Tantang Bahaya! Warga di Ponorogo Bikin Tali Kerek Usai Jembatan Runtuh

Tantang Bahaya! Warga di Ponorogo Bikin Tali Kerek Usai Jembatan Runtuh

Charolin Pebrianti - detikJatim
Sabtu, 14 Feb 2026 14:30 WIB
Kondisi jembatan Jabak yang menghubungkan dua kabupaten
Warga di Ponorogo menantang bahaya dengan membuat tali kerek sebagai ganti Jembatan Jabak yang runtuh akibat banjir. (Foto: Charolin Pebrianti/detikjatim)
Ponorogo -

Jembatan Jabak penghubung Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo dengan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek runtuh akibat banjir besar 2 Januari 2026. Kini, 750 warga terdampak di terutama di Dusun Purworejo mengandalkan jembatan kerek hasil swadaya masyarakat.

Jembatan sepanjang 70 meter dengan bentang sungai sekitar 60 meter itu sebelumnya menjadi akses utama mobilitas warga kedua desa. Tinggi jembatan yang terbuat dari kayu itu mencapai 7 meter, sedangkan panjang lintasan jembatan jenis jembatan gantung itu sekitar 40 meter.

Kepala Dusun (Kasun) Purworejo, Sumarno mengatakan Jembatan Jabak putus setelah sungai yang berada di bawahnya meluap. Luapan sungai itu imbas hujan deras yang memicu banjir besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jembatan saat ini kondisinya runtuh. Hujan deras akhirnya jembatan putus. Putus sejak tanggal 2 Januari 2026," ujar Sumarno, Sabtu (14/2/2026).

Setelah peristiwa yang mengerikan tersebut, warga berinisiatif membangun sebuah jembatan kerek supaya warga bisa tetap menyeberangi kedua wilayah. Baik bagi pejalan kaki maupun bagi pengendara roda dua.

ADVERTISEMENT

"Upaya dari masyarakat ada swadaya supaya jembatan bisa dilalui. Terutama anak sekolah dan pedagang kecil dari Gedangan dan Depok, Panggul. Begitu juga sebaliknya," jelasnya.

Ia menyebutkan jalur yang dilewati jembatan tersebut sebelumnya memang merupakan akses terdekat menuju Trenggalek dan sebaliknya. Terutama bagi masyarakat di 2 desa yang terhubung.

"Mobilisasi ke Trenggalek lewat sini. Akses jalur Ponorogo ke Trenggalek juga lewat sini. Pendidikan dan ekonomi lewat sini karena lebih dekat jaraknya," katanya.

Warga setempat, Suyanto, menambahkan jembatan hanyut separuh dan tidak bisa diselamatkan.

"Roboh tanggal 2 Januari karena banjir terlalu besar dan lama. Ini jalan satu-satunya. Kalau lewat jalur lain, terlalu jauh, bisa mutar sampai 20 kilometer," ungkapnya.

Saat ini warga menggalang dana sukarela untuk kebutuhan pembangunan darurat. Setiap rumah di satu dukuh iuran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

"Ini murni swadaya masyarakat. Disediakan kotak amal, tapi tidak ditarif. Semampunya warga," ujarnya.

Warga setempat, kata Suyanto, berharap pemerintah segera turun tangan. Dia juga menyubutkan bahwa sebelumnya sebenarnya sudah ada komunikasi dengan pemerintah setempat tapi belum ada solusi atas jembatan yang runtuh.

"Sudah komunikasi dengan pemerintah, Koramil dan Polsek sudah ke sini. Tapi BPBD dan Dinas PU belum. Mudah-mudahan Pemkab Ponorogo dan Trenggalek bisa membantu membangun jembatan permanen," tandasnya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads