Tradisi Imlek Shou Sui: Begadang Semalam demi Panjang Umur Orang Tua

Tradisi Imlek Shou Sui: Begadang Semalam demi Panjang Umur Orang Tua

Chilyah Auliya - detikJatim
Minggu, 15 Feb 2026 09:08 WIB
Ilustrasi Imlek
Ilustrasi Imlek. (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Surabaya -

Bagi masyarakat Tionghoa, malam pergantian Tahun Baru Imlek bukan sekadar momen makan besar atau berbagi angpao. Ada satu tradisi yang sarat makna dan masih dijalankan hingga kini, yakni Shou Sui.

Secara harfiah, Shou Sui berarti "menjaga usia" atau berjaga semalaman di ambang pergantian tahun. Jika biasanya begadang identik dengan aktivitas kurang bermanfaat, dalam tradisi Imlek justru sebaliknya. Terjaga sepanjang malam memiliki makna bakti dan doa yang mendalam bagi keluarga.

Apa Itu Tradisi Shou Sui?

Shou Sui merupakan tradisi begadang di malam Tahun Baru Imlek sebagai simbol doa, rasa syukur, dan harapan akan umur panjang bagi orang tua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ritual ini umumnya dimulai setelah seluruh anggota keluarga berkumpul menikmati Tuan Yuan Fan, yakni makan malam reuni yang menjadi inti perayaan Imlek. Setelah meja makan dirapikan, suasana rumah tidak langsung sepi. Justru kebersamaan semakin terasa hangat.

Keluarga biasanya berkumpul di ruang tengah, mengobrol, bercengkrama, bermain gim ringan, atau sekadar berbagi cerita sambil menunggu BeritaKlik-BeritaKlik pergantian tahun. Alih-alih segera beristirahat, mereka memilih tetap terjaga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.

ADVERTISEMENT

Dua Makna di Balik Tradisi Shou Sui

Tradisi Shou Sui memiliki filosofi berbeda, tergantung pada siapa yang menjalankannya.

1. Makna bagi Orang Tua dan Lansia

Bagi orang tua atau lansia, begadang di malam Imlek menjadi simbol rasa syukur karena telah melewati satu tahun dengan selamat. Momen ini dimaknai sebagai waktu refleksi untuk menghargai perjalanan hidup yang telah dilalui.

2. Makna bagi Anak Muda

Sementara itu, bagi anak-anak dan generasi muda, Shou Sui adalah bentuk bakti dan doa tulus agar orang tua diberi kesehatan serta panjang umur. Ada kepercayaan yang berkembang bahwa semakin lama seorang anak mampu bertahan terjaga, semakin panjang pula umur yang dianugerahkan kepada orang tuanya.

Meski bersifat simbolis, nilai utama tradisi ini terletak pada ketulusan niat dan kebersamaan keluarga.

Tradisi Imlek yang Sarat Nilai Kebersamaan

Shou Sui menegaskan bahwa esensi perayaan Imlek bukan hanya kemeriahan, tetapi juga penghormatan terhadap keluarga dan orang tua. Momen ini menjadi kesempatan langka bagi seluruh anggota keluarga untuk benar-benar hadir, berbagi cerita, dan mempererat ikatan emosional.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, tradisi seperti ini menjadi pengingat pentingnya meluangkan waktu bersama keluarga, terutama di momen spesial seperti Tahun Baru Imlek.

Tetap Bijak dan Dengarkan Tubuh

Meski penuh makna spiritual dan emosional, kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Esensi Imlek adalah kebahagiaan dan kebersamaan, sehingga penting untuk tetap bijak dalam menjalankan tradisi.

Terlepas dari keyakinan dan kebiasaan yang ada, pastikan untuk mendengarkan sinyal tubuh. Jika sudah merasa sangat lelah, tidak ada salahnya untuk beristirahat. Merayakan Tahun Baru Imlek dalam kondisi tubuh yang bugar tentu akan terasa lebih berkesan.

Begadang di malam Imlek melalui tradisi Shou Sui bukan sekadar menahan kantuk. Tradisi ini adalah simbol penghormatan kepada orang tua, rasa syukur atas tahun yang telah berlalu, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Pada akhirnya, Shou Sui mengajarkan bahwa waktu bersama keluarga adalah hal paling berharga-dan setiap detik di malam pergantian tahun menjadi momen penuh doa, cinta, dan harapan.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads