Konsumen Sempat Desak Penjaga Kursi Pijat Buat Ngaku Ambil Gelang Emasnya

Konsumen Sempat Desak Penjaga Kursi Pijat Buat Ngaku Ambil Gelang Emasnya

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 04 Mar 2026 21:45 WIB
Lokasi layanan kursi pijat di Stasiun Gubeng di mana salah satu penjaga jadi korban tuduhan pencurian gelang emas oleh konsumen.
Lokasi layanan kursi pijat di Stasiun Gubeng di mana salah satu penjaga jadi korban tuduhan pencurian gelang emas oleh konsumen. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Sedang ramai di media sosial seorang penjaga kursi pijat berinisial A (17) di Stasiun Gubeng Surabaya dituduh mencuri gelang emas milik konsumen. Konsumen yang mengaku kehilangan gelang emas tersebut sempat mendesak A untuk mengaku mengambil gelangnya.

Peristiwa berujung tuduhan dari konsumen perempuan kursi pijat itu terjadi pada Senin (2/2) sekitar pukul 13.00 WIB. Ibu-ibu yang menyewa kursi pijat itu mengeluhkan gelang emas miliknya hilang setelah pijat di kursi yang dijaga oleh A.

Leader Kursi Sehat di Stasiun Gubeng, Echa mengatakan, setelah tuduhan itu pihak pengelola kursi pijat segera melakukan pembongkaran kursi yang diduduki konsumen itu dan tidak menemukan gelang emas yang dimaksud.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan itu sempat mengatakan bahwa A memaksa tangannya agar dimasukkan ke kursi pijat hingga merasa kesakitan. Namun, kata Echa, apabila hal itu terjadi, seharusnya gelang itu pasti ditemukan saat dibongkar.

Echa pun membuka rekaman CCTV setelah mendengar pengakuan dari A bahwa dirinya tidak memaksa konsumen memasukkan tangan. A mengaku dia hanya menjalankan SOP pekerjaan. Hal ini sesuai dengan rekaman CCTV yang dilihat oleh Echa, A memang tidak melakukan paksaan terhadap konsumen.

ADVERTISEMENT

"Dari CCTV enggak ada pemaksaan, cuman menganjurkan, mengarahkan, bukan paksaan. Kalau paksaan kan dengan nada tinggi, tapi kalau arahan memang SOP-nya seperti itu. Dan untuk pakai gelang atau jam tangan memang diwajibkan kita untuk melepas. Kalaupun ibu itu tidak mau ngelepas gelangnya, terus diarahkan si A untuk masukin tangannya ke situ, kalau ibunya enggak mau juga enggak perlu dimasukkan. Tapi ibunya bilang kalau A memaksa, ada paksaan," ceritanya.

Malamnya, konsumen itu datang lagi dan meminta kantong A diperiksa karena dia curiga dengan sikap A yang gugup siang sebelumnya.

"Malamnya ibunya balik lagi terus bilang, 'Mbak, coba dibilang sama masnya siapa tahu di kantongnya. Soalnya tadi aku lihat masnya itu grogi, masnya itu gugup, terus jongkok ke bawah'. Jongkok ke bawah karena mesin kita di belakang. Kita ngatur timer kayak segala macam. Dia (A) nangis gemetaran karena first time kerja," jelasnya.

Video A yang jongkok di belakang kursi pijat sambil menangis juga ramai di medsos. Echa menyebut karena A merasa syok, sebab bekerja di kursi pijat itu adalah pekerjaan pertamanya, kemudian mendapati tuduhan kehilangan.

"Ya udah, kalau memang enggak ambil enggak usah takut. Makanya sampai dia duduk di bawah sampai nangis, dia nangis karena kaget, syok. Itu aja sih," katanya.

Konsumen itu juga sempat meminta A untuk mengaku dan mengembalikan gelangnya. Namun Echa mengatakan untuk mengecek CCTV lagi mulai awal hingga akhir. Hasil CCTV dari awal hingga saat di-zoom pada tangan tetap terlihat satu gelang dan konsumen masih ngotot ada dua gelang.

Kemudian konsumen mangatakan akan membawa CCTV ke Malang untuk dilihat oleh ahli CCTV.

Lalu, pada Selasa (3/3), konsumen tersebut datang lagi ke stasiun dan ditemui oleh owner kursi pijat dan A. Konsumen kembali meminta A mengaku telah mengambil gelang miliknya.

"A disuruh bilang, 'udah, Mas A bilang aja kalau ngambil. Aku enggak bakalan lapor, nanti tak kasih imbalan', kata ibunya. Karena si A-nya enggak mau ngakuin, karena itu bukan kesalahannya dia. Ya dari pihak kita ya pasti ada tuntutan balik kalau tidak terbukti," bebernya.

Hingga saat ini konsumen itu masih mempermasalahkan gelang emas miliknya yang hilang saat pijat. Namun yang bersangkutan belum melakukan pelaporan ke pihak kepolisian. Sementara A sejak hari ini diminta untuk istirahat di rumah selama 2 hari agar bisa lebih tenang.

"Cuman lisan aja untuk laporan ke hukumnya, kami masih nungguin. Kalau memang ada laporan ya kami lapor balik. Tinggal lihat aja hasil CCTV-nya kayak gimana. Kalau terbukti ya enggak tahu lagi ya. Tapi kalau dari CCTV yang kami lihat, memang enggak ada dan gelangnya cuman satu aja," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads