Cerita Pramugari Trans Jatim Malang, Rela Tetap Bekerja Saat Lebaran

Cerita Pramugari Trans Jatim Malang, Rela Tetap Bekerja Saat Lebaran

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Selasa, 24 Mar 2026 07:00 WIB
Pramugari Trans Jatim Rizka Yunita Dewi saat ditemui awak media di terminal angkutan, Kota Batu.
Pramugari Trans Jatim Rizka Yunita Dewi saat ditemui awak media di terminal angkutan, Kota Batu. (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Kota Malang -

Momen hari raya Idul Fitri biasanya menjadi penanda momen hangat berkumpul bersama keluarga. Sayang, momen itu tak dirasakan oleh Rizka Yunita Dewi, seorang pramugari Bus Trans Jatim Malang Raya.

Di saat orang lain bersiap menyantap hidangan khas rumah, Rizka justru masih setia melayani penumpang di atas bus yang membelah jalanan. Ini menjadi pengalaman pertama Rizka menjalani Lebaran jauh dari keluarga.

Rindu keluarga sangat ia rasakan ketika bekerja, tapi ia harus tetap tegar demi menyelesaikan tuntutan profesi dan tanggung jawab sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Terlebih kondisi sang ayah kini sedang sakit, membuatnya harus memikul tanggungjawab sebagai tulang punggung keluarga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini pertama kali saya kerja, jadi kaget aja soalnya Lebaran nggak ada libur. Jadi komunikasi sama orang rumah itu cukup lewat call, video call aja," ujar Rizka saat ditemui detikJatim di Terminal Angkutan Kota Batu, Senin (23/3/2026).

Momen paling berat dirasakan Rizka saat malam takbiran. Jika biasanya ia membantu ibunya memasak di dapur, kali ini ia harus melewati malam kemenangan itu di dalam bus karena mendapat jadwal shift malam.

ADVERTISEMENT

Ia pun tak mampu membendung air mata yang akhirnya bercucuran ketika berangkat dari kos sendiri menuju masjid untuk melaksanakan salat id. Sebagai perantau, Rizka mencoba untuk menguatkan hati menjalani tugasnya.

Rizka sendiri tetap memilih untuk menyelesaikan tanggungjawab pekerjaannya bukan tanpa alasan. Ia mengaku harus menjalankan tugas kerjanya

Di balik ketegaran wajahnya saat melayani penumpang, Rizka memendam motivasi besar. Statusnya sebagai anak pertama sekaligus mahasiswa semester 7 yang sedang menyusun skripsi membuatnya harus bekerja keras.

"Saya kerja juga ada alasannya, membantu perekonomian keluarga. Saya anak pertama juga, jadi mau nggak mau saya yang kerja," kata Rizka.

"Kalau saya masih nurutin ego saya buat nggak kerja, itu nggak akan bantu, apalagi Ayah saya juga lagi sakit. Dari uang kerja ini saya bisa bantu orang tua di sana meski harus merantau jauh," imbuhnya.

Menariknya, perjuangan perempuan berusia 22 tahun itu tidak sendirian. Ia memiliki saudara kembar yang ternyata melakoni profesi yang sama sebagai pramugari Trans Jatim di Koridor 5.

Berbicara soal profesi pramugari Trans Jatim, Rizka mengaku bahwa ini merupakan pekerjaan yang nyaman. Meski begitu, ada juga suka dan duka yang dilalui sebagai pelayan publik. Ia pun membagikan cerita bagaimana dia harus bersabar saat menghadapi penumpang yang 'ngeyel', terutama saat kondisi bus sedang penuh.

"Dukanya sebagai pramugari Trans Jatim itu harus menghadapi penumpang yang ngeyel dan gak mau diatur. Pernah pengalaman saya itu, dibentak-bentak oleh penumpang yang minta untuk diturunkan bukan pada titik halte yang disediakan, tapi itu saya rasakan sebagai lika-liku pekerjaan saja," tandasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads