Karnaval sound horeg di Desa Medali, Puri, Kabupaten Mojokerto viral dan jadi sorotan karena digelar sampai subuh dan mengganggu orang. Meski demikian, polisi tak membubarkannya karnaval bertajuk Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 itu.
Kapolsek Puri AKP Sutakat menjelaskan, karnaval sound horeg di Desa Medali berlangsung sampai subuh karena jumlah peserta mencapai 32 kelompok. Tak hanya itu truk pengangkut sound horeg juga banyak yang mogok.
Kendala lainnya, selama karnaval banyak kabel wifi dan listrik terlalu rendah membentang di atas jalan hingga memperlambat jalannya kirab. "Akhirnya molor seperti itu," kata Sutakat kepada detikJatim, Senin (16/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutakat membandingkan gelaran serupa di Desa Plososari pada Minggu (15/2). Menurutnya, karnaval disertai sound horeg di kampung ini berakhir sekitar pukul 23.00 WIB karena jumlah peserta hanya 22 regu saja.
Sutakat juga menyebut MSC 2026 di Desa Medali telah mengantongi izin dari Polres Mojokerto. Menurutnya, izin diberikan maksimal sampai pukul 23.00 WIB. Pihaknya pun menegur panitia ketika waktu telah habis.
"Karena peserta terlalu banyak sehingga molor. Kami sampaikan ke panitia kalau waktunya sudah habis. Dari panitia menyampaikan belum selesai. Akhirnya kami komunikasi dengan panitia dan masyarakat di situ, akhirnya kami lanjutkan sampai sekitar jam 4," terangnya.
MSC 2026 di Desa Medali yang menuai kritik warganet, tambah Sutakat, menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian. "Itu menjadi evaluasi, nanti kami sampaikan ke polres. Mudah-mudahan ada evaluasi ke depannya supaya tidak seperti ini lagi," tegasnya.
Kepala Desa Medali, Miftahuddin menjelaskan, MSC 2026 berlangsung pada Sabtu (14/2) mulai sekitar pukul 14.00 WIB. Karnaval ini menampilkan 32 regu dari semua RT, karang taruna, para pelaku UMKM, serta Pemerintah Desa Medali. Mereka kirab mengelilingi desa tersebut.
Setiap peserta diiringi satu set sound horeg. Sehingga jumlah sound horeg dalam karnaval ini mencapai 32 set. Tidak hanya itu, para peserta juga menghadirkan dancer sound horeg terkenal, seperti Icha Chellow, Viona Angeline, Dhesy Angga.
"Medali Spectacular Carnival untuk melestarikan dan mengenalkan kepada khalayak umum bahwa Desa Medali ini masih melestarikan budaya dan sejarah. Paling penting out put kami mengenalkan Desa Medali sentra alas kaki, wujud rasa syukur, mendoakan para leluhur, ini setiap tahun menyambut Ramadan dengan menampilkan kirab budaya," jelasnya kepada detikJatim, Senin (16/2/2026).
Puluhan regu peserta karnaval, lanjut Miftahuddin, menyuguhkan penampilan dengan tema masing-masing. Mereka mengusung nilai sejarah dan budaya sebelum Majapahit, selama Majapahit, serta setelah Majapahit.
Hanya saja memang setiap regu diiringi sound horeg. Selain kirab, setiap regu wajib menampilkan kreasinya masing-masing di depan balai Desa Medali.
"Kami tidak memilih sound horeg. Sejak dulu kalau kirab pakai sound, tapi kan sound rumahan. Karena perkembangan zaman, kami tidak bisa menghalangi masyarakat menyewa sound yang ternama. Itu hasil musyawarah mufakat masyarakat di tingkat desa. Itu yang kami jadikan patokan. Kami tidak mewajibkan masyarakat pakai sound," terangnya.
Karnaval budaya dan sound horeg ini ternyata dilombakan. Menurut Miftahuddin, panitia MSC 2026 menilai masing-masing regu berdasarkan penampilan terkait sejarah dan budaya, serta kualitas sound yang mereka sewa.
"Kami lombakan, yang kami nilai penampilan mereka tentang sejarah dan budaya, mereka punya tema dan judul untuk tampilan, tapi kami juga memfestivalkan sound itu, penilaian kami konsepnya, suaranya bagus, jernih, lighting dan videotron, bukan horegnya," ujarnya.
Menurut Miftahuddin, MSC kali ini menghabiskan biaya yang sangat besar. Sumbernya dari iuran masyarakat yang disokong sumbangan para pelaku UMKM bidang alas kaki, konveksi dan pertanian di Desa Medali.
"Kalau rata-rata Rp 50 juta per peserta, tinggal dikalikan 32 peserta, Rp 1,6 miliar," ungkapnya.
Untuk menonton langsung karnaval ini, ribuan pengunjung setidaknya harus membayar penitipan kendaraan Rp 20-30 ribu. Sedangkan bagi yang ingin menikmati dari kursi VIP harus membayar Rp 100.000/orang, sedangkan kursi VVIP Rp 250.000/orang.
"Kami kan menyiapkan tempat dan fasilitas di balai desa yang itu tidak gratis. Konsep itu juga terjadi Gondanglegi, Malang. Namun, kami tidak cari keuntungan. Penitipan motor dan mobil sudah umum kalau ada karnaval Rp 20-30 ribu. Dasarnya waktunya panjang, dikembalikan untuk penjaga parkir, konsumsinya, karena yang jaga parkir ratusan orang. Kami tidak ingin terjadi kehilangan kendaraan," tandasnya.
Sebelumnya, karnaval sound horeg di Desa Medali, Puri, Kabupaten Mojokerto viral dan jadi perbincangan warganet di media sosial. Pasalnya acara bertajuk Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 digelar sampai subuh.
Karnaval berlangsung pada Sabtu (14/2) mulai sekitar pukul 14.00 WIB. Karnaval ini menampilkan 32 regu dari semua RT, karang taruna, para pelaku UMKM, serta Pemerintah Desa Medali. Mereka kirab mengelilingi desa tersebut.
Setiap peserta diiringi satu set sound horeg. Sehingga jumlah sound horeg dalam karnaval ini mencapai 32 set. Tidak hanya itu, para peserta juga menghadirkan dancer sound horeg terkenal, seperti Icha Chellow, Viona Angeline, Dhesy Angga.
Namun, MSC 2026 menuai kritik dari warganet. Mereka menyayangkan karnaval yang diiringi sound dengan suara menggelegar itu berlangsung dari sore sampai subuh dan mengganggu ketenangan sebagian masyarakat.
(irb/abq)
