Khotbah Jumat Ramadhan: Menggapai Rahmat Allah di Bulan Penuh Ampunan

Khotbah Jumat Ramadhan: Menggapai Rahmat Allah di Bulan Penuh Ampunan

Irma Budiarti - detikJatim
Jumat, 27 Feb 2026 06:30 WIB
Ilustrasi mendengarkan khotbah saat salat Jumat.
Ilustrasi mendengarkan khotbah saat salat Jumat. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Khotbah Jumat merupakan salah satu sarana penting dalam mengingatkan umat Islam untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Melalui khotbah, khatib menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menjadi pedoman hidup, sekaligus mengajak jamaah untuk merenungi hakikat kehidupan dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Terlebih saat berada di bulan Ramadhan, momentum ini menjadi semakin istimewa karena setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Khotbah Jumat menjadi pengingat agar setiap Muslim mampu memanfaatkan Ramadhan sebagai sarana meningkatkan kualitas iman dan meraih ridha-Nya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teks Khotbah Jumat Bulan Ramadhan

Berikut ini adalah teks khotbah Jumat yang membahas tentang pentingnya memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum meraih rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.

Melalui khotbah ini, jamaah diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta menjadikan Ramadhan sebagai sarana memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih bertakwa.

ADVERTISEMENT

1. Khutbah Jumat: Tiga Tingkatan Orang yang Berpuasa Ramadhan, Mengapa Puasa Anda Bisa Berbeda?

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur alhamdulillahi Rabbil 'alamin, mari senantiasa kita ucapkan melalui lisan dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua tanpa terhitung jumlahnya.

Khususnya kita masih diberi kesempatan untuk beribadah dan berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, ampunan, dan limpahan rahmat dari Allah. Semoga setiap ibadah yang kita lakukan di dalamnya diterima sebagai amal saleh dan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli wa sallim wa barik 'alaih, yang telah menjadi panutan dan teladan sempurna bagi kita semua dalam menjalankan kehidupan di dunia, khususnya beribadah di bulan Ramadhan. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya, dan mendapatkan syafaatnya kelak di akhirat. Amin ya Rabbal 'alamin.

Sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku Khatib, untuk senantiasa mengingatkan jamaah shalat Jumat agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, yaitu dengan terus istiqamah dalam menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Dengan takwa, itu artinya kita sedang mempersiapkan bekal untuk kita bawa menuju akhirat, karena pada hakikatnya, dunia adalah tempat kita menanam, dan akhirat tempat kita memanen. Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya, "Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Surat Al-Baqarah ayat 197).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Tidak terasa kita semua sudah berada di pertengahan akhir bulan Ramadhan. Tidak lama lagi bulan mulia nan penuh berkah akan segera meninggalkan kita semua.

Namun perlu kita syukuri, bahwa dengan berpuasa di bulan ini, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, serta kedisiplinan dalam menjalankan perintah Allah.

Sebab, inilah spirit dari tujuan puasa itu sendiri, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Surat Al-Baqarah ayat 183).

Perlu kita ketahui bersama, setiap orang yang berpuasa di bulan Ramadhan memiliki cara dan pemahaman yang berbeda. Ada yang sekadar menahan diri dari makan dan minum.

Ada juga yang juga menahan ucapan untuk tidak berkata kotor, menahan mata untuk tidak melihat sesuatu yang dilarang dalam Islam. Ada pula yang benar-benar menjadikannya sebagai momen untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.

Karena itu, Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid I, halaman 234, mengatakan, derajat orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga:

Puasa orang awam.

Puasa orang pilihan.

Puasa orang yang sangat istimewa.

Seperti apa kriteria dari masing-masing ketiganya? Imam Al-Ghazali menjelaskan:

أَمَّا صَوْمُ الْعُمُوْمِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ. وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ. وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الْخُصُوْصِ فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ بِالْكُلِّيَّةِ

Artinya, "Adapun puasa orang awam, yaitu menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Adapun puasa orang pilihan, yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Sedangkan puasa orang yang sangat istimewa, yaitu puasa hati dari keinginan-keinginan rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah secara total."

Lantas, di tingkatan manakah puasa kita berada?

Apakah kita masih berada dalam tingkatan awam yang sekadar menahan lapar dan dahaga?

Ataukah kita sudah berusaha menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat, sebagaimana puasanya orang-orang pilihan?

Atau bahkan, kita telah mencapai puncak kesempurnaan dengan menjaga hati dari segala sesuatu selain Allah?

Sisa-sisa Ramadhan yang masih ada ini merupakan waktu yang tepat untuk merenungi hal ini, agar puasa yang kita jalani tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar menjadi jalan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah swt.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sebab itu, mari kita manfaatkan sebaik mungkin sisa-sisa bulan Ramadhan yang masih ada ini, dengan meningkatkan value puasa kita menjadi lebih baik dan terus meningkat. Jangan biarkan BeritaKlik-BeritaKlik yang tersisa berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan dalam ibadah dan ketakwaan kita.

