewat situ tiap hari. Kalau banjir ya nggak bisa lewat. Harapannya Dandim bisa membantu," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads