Altar Raja Semut di Kelenteng Hok Yoe Kiong, Desa/Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, disebut sebagai satu-satunya di Indonesia. Di klenteng itu, umat Tri Dharma melaksanakan sembahyang dan memanjatkan doa khusus di altar Raja Semut atau Hia Ong.
Raja Semut atau Dewa Semut berwujud gundukan tanah pasir setinggi hampir dua meter dengan diameter sekitar satu meter. Posisinya menyandar di sudut dinding, tepat di sisi belakang kelenteng.
Bentuk altar ini sangat berbeda dibandingkan patung dewa-dewi lainnya di klenteng tersebut, seperti Dewa Utama Kongco Kong Tik Tjoen Ong, Dewi Kwan Im, Budha Sakya Wuni, Khong Cu, hingga Mahadewa Thai Sang Laocin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Kelenteng Hok Yoe Kiong, Roy Sugianto, menjelaskan altar Raja Semut berupa gundukan tanah yang diberi ornamen hiasan, seperti kain kelambu, meja bejana lilin dan dupa, serta selembar jubah merah yang menutupi bagian atas sarang atau rumah semut.
Konon, di dalamnya terdapat ribuan ekor semut yang membangun koloni. Namun, semut-semut tersebut tidak terlihat di luar sarang maupun di lantai altar.
"Raja Semut atau Hia Ong menjadi salah satu Dewa yang ada di kelenteng ini," ujar Roy kepada detikJatim, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, banyak yang meyakini kawanan semut itu hanya akan muncul pada hari-hari tertentu, seperti saat peringatan ulang tahun Kongco atau Dewa Utama di Kelenteng Hok Yoe Kiong.
"Altar Raja Semut hanya ada di klenteng ini, satu-satunya di Indonesia," imbuh Roy.
Keunikan Klenteng Hok Yoe Kiong Nganjuk yang Memiliki Altar Unik Foto: Bakrie/detikJatim |
Keunikan tersebut membuat umat Tri Dharma dari luar kota hingga luar pulau kerap singgah ke Kelenteng Hok Yoe Kiong untuk berziarah dan melihat langsung altar Raja Semut.
Berdasarkan riwayat yang tercatat dalam dokumen pengurus klenteng, gundukan sarang semut itu sudah ada sejak 1950, atau tiga tahun sebelum klenteng dibangun pada 1953. Saat itu, lahan di lokasi tersebut masih berupa tempat penyimpanan hasil pertanian.
"Ketika kelenteng mulai dibangun, sarang semut itu tidak dihancurkan, tetapi justru dibuatkan altar sendiri," pungkas Roy.
(ihc/dpe)

