Perjuangan Penjual Kopi di Ponorogo Nabung 12 Tahun demi Naik Haji

Perjuangan Penjual Kopi di Ponorogo Nabung 12 Tahun demi Naik Haji

Charolin Pebrianti - detikJatim
Sabtu, 11 Apr 2026 12:30 WIB
Wahyudi (61), warga Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman
Wahyudi, Penjual Kopi asal Ponorogo yang berhasil naik haji setelah menabung belasan tahun (Foto: Charolin Pebrianti/ detikjatim)
Ponorogo -

Perjalanan panjang dilalui pasangan penjual kopi asal Ponorogo untuk dapat menunaikan ibadah haji. Dengan tekad kuat serta disiplin menabung keduanya akhirnya berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Wahyudi (61), warga Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman mengaku telah lama berniat berhaji bersama sang istri. Meski hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan kopi mereka tetap konsisten menyisihkan uang setiap bulan.

"Ya, kami dengan istri saya betul-betul niat bulat. Nabung semampunya kita, ya agak ngoyo lah," ujar Wahyudi, Sabtu (11/4/2026)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, kebiasaan menabung sudah dilakukan jauh sebelum mendaftar haji. Setelah dana dirasa cukup untuk setoran awal, Wahyudi dan istrinya resmi mendaftar pada 10 Oktober 2012.

"Sebetulnya nabung terus, sekiranya cukup untuk daftar ya daftar. Terus kita nabung lagi untuk melunasi," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Wahyudi mengatakan, setiap bulan dirinya rutin menyisihkan sekitar Rp500 ribu dari hasil berjualan kopi. Dana tersebut dikumpulkan selama bertahun-tahun hingga akhirnya mencukupi untuk pelunasan biaya haji.

"Kalau per bulan Rp500 ribu, alhamdulillah sampai berangkat ini cukup," katanya.

Dia akhirnya menyebutkan bahwa kebiasaan menabung itu sudah dilakukan selama 10 hingga 12 tahun. Di tengah kebutuhan sehari-hari, ia tetap berupaya disiplin dalam menyisihkan penghasilan.

"Alhamdulillah selain kebutuhan sehari-hari kita masih bisa nabung, walaupun Rp500 ribu," tambahnya.

Wahyudi mengungkapkan usaha berjualan kopi telah digeluti sejak 2004. Awalnya ia berjualan secara sederhana, bahkan sempat menjajakan rujak buah sebelum akhirnya fokus pada usaha kopi.

"Mulai jualan kopi 2004. Dulu meja satu di sini, terus berkembang," ujarnya.

Selain dari hasil jualan kopi, tabungan haji juga berasal dari hasil panen sawah yang dikumpulkan setiap musim panen. Meski akhirnya dapat berangkat haji, Wahyudi mengaku sempat diliputi rasa khawatir, terutama terkait kondisi global saat ini.

"Perasaan was-was juga ada. Ya kita hanya berdoa saja. Apalagi usia juga sudah cukup tua, khawatir fisik," katanya.

Namun demikian, ia tetap bersyukur karena mendapat panggilan berangkat haji tahun ini.

"Alhamdulillah dari Kementerian Haji kita dapat panggilan. Kloter 19, nomor kami di tengah-tengah," jelasnya.

Wahyudi (61), warga Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan SimanWahyudi (61) menunjukkan perlengkapan haji (Foto: Charolin Pebrianti/ detikjatim)

Sementara itu, sang istri, Siti Setianawati (58), mengaku tidak menyangka perjuangan menabung dari hasil berjualan kopi dapat mengantarkannya ke Tanah Suci.

"Alhamdulillah, rasanya senang, tapi juga ada was-was dengan keadaan sekarang," ujarnya.

Ia menuturkan, kebiasaan menabung dilakukan dari sisa kebutuhan sehari-hari, termasuk dari uang belanja dan pembayaran rutin.

"Kita menabung sedikit demi sedikit, sisa belanja, sisa bayar listrik, kita sisihkan," katanya.

Menurut Siti, pada awalnya mereka hanya menyisihkan uang dalam jumlah kecil, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000. Namun, berkat konsistensi, uang tersebut akhirnya terkumpul untuk mendaftar haji.

"Dari yang Rp5.000, Rp10.000, alhamdulillah bisa terkumpul untuk daftar haji," ungkapnya.

Ia menambahkan, kunci utama keberhasilan mereka adalah hidup hemat dan konsisten dalam menabung.

"Harus bisa mengirit supaya bisa menabung dan terlaksana," pungkasnya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads