Ribuan Warga Gili Ketapang Jalani Tradisi Petolekoran, Tinggalkan Pulau Sehari

Ribuan Warga Gili Ketapang Jalani Tradisi Petolekoran, Tinggalkan Pulau Sehari

M Rofiq - detikJatim
Selasa, 17 Mar 2026 22:15 WIB
Warga Gili Ketapang meninggalkan pulau selama sehari untuk berbelanja kebutuhan Lebaran di pusat Kota Probolinggo
Warga Gili Ketapang meninggalkan pulau selama sehari untuk berbelanja kebutuhan Lebaran di pusat Kota Probolinggo. (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Ribuan warga Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, menjalankan tradisi tahunan Toron Petolekoran pada hari ke-27 bulan Ramadan, Selasa (17/3/2025).

Tradisi ini dilakukan dengan meninggalkan pulau selama sehari untuk berbelanja kebutuhan Lebaran di pusat Kota Probolinggo.

Sejak pagi hari, suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, dipadati warga yang datang dari Pulau Gili Ketapang. Mereka menyeberang menggunakan puluhan kapal tradisional dengan kapasitas sekitar 30 hingga 50 penumpang per kapal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diperkirakan sekitar 2.000-3.000 warga menyeberang ke daratan Pulau Jawa untuk membeli berbagai kebutuhan Hari Raya Idul Fitri, mulai dari kue Lebaran hingga pakaian baru.

ADVERTISEMENT

Tradisi Toron Petolekoran merupakan kebiasaan turun-temurun masyarakat Gili Ketapang dalam menyambut Lebaran.

Kata Petolekoran sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti dua puluh tujuh, merujuk pada pelaksanaan tradisi ini setiap tanggal 27 Ramadan.

Salah satu warga Gili Ketapang, Imatus Sholehah, mengatakan tradisi ini menjadi momen bagi hampir seluruh warga pulau untuk berbelanja kebutuhan Lebaran.

"Pokoknya tradisinya orang Gili itu semuanya ke kota untuk belanja peralatan Lebaran. Untuk Petolekoran kali ini kami belanja jajan dan kue macam-macam. Karena belanjanya ke kota, ini sudah jadi tradisi warga Gili Ketapang setiap tanggal 27 Ramadan," kata Imatus.

Sementara itu, Koordinator Kapal Penyeberangan Pelabuhan Tanjung Tembaga, Suryono, menyebut jumlah warga yang menyeberang bisa mencapai antara 1.000 hingga 2.500 orang, tergantung kondisi cuaca.

Ia juga mengimbau warga agar tidak pulang terlalu malam demi keselamatan perjalanan laut.

"Kalau cuaca bagus seperti sekarang, biasanya warga yang datang bisa sampai ribuan. Kami imbau kalau bisa jangan sampai malam. Takut ada angin laut. Dari KSOP dan kepolisian juga sudah mengingatkan agar warga bisa kembali sebelum Magrib," ujar Suryono.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, pihak koordinator penyeberangan telah menyiapkan sekitar 50 kapal yang melayani arus keberangkatan dan kepulangan warga, termasuk wisatawan snorkeling.

Selain itu, petugas gabungan juga melakukan pengawasan ketat mulai dari keberangkatan kapal hingga tiba kembali di dermaga. Warga juga diimbau untuk selalu menggunakan life jaket keselamatan selama perjalanan demi menjaga keamanan.

Tradisi Petolekoran sendiri tidak hanya menjadi momen belanja, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan rekreasi warga Gili Ketapang di Kota Probolinggo menjelang Hari Raya Idul Fitri.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads