Sekolah Kartini adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia. Lahir dari gagasan Raden Ajeng (RA) Kartini, sekolah ini adalah bentuk nyata perjuangan Kartini mengejar kesetaraan akses pendidikan untuk perempuan di masa kolonial.
Menariknya, meski sempat diragukan akan berhenti setelah Kartini menikah, justru perjuangannya semakin berkembang. Yuk, lihat bagaimana sejarah dan perkembangannya, detikers. Latar belakang berdirinya Sekolah Kartini dirangkum dari buku berjudul "Sisi Lain Kartini", karya Djoko Marihandono, dkk.
Sejarah Sekolah Kartini
Sejarah Sekolah Kartini bermula pada awal abad ke-20, ketika gagasan pendidikan perempuan mulai mendapat perhatian. Pada 8 Agustus 1900, Kabupaten Jepara kedatangan J H Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan Kerajinan dan Agama Hindia Belanda. Ia datang membawa rencana pendirian sekolah untuk gadis-gadis bangsawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartini tidak tinggal diam. Ia menyampaikan pandangannya bahwa pendidikan perempuan sangat penting, bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga agar perempuan memiliki keterampilan dan tidak selamanya bergantung pada laki-laki.
Abendanon terkesan dengan keberanian dan cara Kartini melihat masalah. Ia kemudian mengundang keluarga Bupati Jepara ke Batavia untuk melakukan diskusi lebih lanjut.
Dalam perjalanannya ke Batavia, Kartini sempat berharap bisa bertemu pihak yang bisa membantunya mendapatkan beasiswa. Tapi, rencana itu tidak berjalan mulus. Kesempatan itu lewat begitu saja, nyaris tanpa sempat ia genggam.
Yang menarik, dari perjalanan itu justru muncul secercah harapan lain. J H Abendanon bersedia membantu jika Kartini ingin melanjutkan pendidikan, bahkan ke sekolah dokter.
Namun, lagi-lagi realita berbicara lain. Ayahnya, R M Sosroningrat, tidak mengizinkan. Alasannya karena sekolah itu didominasi laki-laki, dan itu dianggap tidak pantas. Namun, kali ini Kartini akhirnya diizinkan menjadi guru.
Diskusi-diskusi antara Kartini, ayahnya, dan J H Abendanon akhirnya mengarah pada satu gagasan besar bahwa pendidikan untuk perempuan di Jawa adalah kebutuhan nyata. Dari sinilah terbitlah surat edaran resmi, di mana para bupati diminta memberikan pendapat tentang rencana pendirian sekolah untuk perempuan.
Setahun kemudian, pada 1901, Ratu Wilhelmina mengumumkan kebijakan Politik Etis yang mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat jajahan, termasuk dalam bidang pendidikan. Kebijakan ini menjadi titik penting yang membuka peluang lebih luas bagi terwujudnya sekolah perempuan, termasuk Sekolah Kartini.
Dari sinilah muncul langkah konkret. Pemerintah mulai meminta pendapat para bupati terkait rencana pendirian sekolah perempuan, yang kemudian menjadi awal dari berdirinya Sekolah Kartini.
Awal Mula Gagasan Pendidikan Perempuan
Gagasan pendidikan perempuan yang diperjuangkan RA Kartini tidak muncul secara tiba-tiba. Semua bermula ketika Kartini kecil diberi kesempatan untuk bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) pada 1885.
ELS merupakan sekolah khusus anak-anak bangsa Eropa dan Belanda Indo. Anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS hanya anak pejabat tinggi pemerintah.
Di sana, ia belajar bahasa Belanda dan mulai melihat dunia yang jauh lebih luas. Kartini dikenal sebagai murid yang cerdas, periang, dan mudah bergaul. Bahkan, banyak teman Eropa-nyayang menyukainya karena kepribadiannya yang luwes.
Namun, pengalaman itu tidak selalu indah. Kartini juga menyaksikan bagaimana murid pribumi sering dipandang rendah. Alih-alih patah semangat, justru di situlah muncul tekadnya. Ia bercita-cita bahwa pendidikan harus bisa diakses semua perempuan, bukan hanya segelintir orang.
Di sekolah, Kartini bersahabat dengan Letsy Detmar, seorang anak kepala sekolah. Persahabatan dengan Letsy inilah yang menyadarkan Kartini akan pentingnya terus belajar dan memiliki cita-cita.
Lalu, datang fase yang paling berat dalam hidup Kartini, yaitu masa pingitan. Hari-harinya berubah drastis. Bayangkan saja, dari seorang gadis yang aktif dan bebas belajar, tiba-tiba harus tinggal di rumah dan terisolasi.
Tidak ada yang benar-benar mendukungnya. Bahkan, keluarganya pun sering bersikap dingin terhadap pemikirannya. Di titik ini memang sangat mudah untuk menyerah. Sempat ada momen ketika Kartini mencoba menerima saja.
Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak diam, ia mulai sadar bahwa menangisi nasib tidak akan mengubah apa-apa. Kalau dunia luar tertutup, maka ia akan membuka dunia lain. Dunia itu adalah buku.
Di ruang pingitan itulah Kartini justru membaca lebih banyak dari sebelumnya. Buku, surat, dan pemikiran dari berbagai penjuru dunia semuanya seperti menjadi teman barunya.
Inilah yang membuat pikirannya semakin kritis. Pingitan tidak memadamkan Kartini. Justru di sanalah, ia menjadi Kartini yang kita kenal hari ini.
Awal Berdirinya Sekolah Kartini di Jepara
Waktu itu, RA Kartini dan adiknya, Raden Adjeng Roekmini, sedang menunggu jawaban apakah mereka diizinkan untuk melanjutkan pendidikan di Batavia. Mereka sudah mengirim permohonan ke pemerintah.
Tapi, hari-hari berlalu tanpa kabar. Kartini akhirnya berhenti menunggu dan memutuskan untuk membuka jalannya sendiri.
Juni 1903, impian itu dimulai di Pendopo Kabupaten Jepara. Di situlah, Kartini membuka sekolah untuk anak-anak gadis. Tidak mewah karena suasananya sengaja dibuat seperti rumah.
Murid-murid sekolah umumnya anak-anak priyayi di kota Jepara, sehingga sekolah tidak perlu menyediakan penginapan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung empat hari dalam seminggu, dari Senin sampai Kamis. Murid belajar 4,5 jam setiap harinya, dimulai dari jam 08.00 sampai 12.30.
Anak-anak di sana bisa belajar membaca, menulis, menggambar. Mereka juga diajari sopan santun, memasak, dan membuat kerajinan. Kartini ingin mereka punya bekal hidup, bukan sekadar pengetahuan.
Meskipun pikiran dan tenaganya habis untuk mengurus sekolah Kartini, raut kebahagiaan senantiasa terpancar dari mukanya. Kartini bersyukur dirinya bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat.
Kartini Menikah, Pendidikan Tetap Berjalan
Pertengahan Juli 1903, di tengah semuanya, datang kabar tak terduga. Seorang utusan membawa surat lamaran dari Raden Adipati Djojo Adiningrat.
Ayah Kartini menyambut baik. Tapi ia tahu, keputusan tetap ada di tangan Kartini. Ia paham betul anaknya punya jalan pikirannya sendiri.
Kartini tidak langsung menjawab. Ia berpikir lama, akhirnya ia memberi syarat.
Jika lamaran itu diterima, ia tetap harus boleh mengajar. Tetap boleh membuka sekolah. Dan, terpenting gagasannya harus didukung. Lamaran itu akhirnya ia terima.
Menariknya, hidup seperti sedang bermain ironi kecil. Pada 24 Juli 1903, hanya berselang beberapa hari setelah keputusan itu, datang surat dari pemerintah kolonial.
Isinya izin bagi Kartini dan adiknya, Raden Adjeng Roekmini, untuk melanjutkan pendidikan ke Batavia. Bahkan, lengkap dengan beasiswa.
Kesempatan yang dulu ia tunggu-tunggu, akhirnya benar-benar datang. Tapi kali ini, Kartini tidak lagi mengejarnya. Ia sudah memilih jalannya sendiri.
Banyak orang mengira, setelah menikah semuanya akan berhenti. Ternyata tidak.
Setelah menikah dengan Raden Adipati Djojo Adiningrat, Kartini justru punya ruang lebih besar. Ia tetap mengajar, mengembangkan pendidikan untuk perempuan.
Sekolahnya terus berjalan. Murid semakin banyak. Kepercayaan masyarakat tumbuh.
Ia juga mulai membina para perajin ukir di Jepara. Karya mereka berkembang dan dikenal lebih luas.
Apa yang dilakukan Kartini tidak lagi hanya soal pendidikan untuk perempuan. Ia juga hidup untuk kehidupan masyarakat.
Wafatnya Kartini dan Warisan Pemikirannya
Hari-hari terakhir Kartini sebenarnya tidak dipenuhi kegelisahan seperti masa pingitannya dulu. Justru sebaliknya. Di Rembang, hidupnya terasa lebih lega.
Ia masih menulis, masih berpikir, masih berbagi gagasan. Sekolah untuk perempuan tetap berjalan, dan kali ini dengan dukungan penuh dari suaminya, Raden Adipati Djojo Adiningrat.
Kartini akhirnya punya ruang yang dulu selalu ia cari dan ia tidak lagi berjuang sendirian. Di tengah kesibukannya itu, satu fase baru datang dalam hidupnya.
Kartini mengandung. Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang putra, namanya Soesalit Djojoadhiningrat.
