Pameran AFO Unesa Arcana Dwipantara Sorot Kampung Tersembunyi Surabaya

Pameran AFO Unesa Arcana Dwipantara Sorot Kampung Tersembunyi Surabaya

Jihan Navira - detikJatim
Minggu, 15 Feb 2026 22:00 WIB
Pameran foto Arcana Dwipantara yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (AFO) Unesa
Pameran foto Arcana Dwipantara yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (AFO) Unesa (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim)
Surabaya -

Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (AFO) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar pameran. Pameran yang digelar selam 3 hari itu atau sejak Jumat lusa itu bertajuk "Arcana Dwipantara".

Pameran tahunan ini memadukan dua program, yakni Hunting Besar (HB) di Blitar, Jawa Timur dengan tema Blitar in Lens dan Hunting Dasar (HD) bertema Soraya (Sorot Raut di Kampung Surabaya).

Menghadirkan lintasan visual Blitar dan Surabaya, pameran ini bukan untuk membandingkan keduanya, melainkan mengajak para pengunjung untuk melihat melalui sudut-sudut yang kerap luput dari perhatian melalui rasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengangkat tema tentang hal-hal tersembunyi di balik aktivitas kota, pameran ini menampilkan fragmen kehidupan kampung, budaya harian, hingga denyut ekonomi warga sebagai potret yang tak selalu tampak di permukaan.

Wakil Ketua Umum AFO Unesa, Salwa (20), mengatakan pameran kali ini menampilkan total 146 karya foto dari 50 pameris. Rinciannya, 86 karya berasal dari HD dengan 36 pameris, sementara HB menyumbang 60 karya dari 14 pameris.

ADVERTISEMENT

"HB itu hunting luar kota, tahun ini ke Blitar selama tiga hari dua malam. Kalau HD merupakan pameran pertama bagi anggota baru setelah diklat, jadi hasil belajarnya langsung dipamerkan," kata Salwa saat ditemui di lokasi pameran, Minggu (15/2/2026).

Salwa menyebut dalam pameran kali ini, AFO berusaha untuk mengangkat potensi Blitar melalui lensa mahasiswa.

Untuk HB, AFO membawa sekitar 40 anggota ke Blitar pada November lalu. Mereka memotret berbagai potensi daerah, mulai dari candi, tari Kawentar, hingga UMKM seperti produksi gula merah dan kendang jimbe.

Menurut Salwa, pemilihan objek dilakukan melalui riset dan koordinasi dengan pihak lokal, termasuk tokoh setempat yang memberi informasi mengenai destinasi dan budaya khas Blitar.

"Tujuannya supaya orang yang melihat foto tahu kalau di Blitar ada potensi seperti ini. Jadi bukan sekadar foto, tapi mengenalkan budaya dan ekonomi lokal," ujarnya.

Selain itu, AFO juga menampilkan wajah Surabaya melalui kampung-kampung tematik atau ikonik dengan tema Soraya. Tema ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni kampung wisata, kampung unggulan berbasis UMKM, dan kampung ekologi.

Beberapa lokasi yang dipotret antara lain Ampel, Pecinan, Peneleh, Kampung Lontong, Kampung Lumpia, sentra ikan asap Kenjeran, kampung nelayan, hingga kawasan mangrove. Ada pula Kampung Dandang di Dupak Magersari yang berada di sekitar rel kereta.

"Banyak pengunjung baru tahu kalau kampung-kampung ini ada di Surabaya. Mereka sampai tanya lokasi detailnya," kata Salwa.

Ia menilai kampung tematik memiliki potensi besar karena dibangun dari kekuatan warga sendiri, seperti satu kampung yang seluruh warganya memproduksi lontong atau lumpia.

Pameran foto Arcana Dwipantara yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (AFO) UnesaPameran foto Arcana Dwipantara yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Aktifitas Fotografi (AFO) Unesa (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim)

Bahkan di Kampung Dandang tidak hanya berisikan produksi dandang, melainkan ibu-ibu di sana membentuk paguyuban pembuat lilin aromaterapi untuk dijual saat momen keagamaan, sekaligus membuka les dan ngaji gratis bagi anak-anak.

Potret perempuan (ibu-ibu) yang berusaha menghidupkan denyut perkonomian lokal juga disorot melalui ruang produksi gula merah di Selokajang, Blitar.

Salah satu anggota AFO, Haikal (21) mengatakan bahwa saat berada di lokasi, hanya terlihat empat ibu-ibu di Selokajang yang mampu memproduksi gula merah dalam jumlah paling banyak sepuluh ton tiap harinya.

"Yang kami temui di rumah produksi itu hanya ibu-ibu. Untuk bapak-bapak sendiri mungkin tugasnya lain ya, seperti panen nira dan distribusi hasil produksi hingga ke luar kota," ujar Haikal.

Dengan demikian, Salwa menegaskan fotografi bukan hanya soal estetika, tetapi juga dokumentasi sosial. Menurutnya, banyak kampung yang berpotensi berubah atau bahkan hilang sehingga perlu diabadikan.

"Foto itu mengabadikan momen. Kalau beberapa tahun ke depan kampungnya berubah, kita masih punya rekam jejaknya," kata Salwa.

Ia mencontohkan Kampung Dolly yang dulu dikenal sebagai lokalisasi, kini berkembang menjadi sentra UMKM sepatu kulit. Transformasi-transformasi itulah yang menjadi salah satu narasi visual yang ditampilkan dalam pameran.

Salwa berharap pameran ini membuka wawasan masyarakat bahwa Surabaya yang tidak hanya berkutat seputar kawasan modern atau yang viral di media sosial, tetapi juga kampung-kampung dengan potensi budaya dan ekonomi.

Oleh karena itu, Salwa menyebut melalui pameran yang diadakan AFO ini juga mendorong generasi muda untuk mengangkat hal-hal yang belum populer.

"Sayang kalau kampung-kampung kecil yang punya potensi luar biasa tidak disorot. Justru itu yang membuat Surabaya beragam," katanya.

Pameran Acrana Dwipantara juga menjadi ruang pembelajaran bagi anggota baru AFO agar percaya diri menampilkan karya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memicu perhatian publik dan pemangku kebijakan terhadap pengembangan kampung tematik.

"Harapannya orang yang datang jadi tahu, terutama warga Surabaya itu sendiri sehingga mereka bangga, dan ikut menjaga keunikan kampung-kampung di Surabaya," pungkas Salwa.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads