Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek memastikan akan merayakan Idul Fitri pada Jumat (20/3/2026). Keputusan diambil setelah melalui proses perhitungan bulan dengan metode hisab.
Pengasuh Ponpes Al Falah Kedunglurah Muhammad Izzuddin Zaki keputusan tersebut sejalan dengan hasil Tim Lajnah Falakiyah Alfalah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
"Jadi, Al Falah Kedunglurah ini menginduk kepada pondok pesantren induk kami di Al Falah Ploso, Mojo, Kediri. Tim Lajnah Falakiyah Alfalah Ploso Mojo Kediri sudah memutuskan bahwasanya 1 Syawal jatuh pada hari Jumat, ya hari Jumat tanggal 20 Maret," kata Izzuddin Zaki, Kamis (19/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, berdasarkan perhitungan hisab pada kitab Sullamun Nayyirain, hilal sudah di atas ufuk dengan ketinggian 5 derajat 12 menit. Sedangkan, lama hilak di atas ufuk 21 menit.
Metode yang digunakan di Al Falah Ploso adalah metode hisab, yaitu perhitungan astronomis untuk menentukan posisi bulan. Dalam metode ini, penentuan awal bulan dilakukan dengan menghitung posisi hilal.
Jika hilal sudah wujud, artinya bulan telah berada di atas ufuk meskipun belum tentu terlihat, maka kondisi tersebut menjadi dasar penetapan masuknya bulan baru.
"Jadi ada standar minimal 2 derajat di atas ufuk, itu para ulama ada yang mengatakan itu sudah berani untuk mengatakan itu tanggal satu, apalagi ini sudah 5 derajat di atas ufuk," jelasnya.
Dijelaskan penggunaan metode hisab telah lama digunakan di pesantrennya, dan telah diuji kebenarannya. Untuk itu, pihaknya ilmu falakiyah yang diwariskan dari para masyayikh tersebut bisa menjadi panutan.
"Masyayikh kami di Ploso mengatakan untuk apa kita mengajarkan kepada santri ilmu falakiyah, ilmu hisab kalau kemudian tidak kita amalkan. Maka, tim Lajnah Falakiyah yang sudah bekerja keras membuat kalender ini beberapa bulan, kemudian sudah di-tashih, sudah diuji kebenarannya, maka ini dipakai," jelasnya.
Terkait persiapan pelaksanaan salat id, pihaknya telah mengumumkan kepada para santri dan alumni terkait penentuan 1 Syawal tersebut. Gus Zaki mempersilakan para santri maupun masyarakat yang dekat untuk salat id di pesantrennya. Ia mengaku berbuka untuk semua golongan baik NU, Muhammadiyah dan yang sejalan dengan keputusan tersebut.
"Semua alumni yang dekat monggo datang ke sini atau yang sudah punya masjid monggo mengikuti istihad kami ini, istihad Alfalah Ploso ini untuk menyelenggarakan sendiri-sendiri di masjidnya masing-masing, atau bagi masyarakat yang dekat sini boleh mengikuti ke sini," imbuhnya.
Maski demikian, pihaknya juga menghormati jika ada keputusan lain dalam penentuan awal Syawal. Menurutnya, perbedaan di antara ulama adalah rahmat, sehingga tidak perlu dipertentangkan dan menjadi permusuhan.
"Masyarakat Kabupaten Trenggalek ada perbedaan itu biasa, khilaf di antara ulama itu adalah rahmat. Jadi jangan dijadikan perbedaan ini sebuah cara baku hantam, nggak usah, nggak usah saling menghujat. Jenengan ikut yang mana monggo," jelas Gus Zaki.
(auh/irb)