Jika sebelumnya kita masih berada di tingkatan puasa orang awam, maka berusahalah naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Jika kita telah berada di tingkatan puasa orang pilihan, maka berupayalah untuk sampai pada puncaknya, yaitu puasanya hati yang benar-benar terhubung kepada Allah.

Demikian adanya khutbah Jumat perihal tiga tingkatan derajat orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Semoga khutbah ini tidak hanya menjadi pengingat, tetapi juga menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, khususnya dalam menjalankan puasa.

Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan meraih derajat puasa yang lebih tinggi di sisi-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

2. Khutbah Jumat: Sedekah Sebagai Peredam Murka Allah dan Amalan yang Mampu Mengubah Takdir

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى أَمَّا بَعْدُ

فَيَاعِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Di hari yang mulia ini Khatib berwasiat kepada hadirin sekalian khususnya untuk diri khatib pribadi, untuk selalu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ta'ala. Dengan selalu menjaga perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Karena dengan ketakwaan kita berharap bisa menggapai ridha Allah dan ampunan-Nya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Kita tahu bahwa Baginda nabi Muhammad saw merupakan pribadi yang sangat dermawan, terutama di bulan Ramadhan, sebagaimana diriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya, "Dari sahabat Ibnu Abbas: 'Rasulullah saw adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau nabi semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan'." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini dikarenakan beliau mengetahui betul bahwa dermawan adalah sifat utama yang dimiliki oleh orang-orang pilihan. Beliau juga menjelaskan tentang pentingnya sedekah tidak hanya untuk saling peduli pada lingkungan sekitar, namun dengan sedekah pula kemurkaan Allah bisa dipadamkan. Nabi saw bersabda:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِىُّ غَضَبَ الرَّبِّ

Artinya, "Sedekah yang dilakukan secara rahasia dapat memadamkan kemarahan Allah ta'ala." (HR At-Tirmidzi).

Karenanya, sedekah menjadi penting sekali untuk kita yang selalu menyulut kemarahan Allah baik sengaja ataupun tidak. Kita tentu sadar bahwa kita merupakan manusia yang menjadi tempat lupa dan alpa, maka sudah sepantasnya kita mengetahui amalan amalan yang memantaskan kita mendapat ampunan dari Allah ta'ala.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Sedekah merupakan simbol kebaikan pada diri seorang mukmin. Sedekah tidaklah bisa dilakukan oleh orang orang kecuali mereka yang memiliki rasa welas asih. Artinya memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada semua makhluk.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam mukadimah kitab Nashaihul 'Ibad mengisahkan:

"Suatu ketika ada seseorang yang berjumpa Imamِl-Ghazali dalam mimpi. Lalu orang tersebut bertanya: 'Bagaimana Allah memperlakukanmu wahai Imam?'

Imam Al-Ghazali mengisahkan, di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang diserahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menjawab dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah dijalani di dunia.

"Aku (Allah) menolak itu semua!" Ternyata Allah menolak berbagai amalan Imam Al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.

Sebab suatu saat, Imam Al-Ghazali sibuk menulis kitab ada seekor lalat yang mengganggunya. Lalat ini haus dan tinta yang dipakai menulis kitab sang imam diminumnya barang sedikit.

Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu. Sebab sedekah tinta kepada lalat inilah Allah berfirman kepadaku: 'Masuklah bersama hamba-Ku ke surga'.".

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Ini bukan berarti amal Imam Al-Ghazali yang lain tidak berguna. Namun kisah ini menunjukkan betapa ketulusan bersedekah mampu membawa seseorang menggapai ridha dan ampunan Allah ta'ala.

Janganlah kita meremehkan sedekah walaupun terlihat tidak bernilai. Karena sekalipun secara sekilas tidak bernilai di mata manusia, belum tentu sama dengan penilaian Allah swt. Baginda Nabi saw bersabda:

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Artinya, "Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sedekah sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, maka dengan ucapan yang baik." (HR Al-Bukhari).

Ini merupakan anjuran tegas dari Baginda Nabi saw kepada umat muslim agar tidak meremehkan sedekah walaupun sekecil biji kurma.

Terlebih sedekah di bulan Ramadhan, bulan yang mulia yang sedekah didalamnya merupakan sedekah paling utama. Sebagaimana sabda Baginda nabi ketika ditanya tentang sedekah yang paling utama:

أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya, "Rasulullah saw pernah ditanya: 'Sedekah apakah yang paling utama?' Beliau menjawab: 'Yaitu sedekah di bulan Ramadhan'." (HR At-Tirmidzi).

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Demikian khutbah di siang mulia ini. Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya diterima oleh Allah ta'ala. Amin ya Rabbal 'alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads