Terompet Peninggalan Belanda Berusia 2 Abad Masih Nyaring di Probolinggo

Terompet Peninggalan Belanda Berusia 2 Abad Masih Nyaring di Probolinggo

M Rofiq - detikJatim
Selasa, 24 Feb 2026 12:30 WIB
Terompet sirine peninggalan Belanda di Probolinggo yang masih nyaring sampai sekarang
Terompet sirine peninggalan Belanda di Probolinggo yang masih nyaring sampai sekarang/Foto: M Rofiq/detikJatim
Probolinggo -

Kota Probolinggo ternyata menyimpan benda peninggalan Belanda yang hingga kini masih rutin digunakan. Benda bersejarah tersebut berupa sirine berbentuk terompet yang konon dibuat pada tahun 1824.

Pada masa kolonial, sirine terompet ini difungsikan sebagai penanda adanya ancaman atau bencana. Seiring waktu, fungsinya berubah. Sirine tersebut kini digunakan sebagai penanda momen-momen penting, mulai dari BeritaKlik-BeritaKlik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hingga penanda waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan.

Sirine berbentuk terompet itu berdiri di atas menara rangka besi setinggi sekitar 22 meter. Lokasinya berada di dalam area Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, tepat di sebelah selatan masjid setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski usianya telah lebih dari satu abad, sirine terompet ini masih berfungsi dengan baik. Sistem kerjanya kini menggunakan tenaga listrik dengan tiga motor penggerak berupa dinamo. Ketiga motor tersebut membuat terompet berputar dan menghasilkan suara nyaring yang mampu terdengar hingga radius hampir satu kilometer.

ADVERTISEMENT

Dari Benteng Belanda ke Kantor Pemkot

Pada masa kolonial, sirine terompet ini merupakan milik pemerintah Belanda dan ditempatkan di benteng pertahanan di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Setelah wilayah tersebut dikuasai Tentara Nasional Indonesia, benteng beralih fungsi menjadi benteng TNI, termasuk sirine terompetnya.

Seiring perkembangan zaman, sirine ini telah berpindah lokasi hingga tiga kali. Mulai dari benteng pertahanan di Mayangan, kemudian dipindahkan ke Kantor DPRD setempat, hingga akhirnya ditempatkan di area Kantor Pemerintah Kota Probolinggo seperti sekarang.

Al Amin, staf Dinas Perhubungan Kota Probolinggo yang juga menjadi perawat sirine terompet mengatakan, perawatan dilakukan secara intensif dan berkala, terutama menjelang bulan Ramadan dan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

"Setiap bulan puasa kami nyalakan saat adzan Maghrib sebagai penanda berbuka. Menjelang 17 Agustus juga kami lakukan pengecekan karena dibunyikan saat BeritaKlik-BeritaKlik Proklamasi," ujar Al Amin, Selasa (24/2/2026).

Bahkan selama Ramadan, sirine dibunyikan dua kali sehari, yakni pukul 10.00 WIB dan saat waktu berbuka puasa. Untuk memastikan performanya tetap optimal, tim melakukan pengecekan instalasi listrik serta menjaga kestabilan daya.

Mengingat terdapat tiga motor penggerak, setiap komponen harus dipastikan dalam kondisi kencang dan berfungsi normal. Namun, perawatan sirine ini bukan tanpa tantangan.

Menurut Al Amin, sejumlah suku cadang tergolong langka di pasaran. Beberapa komponen seperti gear bahkan harus dibuat khusus di bengkel bubut karena tidak tersedia di toko onderdil.

Saat dibunyikan, suara terompet tua ini masih terdengar nyaring dan mampu menjangkau hampir satu kilometer. Khusus sebagai penanda berbuka puasa, sirine dibunyikan selama kurang lebih satu menit.




(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads