Sudah 50 tahun lamanya, Kampung Dinamo Surabaya menerima berbagai perbaikan mesin, terutama yang berkaitan dengan dinamo. Kampung yang berada di kawasan Jalan Bratang Gede I ini tumbuh dari keahlian turun-temurun hingga menjadi sentra reparasi yang dikenal luas.
Dinamai 'Kampung Dinamo' karena sebagian besar penduduknya memang teknisi. Hampir setiap rumah di gang tersebut membuka jasa perbaikan.
Awal mula kampung ini menjadikan dinamo sebagai sumber penghasilan berasal dari sosok Abdul Fatah. Ia merupakan pelopor keahlian gulung dinamo di kawasan tersebut pada 1970.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi Suyikno (64), menantu dari anak Abdul Fatah menceritakan awal mula perjalanan kakeknya dalam merintis usaha tersebut.
"Abdul Fatah itu mbah saya, dia juga mendirikan tapi dipegang Pak Mul (anaknya) di (rumah) nomor 76 situ. Mulainya dari sana. Tapi mulai pertama kalinya itu anak buahnya itu ya ayah saya, Harianto," cerita Hadi saat ditemui detikJatim, Senin (6/4/2026).
Kepiawaian Abdul dalam menggulung dinamo tidak disimpan sendiri, ia juga mengajari tetangga sekitar agar dapat melakukan hal serupa sebagai sumber mata pencaharian. Dari mulut ke mulut, keahlian tersebut menyebar ke seluruh warga sekitar sehingga menjadi identitas kampung.
Saat berkunjung ke sana, benar adanya detikJatim menemui rumah demi rumah dipenuhi oleh dinamo berbagai ukuran. Salah satunya adalah CV Harianto Teknik milik Hadi yang merupakan bengkel reparasi dinamo terbesar nomor dua di sana.
Purnomo (57), salah satu teknisi menyebut mayoritas warga kala itu memang belajar 'mengutak-atik' dinamo secara otodidak, terutama generasi lama, termasuk dirinya.
"Iya betul, otodidak. Jadi kebanyakan, 85% (teknisi) itu otodidak. Kalau yang generasi-generasi baru mungkin sudah dikombinasikan dengan pendidikan ya, jadi lebih mudah belajar," urai Purnomo.
Jenis perbaikan yang ditangani pun beragam. Elektro motor, kompresor, hingga mesin pendingin menjadi yang paling sering diperbaiki.
Proses perbaikan dinamo dilakukan melalui beberapa tahapan. Dimulai dari pembongkaran mesin untuk melihat kerusakan, lalu pembersihan komponen, hingga penggantian bagian yang sudah alus.
Seorang pegawai saat memberbaiki dinamo di Kampung Dinamo Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Setelah itu, kawat lama akan dilepas dan diganti dengan yang baru sebelum kembali digulung. Untuk melindungi kawat, teknisi melapisinya dengan kertas khusus terlebih dahulu agar tidak mudah tergores.
"Awal mulanya dibongkar-bongkar dulu, dibersihkan. Terus dikertasi supaya tembaganya tidak tergesek dan rusak. Lalu dimasukkan ke tempat penggulungan," jelas Purnomo.
Setelah proses penggulungan selesai, dinamo akan melalui tahap pelapisan menggunakan cairan yang biasa disebut 'lak' sebelum akhirnya dipanaskan atau dioven. Tahapan ini bertujuan agar gulungan lebih kuat dan tahan lama.
"Disirlak atau dikasi lak, habis gitu dipanasi atau dioven lah istilahnya. Habis itu disetel ulang atau dirakit lagi terus," tambah Ahmad Rizkya (24), teknisi muda sekaligus generasi ketiga penerus usaha di Jalan Bratang Gede I No. 43 tersebut.
Untuk dinamo ukuran standar, proses tersebut biasanya memakan waktu satu hingga dua hari. Lama perbaikan tergantung ukuran dan tingkat keparahan kerusakan dinamo.
"(Ukuran) standar-standar gini sehari dua hari, tergantung ukuran," ucap Ahmad.
Tarif perbaikan yang dilakukan juga berdasar pada ukuran. Harganya dibanderol mulai dari Rp 300.000 hingga jutaan rupiah. Karena itu, Kampung Dinamo mampu menghasilkan omzet kurang lebih ratusan juta rupiah tiap bulannya.
Pelanggan yang datang beragam asalnya. Tidak hanya dari Surabaya, tetapi juga dari luar kota. Seperti yang ditemui detikJatim di lokasi, Amin Yoharin (47) pelanggan asal Menganti, Gresik.
"Ini memperbaiki freezer kapasitas besar. Punya customer dari Trenggalek. Kan di sana banyak tempat pembekuan ikan. Saya sudah 10 tahun lebih langganan di sini. Saya teknisi yang merawat mesin-mesin mereka (customer). Baru dibawa ke sini kalau ada trouble khususnya dinamonya," urai Amin.
Hingga kini, aktivitas di Kampung Dinamo masih ramai. Warga menyebut, banyak pelanggan lebih memilih memperbaiki dibanding membeli baru karena dinilai lebih hemat dan kualitas dinamo lama terbilang lebih awet.
"Masih sangat ramai. Karena orang yakin ya selain harganya lebih murah dibanding pabrikan ya. Kualitas juga nggak mau kalah," jelas Purnomo.
"Masih banyak yang reparasi. Karena yang (dinamo) baru-baru semua dari aluminium. Orang tetap kembali ke tembaga, yang kualitas dulu. Karena mesin-mesin zaman sekarang nggak bisa tahan lama seperti yang dulu. Dulu kan bisa bertahan 15-20 tahun. Nah sekarang 2-3 tahun sudah rusak," imbuhnya.
Keahlian yang terus diwariskan berhasil menjaga nafas Kampung Dinamo. Kini usaha perbaikan dinamo di kampung tersebut bahkan telah memasuki generasi ketiga.
(auh/hil)

