Sejarah Ramadhan dari Puasa Asyura hingga Jadi Ibadah Wajib

Sejarah Ramadhan dari Puasa Asyura hingga Jadi Ibadah Wajib

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 13 Feb 2026 11:45 WIB
Ilustrasi Puasa Ayyamul Bidh
Ilustrasi puasa Ramadhan. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam ajaran Islam, puasa memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membentuk ketakwaan.

Secara historis, kewajiban puasa Ramadhan mulai ditetapkan pada tahun kedua Hijriah setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Ketentuan ini tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan puasa diwajibkan bagi orang-orang beriman sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya.

Sejak saat itu, puasa Ramadhan tidak hanya menjadi ritual ibadah tahunan, tetapi simbol penyempurnaan syariat Islam dalam kehidupan umat Islam. Lantas, bagaimana perjalanan puasa Ramadhan hingga menjadi kewajiban bagi umat Islam? Berikut ulasannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Puasa Asyura Sebelum Ramadhan Diwajibkan

Sebelum kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan, Rasulullah SAW telah melaksanakan puasa Asyura pada 10 Muharram. Hal ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui sahabat Ibnu Abbas RA.

Dalam riwayat tersebut, saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura dan bertanya, "puasa apakah ini?". Mereka menjawab bahwa Asyura adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka.

ADVERTISEMENT
Ilustrasi puasa sunah Senin.Ilustrasi puasa sunah Senin. Foto: ChatGPT

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW turut berpuasa Asyura. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Aku lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa dibandingkan kalian,". Setelah itu, ia berpuasa Asyura dan mewajibkan para sahabat untuk menjalankannya.

Kapan Puasa Ramadhan Mulai Diwajibkan?

Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Online, kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan pada tahun kedua Hijriah melalui turunnya surah Al-Baqarah ayat 183 hingga 185. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah SAW memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk tetap berpuasa Asyura atau tidak.

Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, Asyura adalah salah satu hari (milik) Allah. Siapa saja yang ingin berpuasa di dalamnya, silakan berpuasa," (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Guru besar hukum Islam asal Mesir Syekh Muhammad Afifi Al-Baijuri (Syekh Muhammad Khudari Bek) menjelaskan pada tahun pertama kewajiban puasa Ramadhan, para sahabat dilarang mendekati istri mereka pada malam hari selama bulan puasa. Ketentuan ini kemudian diringankan melalui surah Al-Baqarah ayat 187 yang memperbolehkan hubungan suami istri pada malam hari di bulan Ramadhan.

Tahapan Pensyariatan Puasa Ramadhan

Pada awal pensyariatan, umat Islam diberi pilihan berpuasa atau membayar fidyah bagi yang tidak berpuasa, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 183-184. Ayat ini memberikan opsi bagi yang menghadapi kesulitan untuk memberi makan fakir miskin sebagai pengganti puasa, meski puasa tetap dianggap lebih utama.

Menurut Sya'ban Muhammad Ismail, pemberlakuan hukum secara bertahap merupakan prinsip Al-Qur'an, mengingat puasa adalah ibadah berat, terutama bagi masyarakat awal Islam yang hidup dalam keterbatasan fisik dan ekonomi.

Ilustrasi puasaIlustrasi Puasa Foto: Getty Images/ferlistockphoto

Setelah umat Islam terbiasa menjalankan puasa, pilihan fidyah bagi orang yang mampu dihapus melalui surah Al-Baqarah ayat 185. Pada tahap ini, puasa Ramadhan diwajibkan sepenuhnya bagi mereka yang sehat dan mampu secara fisik. Pensyariatan puasa Ramadhan berlangsung melalui tiga fase berikut.

  • Fase pertama: kewajiban puasa tiga hari setiap bulan dan puasa Asyura.
  • Fase kedua: kewajiban puasa Ramadhan dengan opsi berbuka dan membayar fidyah.
  • Fase ketiga: kewajiban puasa Ramadhan secara penuh tanpa pilihan fidyah bagi yang mampu.

Makna Puasa Ramadhan dalam Ajaran Islam

Puasa Ramadhan bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sarana pembinaan spiritual, sosial, dan moral. Dengan puasa, umat Islam diajarkan menahan diri, meningkatkan empati kepada sesama, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Sejarah panjang pensyariatan puasa Ramadhan menunjukkan bahwa syariat Islam diturunkan secara bertahap untuk memudahkan umat dalam menjalankannya, hingga akhirnya menjadi salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan setiap tahun.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads