Suara yang selama puluhan tahun setia menemani warga Kediri pagi hingga malam, kini benar-benar terhenti. Radio Wijang Songko (RWS), salah satu radio legendaris di kota tahu, resmi mengakhiri siarannya mulai 1 April 2026.
Penutupan ini menjadi akhir dari perjalanan panjang RWS yang telah mengudara sejak 1968. Dari era radio analog hingga digital, RWS tak sekadar menjadi media hiburan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat lintas generasi.
Radio yang awalnya bernama Radio Patimura ini memulai siaran melalui frekuensi AM. Seiring perkembangan zaman, RWS bertransformasi ke frekuensi FM pada era 1990-an, menyesuaikan kebutuhan pendengar tanpa kehilangan identitasnya sebagai radio yang dekat dengan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan untuk menghentikan siaran bukanlah hal yang tiba-tiba. Manajemen mengaku wacana tersebut sudah muncul sejak pandemi COVID-19, sebelum akhirnya diputuskan secara final pada awal 2026.
"Mulai 1 April kami resmi tidak mengudara. Keputusan ini terkait kepemilikan tunggal, dan pimpinan kami, Bapak Pintero Utomo yang kini berusia 83 tahun, memilih untuk pensiun," ujar Lindawati saat ditemui detikJatim, Selasa (31/3/2026).
Meski telah resmi berhenti siaran, peluang RWS untuk kembali hadir di masa depan masih terbuka, meski belum ada kepastian lebih lanjut dari pihak manajemen.
Selama ini, RWS dikenal sebagai radio hiburan yang kuat dengan program interaktif dan humor yang khas. Sejumlah acara seperti Hello Dangdut, Pamor (Pesona Humor), hingga Pak Piket menjadi favorit pendengar dari berbagai kalangan.
"Program Pak Piket hadir malam hari untuk menemani pekerja shift, penjaga warung, sampai masyarakat yang masih beraktivitas. Sementara siaran pagi jadi andalan untuk membangunkan pendengar dan mengiringi aktivitas awal hari," jelasnya.
Tak hanya menjadi sumber hiburan, RWS juga dikenal sebagai tempat lahirnya banyak penyiar berbakat. Nuansa kekeluargaan yang kental membuat radio ini menjadi ruang berkembang bagi para penyiar dengan karakter yang kemudian melekat di hati pendengar.
Nama Wijang Songko sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti 'putih bersih'. Filosofi ini mencerminkan komitmen radio dalam menghadirkan siaran yang jernih, hangat, dan menghibur bagi masyarakat.
Dalam perjalanannya, RWS juga aktif menggelar berbagai kegiatan off air. Mulai dari jalan sehat yang mampu menarik massa hingga menutup ruas jalan, hingga kuis interaktif yang menjangkau pendengar dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, hingga Trenggalek.
Kini, kepergian RWS meninggalkan kesan mendalam bagi para pendengar setianya. Bagi sebagian orang, radio ini bukan sekadar media, melainkan teman setia dalam menjalani hari.
"Sedih, biasanya selalu ada dari pagi sampai sore menemani di rumah," ujar salah satu pendengar, Tata Tomato.
(irb/hil)