Momen itu tentu membawa kebahagiaan besar. Setelah semua perjuangan panjangnya, ia akhirnya sampai di titik menjadi ibu, sekaligus tetap menjadi sosok yang memperjuangkan perubahan.
Tapi, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah melahirkan, kondisi Kartini mulai menurun. Hingga akhirnya, pada 17 September 1904, Kartini mengembuskan napas terakhir di usianya yang baru 25 tahun.
Perkembangan Sekolah Kartini Setelah Wafat
Beberapa tahun setelah kepergian Kartini, gagasannya tentang pendidikan perempuan ternyata tidak ikut padam. Justru, api itu terus dijaga dan perlahan diperbesar oleh orang-orang yang percaya pada cita-citanya.
Pada tahun 1910, J H Abendanon bersama C Th Van Deventer mendirikan Yayasan Kartini di Belanda. Setelah berbagai persiapan dilakukan, diputuskan bahwa Sekolah Kartini akan kembali didirikan di tanah Jawa, dimulai dari Semarang.
Rencana ini digarap dengan cukup serius. Atas inisiatif Van Deventer, dibentuk panitia khusus untuk mempersiapkan pembukaan sekolah.
Dalam rapat tersebut, diputuskan bahwa Sekolah Kartini akan dibuka khusus untuk gadis bumiputera. Lokasinya direncanakan berada di Jalan Pedati, Semarang, lengkap dengan fasilitas asrama.
Beberapa tahun kemudian, perkembangan mulai terlihat. Pada Januari 1915, Sekolah Kartini juga berdiri di Batavia. Hebatnya, siswanya pun turut terlibat dalam pementasan drama Pomarius di Gedung Kesenian Batavia, yang diselenggarakan Tuan Veerhoff dan didukung Dana Semeroe.
Seiring waktu, sistem pendidikan di Sekolah Kartini juga terus berkembang. Pada 1918, dalam sebuah rapat besar para pengurus, diputuskan bahwa proses belajar mengajar mulai menggunakan bahasa daerah masing-masing. Selain itu, pelajaran keterampilan seperti kerajinan tangan juga mulai diperkenalkan sebagai bagian penting dari pendidikan.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Setelah berdirinya HIS di Jepara, Sekolah Kartini di daerah tersebut mulai meredup dan akhirnya ditutup. Meski begitu, keberadaannya tetap meninggalkan kesan bagi kalangan cendekiawan Jawa. Jepara pun tetap dikenang sebagai tempat lahirnya Kartini, yang pemikirannya terus hidup melalui surat-suratnya.
Surat-surat Kartini sendiri mulai diterbitkan pada tahun 1911, dan mendapat banyak perhatian, bahkan dari kalangan Eropa. Pemikirannya dianggap penting dan memberi perspektif baru tentang perempuan, pendidikan, dan kebebasan berpikir.
Perkembangan Sekolah Kartini berlanjut hingga ke berbagai kota. Dalam rapat tahunan Yayasan Dana Kartini pada 9 Desember 1921 di s' Gravenhage, dilaporkan sekolah-sekolah Kartini telah berdiri di Semarang, Batavia, Buitenzorg (Bogor), Madiun, dan Malang.
Karena keterbatasan dana, beberapa rencana besar sempat tertunda. Salah satunya adalah pembangunan Sekolah Van Deventer di Semarang yang dilengkapi asrama. Sekolah ini awalnya dirancang untuk menjadi pusat pendidikan lanjutan bagi gadis bumiputera, termasuk pelatihan untuk menjadi guru taman kanak-kanak.
Meski begitu, upaya tetap berjalan. Pada 4 Juli 1921, sebuah kelas pendidikan guru taman kanak-kanak dibuka di kompleks Sekolah Kartini dengan jumlah awal sekitar 20 siswa. Untuk kebutuhan asrama, yayasan bahkan menyewa dua rumah di sekitar lokasi sekolah.
Sementara itu, Sekolah Kartini di Batavia juga terus berkembang. Pada 1923, muncul pembahasan di Solo tentang rencana pemerintah untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang fokus pada pendidikan rumah tangga.
Ide ini masih tergolong baru, sehingga masyarakat cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut. Namun, rencana serupa sudah lebih dulu diterapkan di Batavia sekitar sepuluh tahun sebelumnya.
Di sekolah-sekolah Kartini, para siswi juga dibekali berbagai keterampilan praktis. Mereka belajar memasak, menjahit untuk berbagai kebutuhan, hingga membatik.
Selain itu, diajarkan pula keterampilan rumah tangga seperti merawat bangunan dan perabotan, berkebun, hingga pengetahuan dasar kesehatan seperti membalut luka dan pertolongan pertama. Bahkan, mereka juga dikenalkan pada pembukuan sederhana untuk mengelola keuangan rumah tangga.
(irb/hil)
