Upaya pengelolaan sampah plastik berbasis pendidikan mulai dikembangkan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. SMK Manbaul Ulum Kebomas menghadirkan bank sampah berbasis teaching factory (TeFa) yang tidak hanya mengolah limbah plastik, tetapi juga mengubahnya menjadi produk bernilai jual.
Program ini lahir dari kolaborasi sekolah dengan dunia industri sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa agar siap menghadapi dunia kerja maupun berwirausaha.
Guru Bahasa Indonesia sekaligus tim marketing SMK Manbaul Ulum Kebomas, Nayoko Bagus Priyanggono (27) mengungkapkan bahwa inovasi ini berawal dari aktivitas TeFa yang sebelumnya telah rutin memproduksi berbagai kebutuhan berbasis proyek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya kami memang sudah sering membuat produk furnitur melalui TeFa, terutama dari kayu untuk berbagai pesanan termasuk dari berbagai perusahaan. Kemudian kami mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan salah satu perusahaan," kata Nayoko.
Melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak perusahan tersebut, SMK Manbaul Ulum Kebomas kemudian mematangkan konsep pengolahan limbah plastik yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran.
Nayoko menyebut proses perencanaan hingga realisasi program ini memakan waktu cukup panjang, diperkirakan lebih dari dua bulan, termasuk penyusunan konsep, koordinasi, hingga penandatanganan kerja sama.
Dari situ, lahirlah bank sampah sekolah yang tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah plastik, melainkan juga pengolahan yang memiliki nilai jual seperti meja, jam dinding, dan lain-lain.
"Kalau biasanya bank sampah hanya mengelola, kami ingin lebih dari itu. Bagaimana sampah ini bisa menjadi produk yang punya nilai jual, sekaligus menjadi media belajar siswa," jelas Nayoko.
Untuk saat ini, sekitar 15 siswa telah tergabung dalam tim TeFa dan menjalankan proses produksi secara bertahap dengan pendampingan guru.
"Siswa yang berminat bisa bergabung, nanti kita ajarkan dari awal sampai mereka bisa menjalankan tugasnya masing-masing secara mandiri," jelasnya.
Proses pembuatannya diawali dengan pengumpulan sampah plastik khususnya botol yang tidak hanya dikumpulkan di lingkungan sekolah, melainkan bekerja sama dengan warga sekitar hingga pelaku usaha.
Menariknya, sekolah mengapresiasi masyarakat dengan membeli sampah plastik berupa insentif.
"Jadi ada hubungan saling menguntungkan. Warga tidak sekadar membuang sampahnya, tapi justru mendapat nilai dari sampah yang mereka kumpulkan," ujarnya.
Sampah botol plastik yang sudah terkumpul kemudian masuk ke dalam serangkaian proses produksi. Dimulai dari pencucian dan pemilahan, lalu dicacah menggunakan mesin penghancur plastik hingga menjadi potongan kecil.
Tahap berikutnya adalah proses hot press, di mana plastik dipanaskan dan dipadatkan menggunakan mesin pemanas disertai cetakan hingga menjadi lembaran menyerupai papan.
"Lembaran itu kemudian kami haluskan dengan amplas, baru dibentuk sesuai kebutuhan. Jadi, furnitur yang awalnya dari kayu, kita coba inovasikan dengan plastik. Selain karena hasil jadi bahannya lebih halus dan kuat, ini kan benar-benar bisa mengurangi limbah," jelas Nayoko.
Untuk menghasilkan produk yang lebih presisi, sekolah juga memanfaatkan mesin CNC (laser cutting) yang telah dimiliki sebelumnya. Sementara mesin utama seperti mesin pencacah dan hot press dipesan khusus menyesuaikan kebutuhan produksi dengan skala sekolah.
"Karena ini bukan industri besar, jadi mesin yang kami gunakan juga disesuaikan. Ada yang kami pesan khusus sesuai dengan kebutuhan produksi di sekolah," imbuhnya.
Saat ini, program tersebut masih dalam tahap pengembangan produk dan belum sepenuhnya masuk ke tahap pemasaran luas. Nayoko menyebut pihak sekolah masih berfokus pada riset desain serta penguatan kualitas produk agar siap bersaing di pasaran.
"Masih panjang lah jalannya untuk bisa menjual ini. Karena yang pasti, penting untuk kami melakukan quality control, kami tidak ingin customer kecewa ketika nanti sudah di tangan mereka," kata Nayoko.
Program bank sampah ini sendiri baru diresmikan pada Februari lalu. Dalam peresmiannya, sekolah turut mengundang sejumlah pihak, mulai dari perwakilan perusahaan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, hingga Dinas Pendidikan wilayah Gresik.
Kehadiran program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran sekaligus inspirasi bagi sekolah lain dalam mengelola sampah secara produktif hingga kolektif.
Tak hanya itu, Nayoko juga menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak dini di kalangan pelajar.
"Kami ingin siswa punya pola pikir bahwa sampah bukan akhir dari sesuatu. Karena kita tahu sendiri manusia terus mengeksploitasi bumi, jadi bagaimana caranya plastik ini harus bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Bahkan dari sampah pun bisa lahir produk yang bernilai jual dan bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat," tuturnya.
Di sisi lain, ia melihat tren pengelolaan sampah di Gresik mulai bergerak ke arah yang lebih baik, dengan adanya dorongan dari pemerintah agar sekolah lebih mandiri dalam mengelola limbah.
"Isu lingkungan ini sudah mulai digerakkan. Tinggal bagaimana kita bisa menangkapnya sebagai peluang, bukan sekadar menjadi masalah," pungkasnya.
(auh/dpe)