Di antara hiruk pikuk muda-mudi yang menghabiskan malam di Jalan Tunjungan, seorang pria paruh baya duduk di trotoar dengan ransel dan selembar kertas yang di-laminating dan sudah lusuh. Kertas itu bertulisan "Terapi Pijat Tangan & Kaki "Pak Irfan".
Ia adalah Irfan Supriyadi (58). Di kertas itu dia tuliskan juga alamat rumahnya di kawasan Peneleh Surabaya, lengkap dengan nomor teleponnya. Selain mangkal di Tunjungan, dia bersedia saat dipanggil ke rumah.
Setiap malam, Irfan mulai mangkal di Jalan Tunjungan selepas Maghrib hingga tengah malam. Pelanggannya beragam. Tidak ada patokan harga. Siapa pun boleh membayar seikhlasnya, termasuk turis-turis mancanegara yang sering menggunakan jasa pijatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nama saya Irfan Supriyadi. Profesi tukang pijat panggilan yang mangkal di Jalan Tunjungan 1 dan depan optik Seis," ujarnya mantap saat ditemui detikJatim.
Eks guru honorer yang banting setir jadi tukang pijat di Jalan Tunjungan. Simak perjalanannya. (Foto: Jihan Navira/detikJatim) |
Mantan Guru Honorer
Dahulu tidak seperti ini. Jauh sebelum dia duduk atau berjongkok di trotoar Jalan Tunjungan menunggu pelanggan, Irfan adalah seorang guru. Dia telah menghabiskan 27 tahun hidupnya untuk mengajar di ruangan kelas sebagai seorang guru honorer.
Irfan pensiun dini pada usia 55 tahun. Tiga tahun lebih cepat dari masa pensiun seharusnya, yakni di usia 58 tahun. Keputusan itu bukan karena dia sudah tidak mampu mengajar, dia mengaku sebenarnya masih sangat 'kerasan' mengajar di kelas.
"Kalau ditanya masih pengen jadi guru, saya itu masih kerasan. Saya mampu untuk mengajar murid-murid, masih ada kemampuan lah. Cuma gimana lagi, apa boleh buat," ujarnya pasrah masih dengan senyum yang tetap tersungging dengan ramah di wajahnya.
Realitas berkata lain. Kebutuhuan ekonomi membuatnya harus mengambil keputusan besar dan keluar dari zona nyaman. Dia telah mengajar sejak honornya masih Rp 50.000 per bulan hingga Rp 1.700.000 per bulan termasuk untuk mengajar sejumlah ektrakurikuler.
Tapi dengan penghasilan segitu, kebutuhan ekonomi rumah tangganya justru makin tak terpenuhi. Apalagi dia masih harus membiayai 2 anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
"Sampai saat ini ya lumayan agak ringanan sedikit lah, mulai bisa membayar cicilan hutang. Mau tak mau saya harus berjuang setiap malamnya seperti ini," katanya.
Kisah Irfan ini mencerminkan polemik guru honorer yang belum menemui titik terang. Pengabdian panjang tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. Profesi yang dijalani dengan panggilan jiwa justru menuntut berkorban secara ekonomi.
"Makanya itu kan guru disebut pahlawan tanda jasa, ya," ujar Irfan sambil tersenyum.
Guru Bukan Cita-cita
Menjadi guru sebenarnya bukan cita-cita dan tujuan awal Irfan menginjakkan kaki di Surabaya pada 1992. Sebelum menikah dengan perempuan Peneleh, ia aktif di Sanggar Gitomaron Jawa Timur untuk belajar tari modern dan sering membantu tata busana dan dekorasi pementasan lokal hingga internasional.
Jalan hidupnya berubah saat tetangga asal Medan memintanya untuk membantu mengerjakan tugas Bahasa Jawa anaknya. Nilainya sempurna, 100. Permintaan les kemudian menyebar dari mulut ke mulut di Kampung Plampitan.
"Saya bersedia membantu karena itu sesuai dengan pelajaran saya dulu. Karena hasilnya dapat 100, ibunya langsung minta tolong ke saya 'wes, tak lesno ndek sampean ae, Pak, pelajaran apa pun' (saya les kan anak saya dengan Bapak saja, pelajaran apa pun)," ujar Irfan.
Irfan mengaku dirinya tidak mematok harga untuk itu. Permintaan les kemudian menyebar dari mulut ke mulut di Kampung Plampitan. Irfan yang masih tergabung dalam sanggar merasa dirinya banyak waktu luang, akhirnya memutuskan untuk menjadi guru les di kampung itu dengan upah sukarela.
"Pimpinan sanggar sangat memahami, tidak ada pengekangan dan tidak ada gaji bulanan. Jika diberi uang, makan, dan tempat tidur di sanggar, saya anggap itu sebagai gaji," kata Irfan perantau asal Bangsalsari, Jember itu.
Kabar dia mengajar les di Kampung Plampitan terdengar seorang kepala madrasah di kawasan Jembatan Merah yang selanjutnya memintanya untuk menjadi guru kelas 6.
Awalnya Irfan sempat ragu karena harus belajar dulu sebelum menerima tanggung jawab mengajar semua mata pelajaran termasuk olahraga kecuali agama dan Bahasa Inggris. Meski hanya lulusan SMA, Irfan masih paham pelajaran dasar, hingga akhirnya ia mulai menerima tawaran dan mengajar pada 1995-1996.
Setelah itu, ia kembali mendapat tawaran kerja di sekolah lain oleh kepala sekolah yang pertama karena belum ada guru yang mengisi mata pelajaran olahraga. Karena sesuai minatnya, Irfan pun tertarik dan mengajar di MI keduanya pada 1997 dan berhenti dari sekolah sebelumnya.
Eks guru honorer yang banting setir jadi tukang pijat di Jalan Tunjungan. Simak perjalanannya. (Foto: Jihan Navira/detikJatim) |
Pensiun Dini sebagai Guru Honorer
Meski guru bukan rencana awalnya ketika memutuskan untuk merantau di Surabaya, Irfan sangat menikmati profesinya. Hingga tak terasa dia telah mengajar selama puluhan tahun.
Bahkan dirinya juga melamar di beberapa sekolah lain untuk mengajar ekstrakurikuler olahraga dan samroh karena guru ekstrakurikuler hanya satu minggu sekali dan jadwalnya bisa diatur.
"Gaji terakhir saya itu (Rp 1,7 juta), total keseluruhan dari saya mengajar di banyak sekolah sebagai guru ekstrakurikuler," ujar Irfan.
Namun, meski ia kerap kali membawa murid-muridnya berprestasi, karirnya sebagai guru pun harus terhenti.
"Istilahnya saya itu kan 'mbabat alas' ya, karena mengawali pelajaran olahraga di sekolah tersebut. Tapi saya berhenti mengajar sekaligus menjadi guru di semua sekolah termasuk sekolah kedua saya yang saat itu berada di bawah kepala sekolah yang kelima," ujar Irfan.
Bukan karena tak mampu mengajar atau karena minimnya upah yang ia terima, Irfan berhenti karena rasa trauma akibat mutasi serampangan yang memosisikan dirinya menjadi satpam dan tenaga pertukangan di sekolah pertama yang menjadi tempatnya mengabdi sebagai guru olahraga.
"Saya dipindah ke satpam dan pertukangan. Saya mengalami tekanan batin, mengapa saya diperlakukan seperti ini? Anak-anak juga seperti tidak menghormati seperti waktu saya jadi guru. Akhirnya saya rembug sama istri, saya pensiun saja," tuturnya.
Keputusan Irfan banting setir dari guru honorer menjadi tukang pijat di trotoar Jalan Tunjungan bukan perkara mudah. Dukungan keluarga membuatnya mantap menjalani pekerjaan barunya.
Ia mengaku istri dan kedua anaknya tidak mempermasalahkan perubahan itu. Baginya yang terpenting adalah pekerjaan itu halal, sama seperti seluruh pekerjaan yang ia jalani sejak merantau ke Surabaya pada 1992.
"Anak-anak tidak masalah, apalagi istri saya. Yang penting halal. Malah anak saya sering mengajak temannya menemui saya saat bekerja," ujarnya.
Awal Mula Jadi Tukang Pijat
Kemampuan memijat ternyata bukan hal yang benar-benar baru baginya. Ia sempat bertanya kepada ibunya apakah ada leluhur yang memiliki kemampuan serupa. Sang ibu menyebut memang ada anggota keluarga yang menjadi tukang pijat sekaligus pengobat alternatif.
"Ternyata saya ada garis keturunan dari nenek moyang," kata Irfan.
Awal mula Irfan terjun ke dunia pijat juga terjadi tanpa rencana. Dia sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah kios jamu. Dalam obrolan santai ia tiba-tiba melontarkan keinginan untuk mencoba menjadi tukang pijat.
"Secara tidak sengaja saya bilang, 'saya mau tukar pijat saja'," kenangnya.
Temannya yang memiliki kios jamu memang biasa melakukan pijat titik. Dari situlah Irfan mendapat dorongan untuk mencoba belajar. Ia kemudian bertemu seorang pria lanjut usia di kampungnya yang berjalan menggunakan tongkat.
Melihat kondisi pria itu, muncul keinginan dalam diri Irfan membantunya. Ia menawarkan diri memijatnya, berbekal niat menolong tanpa mengharapkan bayaran.
"Saya tidak punya niat dibayar, benar-benar ikhlas ingin membantu," ujarnya.
Setelah dipijat, pria yang bekerja di Kebun TPA itu mengaku merasakan perubahan pada bagian urat yang sebelumnya membuatnya berjalan terbata-bata. Respons tersebut justru membuat Irfan terkejut.
Pengalaman itu menjadi titik awal yang membuatnya mulai dikenal. Dari satu orang ke orang lain, permintaan pijat mulai berdatangan hingga akhirnya ia menekuni pekerjaan tersebut secara serius hingga sempat membuatnya kelelahan dan jatuh sakit sebelum Pandemi COVID-19.
Jadi Tukang Pijat Nggak Boleh Polos
Irfan pun sempat pulang kampung di Jember dan berguru kepada pamannya selama 1 minggu. Ia dibekali minyak pijat Kalimantan serta doa sebelum kembali ke Surabaya dan membuka praktik di Jalan Tunjungan.
"Saya pulang ke kampung dan bercerita kepada ibu. Saya langsung disuruh menemui paman untuk terapi. Setelah konsultasi, saya justru disalahkan karena langsung terjun menjadi tukang pijat tanpa bekal. Paman memberi wejangan bahwa menjadi tukang pijat tidak boleh polos. Saya juga sempat berguru selama satu minggu," kata Irfan.
Tak disangka, aktivitasnya di trotoar viral di TikTok berkat seorang fotografer yang membantunya dalam konten pribadinya. Sejak itu banyak pelanggan datang termasuk wali murid dan mantan murid yang dulu pernah ia ajar. Pertemuan itu menjadi momen yang paling berkesan hingga menjadi rezeki tersendiri baginya.
"Bisa ketemu murid-murid lagi itu senang sekali. Alhamdulillah, mereka masih ingat lah. Selama jadi tukang pijat, dia mungkin merasa prihatin. Dari seorang guru, jadi tukang pijat itu, yang sangat memprihatinkan, katanya gitu," tuturnya.
Bagi Irfan, profesi boleh berubah, tetapi identitasnya sebagai pendidik tetap melekat. Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan guru honorer agar tidak banyak lagi tenaga pendidik yang harus beralih profesi demi mencukupi kebutuhan hidup.
"Entah itu pemerintah kota atau pusat, tolonglah guru honorer betul-betul diperhatikan. Karena seorang guru ini dikatakan pahlawan tanpa jasa. Presiden pun kalau nggak ada guru nggak akan jadi presiden, ya. Alhamdulillah saya cukup meskipun gaji kecil, saya bisa makan dan menyekolahkan anak, saya bersyukur," ujarnya.
(irb/dpe)


