Pameran 'Sesudah Hujan' Ungkap Masa Lalu Sememi Kidul yang Kerap Banjir

Pameran 'Sesudah Hujan' Ungkap Masa Lalu Sememi Kidul yang Kerap Banjir

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 05 Mar 2026 18:38 WIB
Anak-anak antusias bermain banjir-banjiran di pameran Setelah Hujan di Sememi Kidul.
Anak-anak antusias bermain banjir-banjiran di pameran 'Sesudah Hujan' di Sememi Kidul. (Foto: Raihan Mahendra/detikJatim)
Surabaya -

Pameran sederhana digelar di Kampung Sememi Kidul, Kecamatan Benowo, Surabaya. Instalasi yang menggambarkan situasi Sememi Kidul di masa lalu, peta lama, hingga replika banjir dipamerkan dalam kegiatan jurnal kreatif bertajuk "Sesudah Hujan".

Pameran Sesudah Hujan ini mengajak warga mengingat kembali masa ketika kampung mereka kerap dilanda banjir. Digelar sejak 1-5 Maret 2026, pameran ini adalah bagian dari program riset dan lokakarya yang digagas Lembaga riset Center of Climate and Urban Resilience (CeCUR) Untag Surabaya.

Melalui kegiatan ini, CeCUR mencoba menggali memori warga tentang relasi mereka dengan air, termasuk banjir yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Sememi Kidul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu fasilitator kegiatan, Doni Rahma Raga P (22) mengatakan bahwa melalui banjir masyarakat bisa melihat secara nyata konsekuensi dari penataan ulang wilayah di suatu kota. Oleh karena itu pameran ini merupakan hasil dari mini riset yang dilakukan bersama warga.

"Pameran ini sebenarnya output akhir dari riset kecil yang kami lakukan di kampung ini. Kami ingin belajar dari pengalaman warga tentang bagaimana mereka beradaptasi dengan banjir," kata Doni.

ADVERTISEMENT

Doni menjelaskan bahwa pameran Sesudah Hujan ini adalah karya yang lahir dari proses belajar mengenai ingatan warga perihal bagaimana air, yang merupakan hasil dari proses hidrometeorologis bisa membentuk kehidupan di Kampung Sememi Kidul. Proses belajar itu meliputi serangkaian tahapan penelitian, lokakarya, dan produksi kreatif.

"Ada karya yang menyoroti ingatan tentang lompongan sebagai jalur limpasan air yang justru kini mulai dialihfungsikan. Misalnya memori warga tentang telaga yang kini perlahan hilang. Atau karena alih fungsi yang sebabkan banjir makin tinggi, rumah-rumah warga pun ditinggikan secara mandiri," kata Doni.

Selama ini banjir sering dipandang hanya sebagai bencana. Namun, dari cerita warga Sememi Kidul, banjir juga pernah membawa sisi lain dalam kehidupan mereka.

"Kalau kita bicara banjir biasanya konotasinya negatif. Tapi beberapa warga justru punya cerita berbeda. Ada yang senang karena saat banjir, ikan dari tambak bisa masuk ke rumah," kata Doni.

Ia mencontohkan kisah warga yang keluarganya pernah mendapat banyak ikan bandeng saat banjir datang. Ikan-ikan tersebut lepas dari tambak lalu masuk hingga ke pemukiman warga. Bagi sebagian warga di sana momen banjir justru dianggap membawa berkah karena mereka bisa menangkap ikan konsumsi yang masuk ke rumah.

Cerita itu kemudian dihadirkan kembali dalam bentuk instalasi pameran menyerupai ruang tamu rumah warga. Di dalamnya terdapat sofa mini, televisi, serta jaring dengan replika beberapa jenis ikan yang kerap ditemui saat banjir, seperti bandeng, mujair, hingga keting.

"Instalasi ini menggambarkan bagaimana banjir tak selalu dipandang sebagai musibah, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman hidup warga Sememi Kidul," jelas Doni.

Pola Dua Musim

Tambak di kawasan ini sendiri sejak dulu dimanfaatkan warga dengan pola dua musim. Saat musim hujan, lahan tambak dialihfungsikan menjadi tempat budidaya ikan seperti bandeng, mujair lima jari, mujair tiga jari, dan ikan keting. Sementara ketika musim kemarau tiba, tambak yang sama berubah menjadi lokasi produksi garam.

Pada masa kemarau, warga biasanya mulai mengolah tambak garam sekitar satu hingga dua bulan sebelum puncak musim panas. Aktivitas tersebut bahkan turut menarik pekerja dari luar daerah, terutama dari Madura, yang datang untuk membantu proses produksi garam di tambak-tambak.

Selain menampilkan kisah-kisah tersebut, pameran juga menghadirkan replika suasana banjir. Pengunjung bahkan diminta melepas alas kaki dan menggulung celana untuk merasakan pengalaman berjalan di instalasi air yang dibuat menyerupai kondisi kampung saat tergenang.

"Kami ingin pengunjung merasakan sedikit pengalaman banjir seperti yang dulu dialami warga," tambah Doni.

Antusiasme Anak-anak Main Banjir-banjiran

Saat detikJatim berkunjung ke lokasi pameran, terlihat sejumlah anak-anak bermain air di area instalasi. Ruang terbuka yang digunakan sebagai lokasi pameran itu memang berada di Taman Bermain PAUD Dahlia yang dilengkapi prosotan hingga wahana permainan berputar.

Anak-anak tampak antusias berlarian dan bermain di sekitar instalasi yang mereplika suasana banjir oleh empat seniman yang merangkum kisah warga Sememi Kidul melalui ilustrasi-ilustrasi yang menggantung di atasnya.

Pingki Ayako (42) selaku mentor menyebut sejak pameran dibuka, area itu kerap ramai oleh anak-anak yang penasaran dan ikut bermain.

"Bahkan, ada anak yang datang sambil membawa seekor kadal untuk diperlihatkan kepada teman-temannya saat bermain di sini. Katanya biar bisa berenang. Saat itu keos sekali tapi juga menjadi pengalaman unik tersendiri," kata Pingki.

Tak hanya soal banjir, pameran ini juga menampilkan sejarah Sememi Kidul secara geografis. Berdasarkan peta lama VOC 1860 yang ditemukan CeCUR, kawasan tersebut pada abad ke-19 dulunya bernama Semimi itu masih dikelilingi laut, sungai, serta lahan basah.

Seiring waktu, lanskap kawasan pun berubah. Tambak, sawah hingga telaga yang dulu menjadi bagian dari kehidupan warga perlahan berkurang seiring perkembangan kawasan permukiman.

Sememi Dulu dan Masa Kini

Meski kini Sememi sudah tidak lagi dilanda banjir, Pingki menyebut kampung tersebut memiliki usia yang sangat tua. Selain itu, secara geografis Sememi dinilai memiliki karakter yang unik.

"Umur kampung ini tua sekali. Secara geografis juga unik, di barat ada telaga, di selatan ada sungai, di utara juga ada sungai yang terhubung ke laut, lalu di sekitarnya banyak tambak," ujar mentor itu.

Ia menambahkan, secara administratif wilayah Sememi juga mengalami perubahan dari masa ke masa. Dahulu kawasan tersebut masuk wilayah Gresik, namun kini menjadi bagian dari Kota Surabaya.

"Secara administratif dulunya Gresik, sekarang Surabaya. Diapit laut dan kota, jadi kombinasinya unik," ujarnya.

asilitator lainnya, Aditya Salim Ahnaf (23), menambahkan kondisi di Sememi Kidul mulai berubah setelah sejumlah perbaikan sistem drainase dilakukan. Justru karena banjir sudah jarang terjadi, CeCUR selaku salah satu bagian dari tim riset program masterplan drainase Kota Surabaya ingin mendokumentasikan ingatan warga sebelum cerita itu hilang.

"Catatan banjir di sini sudah ada sejak lama. Banjir juga masih kerap terjadi pada 2014 hingga beberapa tahun setelahnya. Anak-anak sekarang mungkin sudah tidak pernah merasakan banjir di sini. Lewat pameran ini kami ingin ingatan orang tua tentang banjir bisa diceritakan kembali," jelasnya.

Selain menjadi ruang refleksi bagi warga, pameran ini juga diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi perencanaan kota di masa depan. Cerita dan pengalaman warga dinilai penting untuk memahami bagaimana masyarakat beradaptasi dengan lingkungan mereka.

"Kami ingin menunjukkan bahwa warga bukan hanya objek pembangunan, melainkan bagaimana pembangunan yang dilakukan itu seharusnya bisa diterima oleh warga. Mereka juga punya pengetahuan dan pengalaman yang bisa menjadi pelajaran untuk menghadapi persoalan banjir di kota," pungkas Aditya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads