Makam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang Ramadan

Makam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang Ramadan

Bakrie - detikJatim
Senin, 16 Feb 2026 10:30 WIB
Makam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang Ramadan
Makam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang Ramadan Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan, suasana religius terasa kental di Makam Ki Ageng Keniten, Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Makam tokoh aulia yang dikenal sebagai Mbah Karang Mangklo itu dipadati peziarah yang datang untuk berdoa dan melantunkan tahlil.

Para peziarah yang didominasi jemaah MWC NU Kecamatan Gondang tampak khusyuk mengikuti rangkaian ziarah di pendopo depan makam. Tradisi ziarah ini menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap menjelang Ramadan sebagai bentuk ikhtiar spiritual menyambut bulan penuh berkah.

Yasfud, Pengurus Lembaga Dakwah MWC MU Gondang mengatakan, agenda ziarah ke Makam Ki Ageng Keniten memang rutin dilakukan jemaahnya setiap menjelang Ramadan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang RamadanMakam Ki Ageng Keniten Nganjuk Dipadati Peziarah Jelang Ramadan Foto: Bakrie/detikJatim

"Makam Ki Ageng Keniten ini memang menjadi salah satu tujuan ziarah kami, setiap menjelang bulan Ramadan. Ki Ageng Keniten dikenal sebagai tokoh aulia yang babat alas di Desa Karangsemi ini," ujar Yasfud kepada detikJatim di lokasi.

ADVERTISEMENT

Selain di Makam Ki Ageng Keniten, lanjut Yasfud, ziarah serupa juga dilakukan di makam tokoh aulia dan ulama di beberapa desa lain di Kecamatan Gondang.

Menurut Yasfud, selain di waktu menjelang Ramadan, agenda ziarah Makam Ki Ageng Keniten juga rutin dilakukan jemaahnya setiap Jumat Pahing.

"Tujuannya untuk mengharap berkah dari Allah SWT dan syiar agama menyambut Bulan Suci Ramadan," imbuhnya.

Merujuk Portal Pemdes Karangsemi, Ki Ageng Keniten disebutkan sebagai senopati perang yang diutus Raja Mataram, untuk mengamankan kawasan timur dari berbagai gangguan, mulai dari perampokan hingga wabah penyakit.

Dalam perjalanannya, Ki Ageng Keniten sempat berdoa memohon petunjuk di bawah pohon Manisah, yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Desa Pujon Manis.

Dikenal cerdik, ia kerap menyamar sebagai rakyat biasa bernama Ki Projo Sentono. Selain piawai dalam strategi perang, ia juga memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dan melatih ilmu kanuragan bagi para pemuda setempat.

Bertahun-tahun menjalankan tugas membuatnya tak kunjung kembali ke Mataram. Raja yang penasaran mengirim telik sandi dan mendapat kabar bahwa wilayah timur telah aman, namun Ki Ageng Keniten memilih tetap tinggal demi membantu masyarakat.

Upaya penjemputan secara paksa pun berujung pertempuran pertama, di mana pasukan Mataram mengalami kekalahan. Mengetahui kesaktian sang senopati, raja kemudian mengirim putrinya yang menyamar sebagai penjual jamu bernama Roro Kuning untuk mencari kelemahannya. Siasat itu berhasil membuka jalan bagi serangan kedua.

Pertempuran kembali pecah di wilayah Desa Miren. Kali ini pasukan Mataram unggul jumlah dan berhasil memukul mundur pengikut Ki Ageng Keniten ke arah utara. Dalam pelarian, ia terluka oleh tombak dan anak panah hingga akhirnya gugur di tepi sungai yang kini dikenal sebagai Dusun Pancar.

Sebelum wafat, ia mengungkap jati dirinya sebagai utusan resmi kerajaan dan berpesan agar tidak bertempur secara keroyokan karena dianggap tidak ksatria.

Ia meminta dimakamkan di utara sungai, namun derasnya hujan malam itu mengubah aliran sungai sehingga makamnya justru berada di sisi yang kini disebut utara.

Makam Ki Ageng Keniten yang dikenal sebagai Mbah Karang Mangklo kini berada di Desa Karangsemi. Warga setempat rutin menggelar tradisi tumpengan setiap malam Jumat Pahing, Bersih Desa Nyadran setiap tahun, hingga ziarah menjelang Bulan Ramadan.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads