Umat Katolik di Paroki Roh Kudus Surabaya mengikuti ibadat Jumat Agung pada Jumat (3/4) sebagai bagian dari rangkaian Tri Hari Suci. Perayaan ini menjadi momen penting untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib, sekaligus memperdalam refleksi iman umat.
Sebelumnya, rangkaian Tri Hari Suci telah diawali dengan perayaan Kamis Putih pada Kamis (2/4) malam. Dalam perayaan tersebut, terdapat prosesi pembasuhan kaki yang meneladani tindakan Yesus saat Perjamuan Terakhir bersama kedua belas murid-Nya. Prosesi ini menjadi simbol kerendahan hati dan pelayanan kasih.
Rangkaian perayaan kemudian berlanjut pada Jumat Agung, yang menjadi puncak permenungan atas sengsara Kristus. Setelah itu, umat akan memasuki Sabtu Sunyi atau Sabtu Vigili sebagai masa hening penantian, sebelum mencapai puncak sukacita pada Minggu Paskah yang merayakan kebangkitan Kristus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua panitia Jalan Salib Hidup, Catharina Fiorensa Adinda mengatakan, ibadat Jumat Agung di Paroki Roh Kudus Surabaya dilaksanakan dalam dua sesi, yakni pukul 14.00 WIB dan 18.00 WIB. Kedua sesi tersebut disiapkan untuk menampung hingga 3.000 jemaat, mengingat tingginya antusiasme umat dalam mengikuti perayaan yang hanya berlangsung sekali dalam setahun ini.
Berbeda dengan misa pada umumnya, ibadat Jumat Agung berlangsung dalam suasana yang lebih hening dan khidmat. Rangkaian ibadat disusun secara khusus dan sarat makna, dimulai dari ritus pembuka hingga penutup tanpa perayaan Ekaristi.
Ibadat diawali dengan ritus pembuka, di mana imam dan petugas liturgi memasuki gereja dalam keheningan. Setibanya di altar, imam meniarap atau berlutut, kemudian memulai doa tanpa tanda salib.
Selanjutnya, umat mengikuti liturgi sabda yang terdiri dari bacaan pertama, bacaan kedua, serta Injil yang mengisahkan Sengsara Yesus Kristus (Passio) menurut Yohanes. Setelah itu, imam menyampaikan homili yang dilanjutkan dengan doa umat meriah yang memuat sepuluh intensi khusus.
Bagian berikutnya adalah penghormatan salib. Dalam prosesi ini, salib dibawa ke altar dan umat secara bergantian memberikan penghormatan, baik dengan mencium maupun menundukkan kepala sebagai simbol iman dan ungkapan syukur atas pengorbanan Yesus di kayu salib.
Ibadat kemudian dilanjutkan dengan ritus komuni, yakni pembagian komuni suci yang telah dikonsekrasi pada perayaan Kamis Putih. Dalam Jumat Agung, tidak ada konsekrasi baru sehingga ibadat ini memang tidak termasuk perayaan Ekaristi.
Sebagai penutup, ibadat diakhiri dengan ritus penutup yang berlangsung dalam suasana hening. Tidak ada berkat penutup maupun tanda salib. Imam hanya mengucapkan doa atas umat, lalu meninggalkan altar dalam keheningan.
"Melalui perayaan Jumat Agung dan Jalan Salib Hidup tahun ini, OMK Paroki Roh Kudus Surabaya berharap umat semakin menghayati makna pengorbanan Kristus, memperdalam iman, serta mampu menghidupi nilai kasih, pengampunan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Catharina.
(ihc/hil)
