Upaya menangkal maraknya penipuan dan kejahatan keuangan terus digencarkan lewat edukasi generasi muda. Ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo mengikuti pelatihan literasi keuangan syariah yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH).
Kegiatan ini tak sekadar mengenalkan pengelolaan keuangan, tetapi juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan finansial. Mulai dari investasi bodong, pinjaman online ilegal, hingga penipuan digital yang kini kian menyasar kalangan muda, termasuk santri.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, mengatakan peningkatan literasi keuangan syariah menjadi langkah strategis untuk melindungi masyarakat dari risiko kejahatan finansial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Santri punya peran penting sebagai agen perubahan. Melalui program SAKINAH, kami berharap mereka tidak hanya paham keuangan syariah, tapi juga bisa menyebarkan edukasi ini ke masyarakat luas," kata Ismirani kepada detikJatim, Selasa (14/4/2026).
Dalam pemaparannya, OJK mengingatkan sejumlah ciri penipuan yang perlu diwaspadai. Di antaranya tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat tanpa risiko, penggunaan nama tokoh atau lembaga untuk meyakinkan korban, serta layanan pinjaman online ilegal yang menawarkan pencairan instan tanpa transparansi.
Selain itu, santri juga dibekali pemahaman terkait ancaman kejahatan siber, seperti pencurian data pribadi dan penyalahgunaan kode OTP. Edukasi ini dinilai penting agar santri tidak mudah terjebak dalam praktik keuangan ilegal.
OJK juga memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan peningkatan literasi keuangan syariah. Meski demikian, tingkat inklusi yang belum optimal masih menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan.
"Tantangan kita adalah menjadikan keuangan syariah sebagai pilihan utama masyarakat. Selain itu, akses yang belum merata dan inovasi produk yang belum sepenuhnya sesuai kebutuhan juga menjadi perhatian," jelas Ismirani.
Dalam pelatihan tersebut, santri dibekali kemampuan dasar pengelolaan keuangan, mulai dari menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga pentingnya menabung dan berinvestasi. Bekal ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan finansial sekaligus meminimalkan risiko menjadi korban penipuan.
OJK Kediri berharap para santri dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan literasi keuangan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kejahatan finansial.
"Kami ingin mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan keuangan," tambah Ismirani.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan pesantren memiliki peran strategis sebagai pilar pembentukan karakter generasi bangsa.
Ia menyebut Lirboyo sebagai salah satu pesantren besar dengan santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, seperti Malaysia dan Thailand. Tak sedikit pula alumninya melanjutkan studi ke Timur Tengah, seperti Mesir, Yaman, hingga Maroko.
"Pesantren ini menjadi bagian penting dalam menjaga fondasi bangsa. Santrinya datang dari berbagai daerah, bahkan luar negeri," ujarnya.
Menurutnya, di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, pesantren tetap menjadi benteng moral generasi muda.
"Di luar sana banyak generasi muda terpapar narkoba, miras, dan pergaulan bebas. Tapi di pesantren, khususnya Lirboyo, lingkungan tetap terjaga. Ini harapan bagi masa depan bangsa," pungkas KH Kafabihi Mahrus.
(auh/abq)