Menteri LH Puji Pengelolaan Sampah Surabaya, Kualitas Air Masih Jadi PR

Menteri LH Puji Pengelolaan Sampah Surabaya, Kualitas Air Masih Jadi PR

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 06 Mar 2026 14:15 WIB
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq saat kerja bakti di Sungai Kalimas Surabaya dalam program Indonesia ASRI.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq saat kerja bakti di Sungai Kalimas Surabaya dalam program Indonesia ASRI. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq memuji pengelolaan sampah Surabaya dan menyebutnya yang terbaik secara nasional. Namun, dia juga menyatakan bahwa kualitas air di Kota Pahlawan masih menjadi pekerjaan rumah (PR).

Hanif merasa bangga Surabaya menjadi kota terbaik dalam pengelolaan sampah secara nasional. Salah satunya, kata dia, terlihat dari wajah kota yang bersih di jalan protokol yang dia nilai sebanding dengan Eropa.

"Kota ini secara visual di jalan protokolnya sudah sebanding dengan kota-kota besar, kota-kota Eropa yang memiliki budaya sampah yang sangat tinggi. Ini sudah sangat mewakili. Kemudian pada saat kita masuk lebih dalam, Surabaya juga cukup banyak berbenah diri," ujar Hanif usai kerja bakti di Sungai Kalimas Surabaya dalam program Indonesia ASRI, Jumat (6/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebutkan bahwa tingkat pengendalian sampah di Surabaya yang mencapai sebesar 95% merupakan yang tertinggi di kota besar. Menurutnya hampir tidak ada kota besar lain di Indonesia yang mampu mengatasi sampah seperti Kota Surabaya.

"Hampir tidak ada di Indonesia kota besar yang bisa menyelesaikan sampahnya. Semua terpuruk dan kedauratannya cukup sangat tinggi, pencemaran dan masalahnya juga sangat besar. Nah, itu Surabaya selesai," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Hanif menilai penanganan sampah di Surabaya yang sangat baik salah satunya berkat Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Dia juga menyinggung soal rencana Surabaya memiliki 2 PSEL yang akan mampu menampung sampah dari daerah tetangga.

"Dan kemudian 95% tadi akan selesai di beberapa tahun ke depan untuk kompetisi PSEL dengan bergabung dengan Kabupaten Kota yang di sebelah Surabaya," katanya.

Meski begitu, ia berharap pengelolaan sampah tidak membebani APBD maupun APBN, karena biaya PSEL dibilang cukup mahal. Karena itu Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi diminta untuk menekankan ke warga supaya memilah sampah secara mandiri sejak dari hulu atau saat masih berada di rumah.

Menurutnya, tak ada pengelolaan sampah yang lebih baik selain pemilahan sejak dari hulu. Karena sampah memiliki nilai ekonomi dan pemilahannya bisa menurunkan residu sampah yang masuk PSEL.

"Jadi PSEL ini penanganan residu saja. Jadi benar-benar tujuan dari Undang-undang nomor 18 tahun 2008 menjadikan sampah sebagai sumber daya, menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, ini terwakili di Surabaya. Kami juga melihat kualitas udara juga cukup relatif bagus," jelasnya.

Sementara memuji pengelolaan sampah, Hanif juga menyampaikan masih ada PR yang harus dikerjakan oleh Pemkot Surabaya. Yakni meningkatkan kualitas air di Kota Pahlawan.

"Yang jadi PR Pak Wali Kota, karena ini sifatnya lintas kota yaitu kualitas air. Kualitas air harus menjadi ditingkatkan," tegasnya.

Tanggapan Wali Kota Eri Cahyadi

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menanggapi apa yang disampaikan oleh Menteri LH. Pertama Eri mengatakan saat ini pemilahan sampah sudah dilakukan sejak dari hulu, tepatnya dari perkampungan.

Bahkan menurutnya, hotel dan restoran saat ini juga sudah diwajibkan untuk mulai memilah sampahnya sendiri.

"Ketika memilah sampah sendiri, truk pengangkut sampahnya tidak boleh terbuka," kata Eri.

Dengan pengolaan sampah lewat pemilihan, Eri berharap beban APBD bisa berkurang.

"Dan alhamdulillah dengan statement Pak Menteri ini, maka akan menguatkan kemandirian sampah di masing-masing perkampungan dan di masing-masing tempat usaha sehingga beban APBD akan berkurang untuk penanganan sampah di Surabaya," harapnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads