Jajanan tradisional madumongso mungkin menjadi salah satu suguhan yang akrab bagi warga Kediri saat momen silaturahmi Idul Fitri. Namun kini, penganan khas tersebut mulai jarang ditemui di meja tamu.
Madumongso merupakan jajanan tradisional terbuat dari tape ketan hitam yang dimasak dengan santan dan gula hingga kental, memiliki cita rasa legit, manis, dan sedikit asam.
Di Kota Kediri, ada sebuah industri rumahan yang bertahan hingga kini, bahkan usaha ini bertahan hingga hampir 40 Tahun lamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Madumongso dengan jargon madumongso mak glender ini memiliki cita rasa lebih legit, karena menggunakan resep turun-temurun dari keluarga yang tetap diolah secara tradisional. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara lama sehingga menghasilkan rasa khas yang lebih legit dibandingkan produk modern.
Kendati dapur masak Madumongso yang diproduksi sudah berbeda dengan tahun 80-an, namun masih dimasak menggunakan kayu bakar serta bahan baku alami dan tradisional seperti ketan hitam asli dan gula merah.
Cara tradisional ini membuat cita rasanya tetap manis legit serta mampu bertahan lama karena menggunakan pengawet alami.
Erlisa mengatakan, proses pembuatan madumongso tidaklah mudah. Adonan harus dimasak dan diaduk terus menerus selama sekitar empat jam tanpa henti hingga menghasilkan tekstur yang pas, di sinilah tidak hanya keahlian memasak yang dibutuhkan namun juga kekuatan fisik juru masak dibutuhkan.
"Sejak dulu prosesnya memang seperti ini. Madumongso dimasak pakai kayu bakar dan harus diaduk sekitar empat jam tanpa berhenti supaya hasilnya benar-benar matang dan rasanya tetap sama seperti resep ibu saya," kata Erlisa kepada detikJatim, Rabu (11/3/2026).
Awalnya, ia mengerjakan hampir seluruh proses produksi seorang diri. Namun seiring meningkatnya permintaan, kini ia mulai dibantu oleh beberapa karyawan untuk memenuhi pesanan.
Madumongso buatannya tidak hanya diminati warga Kota Kediri, tetapi juga dipesan dari berbagai daerah hingga luar pulau, terutama menjelang hari besar seperti Lebaran.
"Kalau menjelang Lebaran biasanya pesanan meningkat sekali. Pembeli bukan hanya dari Kediri, tapi juga dari luar kota bahkan luar pulau," jelasnya.
Dalam sebulan, Erlisa mengaku mampu menghabiskan sekitar satu kuintal bahan untuk produksi madumongso. Pada momentum Lebaran, omzet bersih yang diperoleh bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Meski harga bahan baku seperti ketan mengalami kenaikan, Erlisa menegaskan pihaknya tetap menjaga kualitas dan konsistensi rasa.
"Walaupun harga ketan naik, kami tetap berusaha menjaga kualitas bahan supaya rasa madumongso tetap sama seperti dulu," ungkapnya.
Usaha madumongso tersebut berada di Jalan Setono No. 42, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota, Kota Kediri, dan menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak dicari masyarakat.
(auh/hil)