Bulan suci Ramadan menjadi momen bagi umat Islam untuk semakin dekat dengan Al-Qur'an. Di berbagai masjid, musala, hingga rumah-rumah warga, aktivitas membaca dan tadarus Al-Qur'an semakin ramai dilakukan.
Pengasuh Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadiin KH Muhammad Abdul Mughis menjelaskan bahwa tradisi membaca Al-Qur'an di bulan Ramadan ini telah melalui proses panjang. Sejak Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu beliau mengajarkan kepada para sahabat hingga dibaca hari ini oleh seluruh Muslim yang bertaqwa.
"Di bulan Ramadan ini semua umat Islam membaca Al-Qur'an, tadarus Al-Qur'an. Semua ramai dengan Al-Qur'an. Alhamdulillah," ujar KH Muhammad Abdul Mughis, Minggu (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan, Nabi Muhammad SAW mengajarkannya langsung kepada para sahabat. Namun karena perbedaan kemampuan dan latar belakang bahasa, cara pengajaran pun menyesuaikan kondisi mereka.
"Dulu ketika Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu Al-Qur'an, maka Al-Qur'an itu diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat. Karena ada perbedaan di antara mereka, sehingga Nabi juga mengajarkan Al-Qur'an dengan cara yang berbeda," jelasnya.
Nabi Muhammad SAW bahkan pernah menyampaikan kepada Malaikat Jibril mengenai kemungkinan umatnya yang kesulitan mengikuti satu model bacaan tertentu.
"Nabi pernah menyampaikan kepada malaikat, bagaimana jika ada umatku yang tidak bisa mengikuti bacaanku dengan kaidah seperti ini. Maka malaikat menjawab tidak apa-apa," katanya.
KH Muhammad Abdul Mughis kemudian mengutip sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan beberapa bentuk bacaan.
أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
"Jibril membacakan Al-Qur'an kepadaku dengan satu huruf. Lalu aku mengulanginya. Aku pun terus meminta agar ditambah, dan beliau memberikan tambahan hingga sampai tujuh huruf." (HR Bukhari 4991 dan Muslim 1939).
"Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dibaca dengan berbagai model bacaan yang menyesuaikan dialek pada waktu itu," terangnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dalam membaca Al-Qur'an umat Islam tetap harus menjaga ketepatan dan keabsahan bacaan sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
"Namun demikian membaca Al-Qur'an harus tetap hati-hati. Bagaimana bacaan itu harus tetap sohihah, benar sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad kepada para sahabat," tegasnya.
Ia juga menceritakan peristiwa pada masa sahabat ketika terjadi perbedaan bacaan Al-Qur'an dalam salat. Bahkan, kala itu sempat menimbulkan perselisihan.
"Pada masa sahabat pernah terjadi perselisihan. Umar bin Khattab mendengar bacaan imam yang berbeda dengan yang ia ketahui. Hampir saja imam itu ditarik oleh Umar," ungkapnya.
Umar dan imam salat ini lantas mendatangi Nabi Muhammad SAW. Maka dijawab lah pertanyaan itu sekaligus untuk mengakhiri perdebatan keduanya.
"Nabi kemudian menjelaskan bahwa bacaan yang dibaca oleh imam tersebut sama dengan yang beliau ajarkan," ujarnya.
Ia menambahkan, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, bacaan dan penulisan Al-Qur'an berkembang pesat. Di era ini orang yang belajar Al-Qur'an semakin banyak.
"Di masa Utsman bin Affan diseleksi bagaimana Al-Qur'an itu dibaca, bagaimana tulisan Al-Qur'an itu dilagukan. Semua diteliti dan dipelajari lebih mendalam," jelasnya.
Menurut KH Muhammad Abdul Mughis, proses tersebut membuat Al-Qur'an yang dibaca umat Islam hingga saat ini memiliki dasar yang kuat dan disepakati bersama.
"Al-Qur'an yang hari ini terdiri dari banyak mushaf adalah hasil pembelajaran yang telah disepakati pada era Utsman bin Affan," pungkasnya.
(auh/dpe)
