Kapan Musim Kemarau Landa Jatim? Ini Prediksi BMKG

Kapan Musim Kemarau Landa Jatim? Ini Prediksi BMKG

Jihan Navira - detikJatim
Selasa, 10 Mar 2026 18:30 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau
Ilustrasi musim kemarau/Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790
Surabaya -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi musim kemarau 2026 di Jawa Timur. Dari 74 Zona Musim (ZOM) yang dipantau, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih sering dengan puncak musim terjadi pada Agustus 2026.

BMKG menyebut, kondisi dinamika atmosfer dan lautan menunjukkan fenomena El-Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang keduanya diprediksi berada pada kondisi netral hingga pertengahan 2026.

Namun, El Nino berpotensi menguat menjadi kategori Lemah hingga Moderat dengan peluang sekitar 50-60 persen hingga akhir tahun 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau 2026 di Jawa Timur menjadi lebih kering dibandingkan biasanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Kemarau Diprediksi Mulai April-Mei

Awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei di 43 ZOM atau sekitar 56,9 persen wilayah Jawa Timur. Sementara itu, sebanyak 26 ZOM diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal pada April dan lima ZOM lainnya pada Juni.

ADVERTISEMENT

Jika dibandingkan dengan kondisi normal periode 1991-2020, awal musim kemarau diprediksi mundur di 36 ZOM atau sekitar 46,2 persen wilayah Jawa Timur. Sebanyak 23 ZOM diperkirakan sama dengan kondisi normal, sedangkan 15 ZOM lainnya justru lebih maju.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan dominan terjadi pada Agustus di 53 ZOM atau sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Sementara itu, puncak kemarau paling awal diperkirakan terjadi pada Juli di sekitar 15 persen wilayah.

Curah Hujan Normal, Durasi Kemarau Lebih Panjang

Dari sisi curah hujan, sifat hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi berada pada kategori Bawah Normal di 56 ZOM atau sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur. Sisanya, yakni 18 ZOM, diperkirakan berada pada kategori Normal.

Selama periode kemarau tersebut, curah hujan diperkirakan berada pada kisaran 101-200 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter.

Durasi musim kemarau juga diprediksi cukup panjang. BMKG mencatat rentang terpanjang berada pada 22-24 dasarian di 20 ZOM atau sekitar 23 persen wilayah Jawa Timur. Selain itu, terdapat wilayah dengan durasi 19-21 dasarian di 27 ZOM serta 16-18 dasarian di 20 ZOM.

BMKG Minta Daerah Antisipasi Kemarau Panjang

BMKG menegaskan bahwa prediksi musim kemarau 2026 ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) agar dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini (Early Action)

Maka dari itu BMKG mengimbau pemerintah daerah dan berbagai sektor untuk bersiap menghadapi potensi kemarau terutama Kabupaten dengan prediksi kemarau lebih kering dan berdurasi panjang.

Pada sektor pangan, petani disarankan menyesuaikan kalender tanam serta menggunakan varietas padi berumur pendek yang lebih tahan lama terhadap kondisi kering. Selain itu, pola tanam juga dapat dialihkan dari padi ke tanaman palawija untuk mengurangi risiko gagal panen.

Sementara pada sektor Sumber Daya Air, pemerintah daerah diminta untuk memaksimalkan panen air pada akhir musim hujan 2025/2026 guna mengisi waduk dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, pembangkit listrik tenaga air, serta kebutuhan irigasi yang efisien.

BMKG juga mengingatkan potensi dampak pada sektor kebencanaan, terutama terkait kekurangan air bersih untuk konsumsi masyarakat dan meningkatnya risiko kebakaran lahan maupun hutan.

Di sisi lain, potensi kemarau akibat pengaruh El Nino juga dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi ekonomi, seperti memperluas budidaya tanaman hortikultura dan meningkatkan produksi garam rakyat guna menjaga pendapatan petani dan nelayan selama musim kemarau.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads