- Aktivitas Gunung Semeru dan Kondisi Terbarunya
- Jejak Sejarah Letusan Gunung Semeru 1. Awal Aktivitas (1818-1940-an) 2. Fase Intensif (1945-1989) 3. Aktivitas Berulang (1990-2008) 4. Fase Erupsi Intensif Modern (2014-2017) 5. Erupsi Besar dan Dampaknya (2021-2022) 6. Aktivitas Terkini (2024-2026)
- Mengapa Gunung Semeru Sering Meletus?
Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada awal April 2026 dengan kolom abu mencapai lebih dari 1.000 meter, dan awan panas yang meluncur hingga beberapa kilometer.
Peristiwa ini mengingatkan bahwa Semeru bukan hanya gunung tertinggi di Pulau Jawa, tapi juga salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsi Semeru sudah tercatat sejak abad ke-19, dan berlangsung secara berulang hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas Gunung Semeru dan Kondisi Terbarunya
Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur dikenal sebagai gunung api aktif dengan karakter erupsi yang cenderung berulang. Aktivitas vulkaniknya sudah tercatat sejak tahun 1818, meskipun dokumentasi awal masih terbatas.
Menurut data dari BNPB dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Semeru termasuk tipe gunung api dengan aktivitas kontinu. Artinya, letusan kecil hingga sedang bisa terjadi secara berkala sebagai bagian dari siklus alaminya.
Memasuki April 2026, aktivitas Gunung Semeru kembali meningkat. Tercatat beberapa kali letusan pada 6 April 2026, dengan tinggi kolom abu berkisar antara 300 meter hingga 1.100 meter.
Status Gunung Semeru Level III (Siaga), bahkan sempat mendekati Level IV (Awas). Otoritas terkait mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5-13 kilometer, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, yang berpotensi dilalui material vulkanik.
Jejak Sejarah Letusan Gunung Semeru
Aktivitas vulkaniknya yang cenderung fluktuatif, mulai dari erupsi kecil hingga besar, menjadikan Semeru sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Catatan letusan tersebut tidak hanya penting bagi dunia kebencanaan, tetapi juga menjadi pengingat akan dinamika alam yang terus berlangsung hingga kini.
1. Awal Aktivitas (1818-1940-an)
Catatan letusan Gunung Semeru sudah ada sejak tahun 1818, meskipun belum terdokumentasi secara detail. Aktivitas yang lebih jelas mulai terlihat pada awal abad ke-20.
Salah satu fase penting terjadi pada periode 1941-1942. Berdasarkan data PVMBG, terjadi aliran lava sejak 21 September 1941 hingga Februari 1942, yang mencapai lereng timur, dan bahkan menimbun Pos Pengairan Bantengan.
2. Fase Intensif (1945-1989)
Setelah itu, aktivitas vulkanik Semeru berlangsung cukup intens antara tahun 1945 hingga 1960. Gunung ini sempat relatif tenang, sebelum kembali menunjukkan aktivitas besar pada 1977.
Erupsi tahun 1977 menjadi salah satu yang signifikan, di mana guguran lava memicu awan panas dengan jangkauan hingga 10 kilometer ke arah Besuk Kembar.
Material vulkanik yang dihasilkan mencapai jutaan meter kubik, dan menyebabkan kerusakan pada permukiman, jembatan, serta lahan pertanian. Aktivitas ini kemudian berlanjut dalam periode panjang hingga akhir 1980-an.
3. Aktivitas Berulang (1990-2008)
Memasuki era 1990-an hingga awal 2000-an, aktivitas Gunung Semeru masih terus tercatat, meskipun cenderung dalam skala lebih kecil, namun berulang.
Pada Mei 2008, terjadi beberapa kali erupsi yang menghasilkan guguran awan panas hingga jarak sekitar 2,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan.
Hal ini menegaskan bahwa Gunung Semeru tetap aktif dan berpotensi erupsi sewaktu-waktu di masa depan.
4. Fase Erupsi Intensif Modern (2014-2017)
Dalam periode 2014-2017, aktivitas Gunung Semeru meningkat dengan frekuensi letusan yang cukup tinggi.
Berdasarkan laporan Volcano Discovery, erupsi Gunung Semeru dengan skala VEI 2-3 terjadi hampir setiap bulan.
Meskipun tidak selalu menimbulkan dampak besar, fase ini menunjukkan Semeru memiliki pola erupsi rutin sebagai bagian dari dinamika geologinya.
5. Erupsi Besar dan Dampaknya (2021-2022)
Erupsi pada 4 Desember 2021 menjadi salah satu peristiwa paling berdampak dalam sejarah modern Semeru. Runtuhnya kubah lava akibat hujan deras memicu guguran awan panas hingga 4 kilometer ke arah Besuk Kobokan.
Peristiwa ini menyebabkan puluhan korban jiwa. Dilaporkan antara 57-69 orang luka-luka. Kejadian ini pun merusak pemukiman di wilayah Lumajang. Skala letusan diperkirakan mencapai VEI 3-4.
Setahun kemudian, pada Desember 2022, Semeru kembali mengalami erupsi besar. Awan panas meluncur hingga 19 kilometer dari kawah, memicu evakuasi besar-besaran. PVMBG saat itu menetapkan status Level IV (Awas), dan ribuan warga harus mengungsi demi keselamatan.
6. Aktivitas Terkini (2024-2026)
Memasuki 2024, aktivitas Gunung Semeru masih tergolong tinggi dengan pola erupsi yang berulang. Pada Maret 2024, PVMBG mencatat letusan dengan durasi sekitar 27 menit berdasarkan rekaman seismik, menandakan tekanan magma yang masih aktif di dalam tubuh gunung.
Menjelang akhir tahun, tepatnya 25 Desember 2024, Semeru kembali mengalami beberapa kali erupsi dalam rentang waktu sekitar 10 jam. Awan panas guguran teramati meluncur hingga 3 kilometer ke arah Besuk Kobokan, disertai kolom abu setinggi kurang lebih 1.500 meter.
Meski masih dalam radius aman, masyarakat di sekitar aliran sungai tetap diminta waspada terhadap potensi lahar hujan. Aktivitas ini berlanjut sepanjang 2025. Pada 9 Juli 2025, awan panas tercatat meluncur sekitar 4 kilometer ke sektor tenggara.
Intensitas meningkat pada 19 November 2025, ketika guguran awan panas mencapai jarak hingga 13 kilometer ke arah Besuk Kobokan dan Sungai Lengkong. Dampaknya cukup signifikan hingga menyebabkan penutupan jalur vital seperti Jembatan Gladak Perak dan mendorong peningkatan status gunung.
Memasuki awal April 2026, Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. Pada 6 April 2026, terjadi beberapa kali letusan dengan tinggi kolom abu berkisar antara 300 hingga 1.100 meter. Kondisi ini menegaskan, hingga 2026, Semeru masih dalam fase aktif dan berpotensi erupsi lanjutan sewaktu-waktu.
Mengapa Gunung Semeru Sering Meletus?
Semeru termasuk gunung api tipe stratovolcano dengan suplai magma yang relatif stabil. Hal ini membuatnya memiliki karakter erupsi yang berulang dalam skala kecil hingga menengah.
Dilansir dari detikNews, ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengungkapkan ada tiga hal yang menyebabkan sebuah gunung api sering meletus. Faktor tersebut meliputi:
- Volume di dapur magmanya sudah penuh
- Ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma
- Ada longsoran di atas dapur magma.
Mirzam mengungkapkan Gunung Semeru mengalami erupsi karena faktor yang ketiga, yaitu adanya longsoran di atas dapur magma. Walaupun hanya ada sedikit material vulkanik yang berada di dalam dapur magma, Gunung Semeru tetap bisa erupsi.
(irb/hil)