CATATAN: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau layanan darurat Healing 119. Anda tidak sendirian.
Suasana duka masih menyelimuti Jembatan Cangar setelah viral kasus bunuh diri seorang pemuda berinisial MMA. Bunga, rokok hingga makanan ditinggalkan oleh warga di lokasi MMA mengakhiri hidup sebagai bentuk ekspresi belasungkawa dan empati.
Kendati demikian, cara yang dilakukan warga tersebut menjadi persoalan bagi pihak Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Surjo. Pasalnya, makanan berupa sayur hingga jajanan cilok yang ditinggalkan warga di Jembatan Cangar menimbulkan sampah dan berisiko memancing kedatangan hewan liar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan dan Pemanfaatan Tahura Raden Surjo, Daryanto mengatakan bahwa pihaknya menghormati niat dari warga untuk memberikan empati. Namun, lebih baik ekspresi belasungkawa bisa dilakukan dengan cara lain, bukan menaruh makanan.
Daryanto menekankan bahwa masalah utama bukan sekadar sampah visual, melainkan dampak biologis terhadap satwa di kawasan Tahura. Sisa makanan atau sesajen yang diletakkan di jembatan dapat mengubah perilaku alami hewan.
Ia mengkhawatirkan adanya ketergantungan satwa terhadap makanan yang ditaruh manusia. Hal ini berpotensi memicu konflik antara hewan dan manusia di area jembatan.
"Itu pasti jadi ketergantungan. Hewan-hewan ini kita liarkan supaya mereka bisa mendapatkan makanan alami. Kalau mereka terbiasa menemukan makanan di jalan, ini akan mengurangi insting mereka untuk bertahan hidup di alam," ungkap Daryanto saat ditemui awak media, Rabu (5/4/2026).
Oleh karena itu, pihak Tahura Raden Suryo memutuskan untuk melakukan pembersihan barang-barang yang ditinggalkan oleh warga di Jembatan Cangar tersebut. Namun, masih saja ada warga yang tetap meletakkan kembali rokok, bunga hingga makanan.
"Tujuannya jelas ya, kita menjaga kebersihan lingkungan, apalagi ini objek wisata alam. Target kita sebenarnya zero sampah. Begitu ada sampah seperti itu, teman-teman petugas pasti akan membersihkan," katanya.
Selain masalah tersebut, pihak Tahura Raden Soerjo juga menyoroti banyaknya pengendara yang nekat berhenti di atas jembatan untuk sekadar berfoto atau melihat lokasi bunuh diri. Padahal, rambu larangan berhenti sudah terpasang jelas.
"Sebenarnya dilarang berhenti di jembatan. Namanya manusia banyak, ya bagaimana lagi. Kadang sudah dikasih tahu, mereka masih begitu. Papan imbauan larangan pun sudah ada di sana," tambahnya.
(auh/hil)
