Mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya meluncurkan produk minuman GO! MAJA. Minuman probiotik dari ekstrak buah maja pertama di Indonesia yang ampuh melindungi pencernaan saat menyantap hidangan Lebaran.
Inovasi tembusan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemendiktisaintek ini hadir sebagai solusi sehat yang praktis sekaligus mendobrak stigma negatif terhadap buah maja yang selama ini dianggap beracun.
Produk GO! MAJA ini merupakan buah karya kolaborasi tim mahasiswa yang terdiri dari Ardan Rezon Prasetio, Aurelia Callysta, Fedilia Yanson Widio, dan Samuel Jason Liwanto Lie, dengan bimbingan langsung dari David Kristianto selaku Kepala Laboratorium Food Product UK Petra sebagai supervisor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Tim, Ardan Rezon Prasetio, mengungkapkan alasan di balik inovasi yang mengusung tagline "Start Your Healthy Move". "Kami berpikir, bagaimana kalau buah maja yang ramah untuk lambung digabungkan dengan yoghurt? Jadi sangat sinkron khasiatnya untuk menjaga pencernaan," ujar Ardan kepada detikJatim, Selasa (17/3/2026).
Bukan Spesies Buah Maja Liar
Meski identik dengan rasa pahit, buah maja yang digunakan tim ini ternyata berbeda spesies dengan yang biasa tumbuh liar di pinggir jalan. David Kristianto menjelaskan bahwa maja pilihan ini ukurannya lebih besar, berwarna hijau kekuningan saat matang, dan memiliki tekstur dalam mirip sirsak dengan aroma segar seperti melon.
"Buah maja yang di pinggir jalan itu isinya keras banget. Yang kami pakai ini rasanya manis meski ada after-taste getir. Itulah yang sering disalahartikan masyarakat sebagai rasa pahit atau beracun," jelas David.
Proses Pembuatan dan Tekstur 'Greek'
Demo pembuatan GO! MAJA menggunakan memperlihatkan tekstur Greek Yoghurt yang sangat kental sebagai bahan utama. Komposisi yoghurt dibuat dominan untuk menyeimbangkan rasa buah maja yang sangat kuat, lalu dicampur dengan sari buah maja dan parutan agar-agar.
Menariknya, produk ini diproduksi tanpa bahan pengawet namun tetap mampu bertahan lama di suhu chiller. "Fermentasinya standar 2-3 hari. Karena alami, warnanya memang akan berubah menjadi hitam karena proses oksidasi, tapi itu tidak mengurangi khasiatnya," tambah David.
Harga Terjangkau dan Respon Pasar
Untuk menjangkau masyarakat luas, GO! MAJA dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk kemasan praktis ukuran 50 mL. Sebelum diluncurkan, tim sudah melakukan R&D panjang termasuk melakukan pre-order dan meminta feedback dari dosen-dosen pakar FnB.
Hasilnya, sebanyak 120 pouch perdana ludes terjual di lingkungan kampus. Perwakilan PR GO! MAJA, Ajeng, menyebut inovasi ini juga sekaligus upaya melestarikan bahan pangan lokal yang selama ini diabaikan.
"Memang ada kaitannya dengan cerita sejarah Majapahit. Kami ingin mengangkat kembali nilai ekonominya karena di negara lain seperti India, di mana buah ini lazim dikonsumsi langsung sebagai sumber kesehatan," pungkas Ajeng.
(ihc/abq)
