6 Fakta Karnaval Sound Horeg Sampai Subuh di Mojokerto Telan Biaya Rp 1,5 M

6 Fakta Karnaval Sound Horeg Sampai Subuh di Mojokerto Telan Biaya Rp 1,5 M

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Selasa, 17 Feb 2026 09:45 WIB
Soung horeg di Desa Medali, Mojokerto yang digelar samppai subuh
Sound horeg di Mojokerto/Foto: Dok. Istimewa/tangkapan layar
Mojokerto -

Gelaran Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 di Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, mendadak jadi sorotan nasional. Karnaval budaya yang menghadirkan puluhan sound horeg itu viral di media sosial lantaran berlangsung dari siang hingga menjelang subuh dan menuai gelombang protes warganet.

Di balik kemeriahan 32 regu peserta yang menampilkan sound horeg berdaya besar, penari ternama, hingga arak-arakan budaya, terungkap fakta mengejutkan. Total dana yang dihabiskan dalam acara tersebut ditaksir mencapai Rp 1,6 miliar.

Berikut fakta-fakta lengkapnya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Karnaval 32 Sound Horeg Digelar Sejak Siang

Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 digelar pada Sabtu (14/2) mulai pukul 14.00 WIB di Desa Medali dan diikuti 32 regu yang terdiri dari RT, Karang Taruna, pelaku UMKM, hingga Pemerintah Desa Medali. Setiap regu membawa satu set sound horeg lengkap dengan penari populer seperti Icha Chellow, Viona Angeline, dan Dhesy Angga, yang membuat suasana karnaval semakin meriah dan menyedot perhatian warga.

Namun, kemeriahan itu ternyata berlangsung jauh di luar perkiraan, karena karnaval terus berjalan hingga dini hari dan baru berakhir sekitar pukul 04.30 WIB.

ADVERTISEMENT

2. Warganet Murka: Suara Tak Berhenti hingga Azan Subuh

Durasi acara yang molor memicu kemarahan warganet, terutama karena suara dentuman sound horeg terus terdengar hingga waktu salat subuh. Sejumlah komentar bernada protes ramai bermunculan di media sosial.

"Boleh ya min acara 24 jam, yang lain kok tidak boleh, ada apa ini, acara khusus bagi warga yang budek," tulis akun @wulanxxx di salah satu postingan MSC.

Keluhan juga disampaikan warganet yang merasa terganggu saat waktu ibadah tiba.

"Tolong min, ampe jm 04.50 sek muni banter. Bahkan azan subuh gk leren dilut. Azan ambek horeg podo lomba saut2an," cetus akun @novitaxxx.

Bahkan, suara dentuman sound horeg itu dilaporkan terdengar hingga desa lain yang jaraknya cukup jauh.

"Mosok mbak azan subuh ae gak mandek setengah jam pie terusan azan jek krungu dung dung dung ng desoku padahal desoku mbek medali jarake adoh," ujar akun @mushaxxx.

3. Kepala Desa Ungkap Dana Fantastis Rp 1,6 Miliar

Kepala Desa Medali, Miftahuddin, membenarkan bahwa acara tersebut memang molor dari jadwal yang direncanakan. Ia juga mengungkapkan bahwa total biaya karnaval ditaksir mencapai Rp 1,6 miliar.

"Kalau rata-rata Rp 50 juta per peserta, tinggal dikalikan 32 peserta, Rp 1,6 miliar," ungkap Miftahuddin kepada detikJatim, Senin (16/2/2026).

Dana tersebut, menurutnya, berasal dari iuran masyarakat serta sumbangan pelaku UMKM alas kaki, konveksi, hingga sektor pertanian yang ada di Desa Medali.

4. Alasan Desa: Promosi Budaya dan Sentra Alas Kaki

Miftahuddin menegaskan bahwa Medali Spectacular Carnival memiliki tujuan budaya dan ekonomi, bukan sekadar hiburan semata. Ia menyebut acara ini sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus promosi potensi desa.

"Medali Spectacular Carnival untuk melestarikan dan mengenalkan kepada khalayak umum bahwa Desa Medali ini masih melestarikan budaya dan sejarah. Paling penting out put kami mengenalkan Desa Medali sentra alas kaki, wujud rasa syukur, mendoakan para leluhur, ini setiap tahun menyambut Ramadan dengan menampilkan kirab budaya," jelasnya.

Terkait penggunaan sound horeg berdaya besar, ia menegaskan hal itu merupakan hasil musyawarah warga.

"Kami tidak memilih sound horeg. Sejak dulu kalau kirab pakai sound, tapi kan sound rumahan. Karena perkembangan zaman, kami tidak bisa menghalangi masyarakat menyewa sound yang ternama. Itu hasil musyawarah mufakat masyarakat di tingkat desa," terangnya.

5. Desa Mengaku Dilema Hentikan Acara

Pemerintah desa mengaku berada dalam posisi sulit ketika karnaval berjalan jauh dari jadwal. Jika dihentikan, panitia khawatir akan memicu protes dari para peserta yang telah mengeluarkan biaya besar.

"Harusnya selesai jam 12 malam, sampai jam 04.30. Kalau kami setop karnavalnya, malah kami diprotes peserta. Karena mereka persiapan habis banyak ternyata diberhentikan," tandas Miftahuddin.

6. Polisi Sebut Izin Hanya Sampai Pukul 23.00 WIB

Pihak kepolisian turut memberikan penjelasan terkait mengapa acara tetap berlangsung hingga subuh. Kapolsek Puri, AKP Sutakat, menyebut izin keramaian sejatinya hanya diberikan sampai pukul 23.00 WIB.

"Karena peserta terlalu banyak sehingga molor. Kami sampaikan ke panitia kalau waktunya sudah habis. Dari panitia menyampaikan belum selesai. Akhirnya kami komunikasi dengan panitia dan masyarakat di situ, akhirnya kami lanjutkan sampai sekitar jam 4," kata Sutakat.

Ia menjelaskan molornya acara dipicu kendala teknis di lapangan, mulai dari kabel listrik yang terlalu rendah hingga truk peserta yang mogok. "Itu menjadi evaluasi, nanti kami sampaikan ke polres. Mudah-mudahan ada evaluasi ke depannya supaya tidak seperti ini lagi," tegasnya.

Gelaran MSC 2026 pun kini menjadi bahan evaluasi banyak pihak, mulai dari pemerintah desa hingga aparat, sekaligus memicu perdebatan publik soal batas hiburan, kebisingan, dan ketertiban di ruang publik.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Kebahagiaan Sederhana Tanpa Gadget di Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads