Kebijakan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya yang memerintahkan pengosongan tiga ruang kesenian di Balai Pemuda menuai penolakan. Para seniman menilai, langkah itu mengabaikan sejarah panjang Balai Pemuda sebagai pusat kesenian sejak 1972.
Berdasarkan Surat Peringatan Kesatu yang diturunkan oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Serta Pariwisata (Disbudporapar) pada 25 Maret 2026, penggusuran tersebut dilakukan sehubungan dengan penggunaan sebagian area lahan komplek Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo Nomor 15, Embong Kaliasin, Genteng Surabaya.
Ketiga ruang kesenian meliputi Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sanggar Merah Putih, dan Bengkel Muda dianggap melakukan aktivitas di luar kegiatan yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya, tanpa ada hubungan hukum dengan Pemerintah Kota Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, surat tersebut bertujuan untuk memperingatkan kepada pihak yang terlibat untuk 'membongkar dan mengosongkan' area selambat-lambatnya tujuh hari sejak penerimaan surat peringatan yang mana jatuh pada hari ini, Rabu (1/4).
Ketua Yayasan Sanggar Merah Putih, M Anis menyayangkan terbitnya surat pengosongan ruang Galeri Merah Putih (GMP) yang juga menyasar Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Bengkel Muda Surabaya (BMS). Ia menilai bahasa dalam surat tersebut tidak mencerminkan pendekatan institusi kebudayaan.
"Dalam surat itu ada kata 'dibongkar dan dikosongkan'. Itu bukan narasi seorang pejabat dinas kebudayaan. Saya berharap surat itu keliru," ujar Anis kepada detikJatim, Kamis (1/4/2026).
Menurutnya, Balai Pemuda sejak 1972 telah menjadi pusat aktivitas seni di Surabaya. Para seniman menjadikannya sebagai "oase" karena minimnya ruang apresiasi seni di Surabaya.
"Mayoritas seniman Surabaya lahir dari Balai Pemuda. Ini bukan sekadar tempat, tapi bagian dari sejarah kesenian," tegasnya.
Terkait proses kebijakan, ia mengaku tidak ada komunikasi atau negosiasi sebelumnya dengan para pengelola ruang seni.
"Tidak ada, tiba-tiba saja muncul surat itu," katanya.
Anis juga menyebut tidak ada tawaran relokasi oleh pemerintah. Namun, bagi dirinya maupun para seniman, persoalan utamanya bukan sekadar tempat baru.
"Yang kita pertahankan itu Balai Pemuda. Kalaupun ada relokasi, esensinya sudah hilang. Dari yang namanya 'Balai Pemuda' menjadi Alun-alun Surabaya itu kan sudah berganti esensi awalnya," terang Anis
Galeri Merah Putih sendiri selama ini aktif menggelar pameran seni lukis, baik tunggal maupun bersama dengan frekuensi tinggi. Dalam satu tahun, kegiatan di ruang cukup kecil ini bisa mencapai puluhan pameran dan telah terjadwal hingga November 2026.
Galeri tersebut juga dikenal sebagai ruang alternatif yang terbuka bagi seniman. Anis mengatakan, tingginya minat seniman yang tak hanya datang dari Surabaya maupun Jawa Timur karena galeri ini tidak memungut biaya sewa, melainkan hanya kontribusi kebersihan.
"Kami non-profit. Ini dedikasi untuk menghidupkan kesenian di Surabaya. Apalagi kita juga selalu mengikutsertakan 'Kota Surabaya' dalam kegiatan apapun," tegas Anis.
Menyikapi surat peringatan tersebut, Anis menegaskan para seniman tetap akan menjalankan agenda yang telah direncanakan. Di sisi lain, ia berharap Pemerintah Kota Surabaya memiliki visi yang sejalan dalam pengembangan kesenian.
Menurutnya, arah perkembangan kota sangat bergantung pada minat dan perhatian kepala daerah dari waktu ke waktu. Jika ada keberpihakan pada kesenian, maka ruang-ruang seni akan hidup dan berkembang. Sebaliknya, jika fokus hanya pada sektor lain, maka bidang itulah yang akan terus didorong.
"Kalau minatnya ke kuliner, yang berkembang ya kuliner. Tapi kalau ada perhatian pada kesenian, seharusnya itu juga yang dihidupi," ujarnya.
Ia menilai, ruang-ruang kuliner di Surabaya sudah cukup banyak bahkan tersebar hingga tingkat kecamatan. Karena itu Balai Pemuda seharusnya tetap dijaga sebagai ruang khusus bagi kesenian dan kepemudaan, bukan dialihkan ke fungsi lain.
"Kami berharap jajaran pemerintah kota punya visi berkesenian seperti wali kota. Tujuan kami jelas, mempertahankan Balai Pemuda sebagai oase kesenian," pungkasnya.
(auh/hil)
